Kasus Dugaan Pungli di SMAN 9 Kota Tangerang Viral, Begini Pengakuan Orang Tua Siswa yang Diminta Bayar Rp11 Juta Saat PPDB

Begini pengakuan dari orang tua siswa SMAN 9 Kota Tangerang terkait dugaan pungli yang diminta oknum guru.
Begini pengakuan dari orang tua siswa SMAN 9 Kota Tangerang terkait dugaan pungli yang diminta oknum guru. Source: Foto/ilustrasi/Unsplash

Tangerang, gemasulawesi - Kasus dugaan pungutan liar (pungli) di SMAN 9 Kota Tangerang telah menghebohkan publik setelah munculnya pengakuan mengejutkan dari orang tua siswa. 

Mereka mengklaim diminta membayar uang sebesar Rp11 juta oleh seorang guru di SMAN 9 Kota Tangerang untuk mempermudah proses penerimaan anak mereka di sekolah tersebut.

Salah satu orang tua siswa di SMAN 9 Kota Tangerang tersebut membagikan pengalamannya mengenai praktik pungli ini. 

Ia mengaku menerima tawaran dari DFS, seorang guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS), yang menjanjikan jalur belakang dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). 

Baca Juga:
Gerak Cepat Usut Kasus Penganiayaan Balita di Depok, Polisi Tangkap Pemilik Daycare dan Menetapkannya Sebagai Tersangka

"Kami sangat terkejut dan merasa tertekan ketika DFS meminta uang sebesar Rp11 juta. Dia mengatakan uang tersebut akan mempercepat proses penerimaan anak kami, meskipun anak kami memiliki prestasi akademik yang baik," ujar orang tua tersebut.

Kronologi pengakuan ini berawal ketika DFS menghubungi beberapa orang tua siswa dengan tawaran untuk membayar uang pelicin agar anak-anak mereka diterima di SMAN 9. 

“DFS menjelaskan bahwa pembayaran tersebut akan menjamin anak kami mendapatkan tempat di sekolah, bahkan jika ada jalur khusus yang tidak kami ketahui,” tambah orang tua siswa lainnya.

Pengakuan ini juga dibenarkan oleh saksi yang menyatakan bahwa DFS memang mengarahkan orang tua siswa untuk membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kemudahan dalam proses penerimaan. 

Baca Juga:
Geram! Protes Dugaan Pungli Buku Pelajaran di Sejumlah Sekolah hingga Rp600 Ribu per Anak, Orang Tua Siswa Geruduk Balai Kota Samarinda

“DFS menawarkan jalan pintas dan mengklaim bahwa tanpa uang tersebut, anak-anak kami akan kesulitan untuk diterima, meskipun memiliki nilai akademik yang baik,” kata saksi tersebut.

Lebih lanjut, para orang tua juga melaporkan adanya ketidaksesuaian antara nilai yang terdaftar dalam sistem PPDB dengan data pendaftaran ulang. 

“Kami menemukan bahwa nilai di sistem PPDB tidak sesuai dengan hasil pendaftaran ulang, yang menunjukkan adanya manipulasi data,” ujar salah satu orang tua siswa.

Kasus ini telah menimbulkan kecaman luas di media sosial usai diunggah di akun Instagram @infotangerang.id, dengan banyak netizen yang menuntut tindakan tegas terhadap praktik pungli tersebut.

Baca Juga:
Keindahan Tersembunyi dari Air Terjun Coban Jodo Malang, Destinasi Romantis dan Petualangan Seru di Tengah Alam

"Usut tuntas semuanya, karena bukan SMA aja kali, SD aja juga pasti adaaa," komentar akun @lil***.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak sekolah mengenai dugaan pungli ini. 

Keberadaan kasus ini menyoroti pentingnya reformasi dalam proses penerimaan siswa dan penegakan hukum yang tegas untuk memastikan bahwa praktik-praktik tidak etis seperti pungli dapat dihindari di masa depan. 

Upaya pencegahan pungli harus menjadi prioritas agar kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan tetap terjaga. (*/Shofia)

...

Artikel Terkait

wave
Geram! Protes Dugaan Pungli Buku Pelajaran di Sejumlah Sekolah hingga Rp600 Ribu per Anak, Orang Tua Siswa Geruduk Balai Kota Samarinda

Orang tua siswa di Samarinda memprotes dugaan adanya pungli di sejumlah sekolah terkait pembelian buku pelajaran, yang sangat memberatkan.

Ramai Diperbincangkan! Kasus Dugaan Pungli di SMAN 9 Kota Tangerang Mencuat, Orang Tua Siswa Diminta Bayar Rp11 Juta, Begini Kronologinya

Viral berita dugaan pungli atau pungutan liar kepada orang tua murid saat proses PPDB di SMAN 9 Kota Tangerang.

Viral Penangkapan Preman yang Kerap Lakukan Pungli di Kawasan Terminal Tanjung Priok Jakarta Utara, Ini Hasil Pemeriksaan Polisi

Seorang preman berinisial B akhirnya berhasil ditangkap lantaran sering melakukan pungli di kawasan Tanjung Priok.

Sempat Cekcok dengan Warga dan Wali Murid, Kepala Desa Menganti Buka Suara Terkait Dugaan Pungli di SDN 1 Jatimulyo Kebumen

Supono, anggota Pemuda Pancasila yang juga Kades Menganti yang viral akhirnya beri klarifikasi terkait ulahnya perihal Pungli.

Orang Tua Siswa yang Sempat Cekcok dengan Kades Menganti Usai Laporkan Dugaan Pungli di SD Negeri 1 Jatimulyo Kebumen Berujung Minta Maaf

Orang tua siswa yang melaporkan dugaan pungli di SD Negeri 1 Jatimulyo hingga diintimidasi oknum kepala desa kini minta maaf, ada apa?

Berita Terkini

wave

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.

Tebalnya Tembok "Imunitas" Tambang Ilegal Buranga: Mengapa Hukum Tak Berdaya Dihadapan Reni?

Polres Parigi Moutong dinilai tak bertaring dihadapan Reni salah satu tokoh sentral dibalik beroperasinya tambang ilegal di Desa Buranga.

Diduga Kebal Hukum, Kelompok Haji Anjas, Mustari dan Ahmad Geser Operasi Tambang Ilegal ke Desa Buranga

Dugaan kebal hukum pengelola PETI di Desa Buranga mencuat, seolah tidak perduli hukum aktifitas tambang ilegal Buranga tetap beroperasi.

Maut Mengintai di Buranga: Mengapa Tambang Ilegal di Depan Mata Polres Parigi Moutong Seolah Tak Tersentuh?

Bahaya di PETI Buranga berpotensi sama dengan Tambang ilegal yang berada di gunung Nasalena. Ancaman maut reruntuhan material mengintai.

Maut di Lubang Emas Lobu: Menagih Tanggung Jawab Pengelola PETI atas Tewasnya Penambang

Emas berdarah Parigi moutong kembali telan korban jiwa, kali ini PETI berlokasi di Desa Lobu Kecamatan Moutong yang kena giliran.


See All
; ;