Pemindahan Tahanan Makar Picu Ketegangan di Sorong, Polisi Kerahkan Ratusan Personel

Polisi terlihat menghalau aksi anarkis yang terjadi di Jalan Burung Merpati, tepat di kawasan kompleks kantor pemerintahan Sorong.
Polisi terlihat menghalau aksi anarkis yang terjadi di Jalan Burung Merpati, tepat di kawasan kompleks kantor pemerintahan Sorong. Source: (Foto/ANTARA)

Daerah, gemasulawesi - Pihak Kepolisian Daerah Papua Barat Daya telah mengerahkan ratusan personel untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Sorong.

Langkah ini diambil sebagai respons atas sejumlah aksi pemblokiran jalan yang terjadi di beberapa lokasi di kota tersebut.

Pemicu dari aksi-aksi tersebut adalah pemindahan empat orang tahanan kasus dugaan makar dari Sorong ke Makassar.

Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol. Gatot Haribowo, memberikan keterangan di Sorong pada hari Rabu.

Baca Juga:
Perluasan Penempatan PMI ke Jepang Fokus pada Sektor Perawatan Lansia dan Keperawatan

Ia menyebutkan bahwa situasi di Kota Sorong sempat memanas pada Rabu dini hari.

Ketegangan itu terjadi ketika pihak Kejaksaan Negeri Sorong melakukan pemindahan terhadap empat tahanan politik.

Keempatnya merupakan anggota dari kelompok Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB) dan dipindahkan ke Makassar karena tersangkut kasus dugaan makar.

“Keadaan sekarang sudah aman, dan kami fokus menjaga pengamanan terhadap empat tahanan yang akan dipindahkan ke Makassar,” katanya.

Baca Juga:
KLH Tegaskan Penutupan PT GRS Akibat Pelanggaran dan Pencemaran Lingkungan di Serang

Mereka juga mengerahkan ratusan personel ke berbagai lokasi strategis guna mencegah kemungkinan adanya aksi lanjutan dari kelompok pendukung.

Kelompok pendukung empat tahanan itu melakukan aksi penolakan terhadap pemindahan yang direncanakan.

Mereka sempat mencoba menghalangi proses pemindahan di depan gerbang Polresta Sorong Kota sekitar pukul 05.15 WIT.

Dalam unjuk rasa tersebut, massa membakar kayu serta ban bekas di lokasi.

Baca Juga:
Pengurangan TKD Dinilai Jadi Momentum Pemda Perkuat Kemandirian Fiskal

Selain itu, mereka juga berorasi dan menyuarakan tuntutan agar pemindahan para tahanan dibatalkan.

Ketegangan meningkat ketika petugas keamanan harus membubarkan massa yang tetap ngotot memblokir area di sekitar Mapolresta Sorong Kota.

Sekitar pukul 06.30 WIT, sebuah mobil tahanan milik Kejaksaan akhirnya bisa meninggalkan kawasan Mapolresta Sorong Kota.

Proses keluarnya kendaraan tersebut mendapat pengawalan ketat dari aparat, termasuk pengamanan menggunakan kendaraan taktis milik Brimob.

Baca Juga:
Prabowo Tegas Tegur Direksi BUMN yang Arogan dan Hapus Tantiem Komisaris

Mobil tahanan itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong.

Puluhan personel kepolisian bersama anggota TNI dikerahkan di Bandara DEO Sorong sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan keamanan.

Setibanya di bandara, tim dari Kejaksaan yang didampingi aparat Brimob langsung mengawal empat tahanan menuju ruang keberangkatan, sebelum akhirnya diterbangkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri setempat.

Empat orang tahanan yang dipindahkan itu berinisial AAG, NM, MS, dan PR, yang saat ini berstatus sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar yang berkaitan dengan aktivitas kelompok NFRPB.

Baca Juga:
BNN Dorong Kajian Mendalam Sebelum Larang Rokok Elektrik, Waspadai Zat Psikoaktif dalam Vape

Beberapa titik di Kota Sorong yang masih terpantau panas antara lain Jalan Baru, area kantor Wali Kota dan Gubernur, serta Jalan Ahmad Yani, tepatnya di kawasan Yohan.

Meski situasi belum sepenuhnya kondusif, kepolisian tetap disiagakan di lokasi-lokasi tersebut untuk mencegah munculnya gangguan lanjutan.

Dalam aksi tersebut, massa juga merusak sejumlah fasilitas pemerintah, termasuk memecahkan kaca gedung Kantor Gubernur, Kantor Wali Kota Sorong, dan merusak rumah dinas Gubernur Papua Barat Daya.

“Kami sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut dan identitas para pelaku sudah kami kantongi. Penangkapan akan segera dilakukan,” ungkapnya. (ANTARA)

...

Artikel Terkait

wave

Dinkes Kalsel Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Sekolah, Libatkan 242 Puskesmas

Dinas Kesehatan Kalsel adakan layanan cek kesehatan gratis di sekolah, targetkan deteksi dini penyakit lewat pemeriksaan tahunan.

Karhutla Aceh Selatan Meluas, Pemadaman Lewat Udara Dikerahkan

BPBA dan BNPB lakukan pemadaman udara atas karhutla di Aceh Selatan yang telah meluas hingga 77 hektare sejak 19 Agustus.

Menkes Percepat Imunisasi Campak untuk 80 Ribu Anak di Sumenep

Menkes Budi Sadikin dorong vaksinasi massal campak di Sumenep, dukung antisipasi penularan cepat dengan vaksin efektif dan pengawasan ketat.

Dinkes dan BPOM Mataram Awasi Program Makan Bergizi Gratis untuk Pastikan Keamanan dan Kualitas

Dinkes dan BPOM Mataram pantau program MBG untuk menjamin makanan aman, bergizi, dan cegah risiko kesehatan siswa.

KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Gubernur Kalbar dalam Kasus Korupsi Proyek PUPR Mempawah

KPK terus menyelidiki peran Gubernur Kalbar terkait dugaan korupsi di Dinas PUPR Kabupaten Mempawah.

Berita Terkini

wave

Hening di Balik Bukit: Berakhirnya Era Yunus di Tambang Tombi

Operasi tambang yang digawangi Yunus akhirnya berhenti, saat ini dikabarkan pelaku tambang satu ini sudah pulang ke kampung halamannya.

Sajian Baru untuk Penggila Genre Laga Horor, Inilah Sinopsis Film They Will Kill You, Dibintangi Zazie Beets dari Deadpool 2

Zazie Beetz membintangi film laga horor They Will Kill You, yang menyajikan kisah menakutkan yang penuh dengan aksi yang mendebarkan

Inilah Sinopsis Film Greenland 2: Migration, Perjalanan yang Berbahaya setelah Bencana yang Mengakhiri Peradaban

Sekuel film Greenland, berjudul Greenland 2: Migration, akan tiba awal 2026 nanti, menceritakan kisah kehidupan setelah bencana

Membisu di Balik Deru Alat Berat: Teka-teki Bungkamnya Polres Parigi Moutong dalam Pusaran Tambang Ilegal Buranga

Kinerja Polres Parigi moutong tampaknya perlu dievaluasi berkaitan dengan keberadaan tambang ilegal buranga yang dinilai tak tersentuh hukum

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.


See All
; ;