Kupas Tuntas, gemasulawesi - Lionsgate ingin memulai tahun 2026 tidak hanya dengan film laga Gerard Butler di bulan Januari, tetapi juga film lain yang terlihat sangat menjanjikan, yaitu Greenland 2: Migration yang dalam pengerjaan.
Cerita yang berfokus menjelajahi dunia setelah kehancuran lebih umum terjadi pada film bencana buatan manusia, seperti virus atau dampak nuklir.
Namun, cerita tentang kehidupan setelah bencana alam, seperti yang dieksplorasi dalam film ini, kurang umum.
Untuk itu, film ini sudah mendapatkan poin bonus karena menangani sesuatu yang biasanya tidak kita lihat dalam genre film bencana.
Trailer kedua baru-baru ini dirilis, dan yang ini memperlihatkan lebih banyak cuplikan, termasuk keberadaan lebih banyak penyintas di luar bunker.
Greenland 2: Migration disutradarai oleh Ric Roman Waugh, serta ditulis oleh Mitchell LaFortune dan Chris Sparling.
Film ini diproduseri oleh Basil Iwanyk, Erica Lee, Gerard Butler, Alan Siegel, Sébastien Raybaud, John Zois, Brendon Boyea, dan Ric Roman Waugh.
Film ini juga dibintangi oleh Gerard Butler, Morena Baccarin, Roman Griffin Davis, Amber Rose Revah, Sophie Thompson, Trond Fausa Aurvåg, dan William Abadie.
Greenland 2: Migration akan dirilis pada 9 Januari 2026.
Film pertamanya, Greenland dirilis selama beberapa bulan pada tahun 2020.
Sekuelnya, yang akhirnya diberi judul Greenland 2: Migration, secara resmi disetujui pada Juni 2021.
Sinopsis Greenland 2: Migration:
Beberapa tahun etelah serangan komet Isys yang menghancurkan sebagian besar bumi, keluarga Garrity (Gerard Butler, Morena Baccarin, dan Roman Griffith Davis) menemui masalah baru.
Mereka terpaksa meninggalkan tempat perlindungan mereka di bunker bawah tanah di Greenland untuk menjelajahi dunia yang hancur dalam mencari rumah baru.
Karena sumber daya di dalam bunker mulai menipis, mereka harus memimpin para penyintas melintasi sisa benua Eropa.
Meskipun mereka kembali menghirup udara luar, dunia mereka telah berubah menjadi gurun es yang tandus dan berbahaya.
Misi mereka adalah mencari pemukiman yang disebut “New Hope”, yang katanya memiliki lingkungan yang cukup stabil untuk kembali memulai peradaban.
Namun, mereka harus melalui berbagai hambatan dalam perjalanan, bukan hanya kondisi lingkungan yang ekstrem, tapi juga manusia lain yang akan melakukan apa pun demi bertahan hidup. (*/Armyanti)