Wilayah Sulawesi Tengah, Salah Satu Destinasi Wisata Populer Indonesia

Provinsi Sulawesi Tengah, Salah Satu Destinasi Wisata Populer Indonesia

Wilayah Sulawesi Tengah, Salah Satu Destinasi Wisata Populer Indonesia

Wilayah Sulawesi Tengah adalah sebuah wilayah di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia.

Wilayah Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi.

Ibu kota Wilayah Sulawesi Tengah adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduk sebanyak 2.985.734 jiwa (2020).

Lima Destinasi Liburan di Sulawesi Tengah yang Paling Populer

Destinasi wisata di Wilayah Sulawesi Tengah juga tak kalah menarik. Kata mereka telah dikenal di kalangan wisatawan asing karena pesona alamnya.

Wilayah Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang dilalui garis khatulistiwa. Sehingga banyak sekali destinasi wisata yang bertema alam.

Beribukota Palu yang terkenal sebagai kota teluk, banyak wisata pantai yang tersebar di Wilayah Sulawesi Tengah.

Tak hanya pantai, pelancong juga bisa menikmati wisata alam pegunungan hingga bawah laut di Wilayah Sulawesi Tengah.

Baca juga: 12 Objek Wisata yang Memukau di Sulawesi Tengah

Berikut destinasi wisata di Wilayah Sulawesi Tengah pilihan gemasulawesi.com:

  1. Tugu Perdamaian / Monumen Nosarara Nosabatutu

Tugu perdamaian ‘Nosarara Nosabatutu’ wajib kamu kunjungi saat wisata ke Kota Palu, Wilayah Sulawesi Tengah.

Berdiri di atas lahan seluas 800 meter persegi, tempat ini sangat cocok bagi kamu untuk melihat hamparan Kota Palu, Wilayah Sulawesi Tengah.

Dari tempat ini kamu bisa melihat mutiara di garis Khatulistiwa, Wilayah Sulawesi Tengah, kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk.

Kata Nosarara Nosabatutu sendiri merupakan semboyan dari Suku Kaili, Wilayah Sulawesi Tengah, yang berarti bersaudara dan bersatu.

Tepat di samping monumen Tugu Perdamaian, Wilayah Sulawesi Tengah, terdapat Gong Nusantara berada berdiameter dua meter dengan berat 180 kilogram, yang menggambarkan simbol keagamaan, bendera-bendera bangsa, serta lambang daerah atau kota.

Saking banyaknya wisatawan yang datang ketempat yang sangat instagramable ini, pemerintah Wilayah Sulawesi Tengah akan menambah berbagai fasilitas publik dan objek wisata lain di area tempat ini.

Baca juga: Lima Kabupaten di Sulawesi Tengah Masuk Zona Merah Covid 19

  1. Pusentasi

Pusentasi merupakan wisata di Wilayah Sulawesi Tengah yang terbilang unik dan sedang hits.

Pusentasi berasal dari bahasa Kaili yang berarti pusar air laut atau air sumur laut. Pusar air laut adalah sebuah gua yang masih terhubung dengan laut beberapa saluran yang tersembunyi di Wilayah Sulawesi Tengah.

Sesuai namanya, tempat wisata di Wilayah Sulawesi Tengah ini memang berbentuk sumur alami raksasa berisi air laut jernih dan dikelilingi batu karang.

Pelancong ke Pusentasi Wilayah Sulawesi Tengah, sumur air laut ini terletak di daratan tapi airnya terasa asin dan jernih, sehingga kamu dapat melihat ikan-ikan berenang di dalamnya ataupun berenang sendiri ke dalam.

  1. Cagar Alam Morowali

Morowali adalah kawasan cagar alam dengan berbagai tipe ekosistem; dari hutan pantai sampai hutan pegunungan, dengan nilai pelestarian tinggi. Taman Nasional ini merupakan rumah bagi masyarakat tradisional suku Wana dan juga berbagai hewan endemik seperti Anoa, Burung Maleo, Babi Rusa, dan fauna lainnya.

Di sini, kamu akan berwisata ke hutan perawan, desa yang masih asri, dan hamparan padang rumput dengan danau-danau kecil di sekujurnya. Kamu bisa juga masuk ke dalam kelebatan hutan untuk menyaksikan spesies burung dan satwa lain di habitat aslinya. Bagi kamu yang suka berpetualang, jangan melewatkan Cagar Alam Morowali hanya sehari, kalau bisa lebih ya!

Baca juga: Gubernur Sebut Potensi Pertanian Sangat Besar di Sulawesi Tengah

  1. Museum Wilayah Sulawesi Tengah

Ingin mengetahui lebih banyak mengenai kota Palu dan Sulawesi Tengah? Jika ya, jangan lewatkan objek wisata kota Palu satu ini. Museum Sulawesi Tengah ini mempunyai koleksi dari benda-benda geologi, biologi, etnografi, arkeologi, histori, numismatic, filologi, keramik seni rupa, dan teknologi modern.

Selain itu museum ini juga mempunyai koleksi lain yang menjadi daya tarik bagi orang-orang yang berkunjung, yaitu sebuah Al-Qur’an kuno raksasa berumur ratusan tahun yang ditulis dengan tangan dan benda-benda peninggalan dari masa kolonial dulu seperti berbagai macam senjata; keris dan meriam. Buat kamu yang suka hal-hal berbau sejarah dan budaya, jangan lewatkan liburanmu untuk mampir di museum ini.

  1. Sou Raja

Sou Raja atau Banua Oge merupakan rumah raja yang dulunya memerintah secara lokal di daerah sulawesi tengah, sehingga bisa disebut sebagai Istana Raja Palu. Sejak didirikan pada akhir abad ke XIX, bangunan ini ditempati oleh raja-raja Palu dan keluarganya silih berganti dengan kepemilikan turun temurun.

Corak bangunannya merupakan hasil alkuturasi beberapa kebudayaan Palu saat itu. Bangunan ini terakhir ditempati oleh Raja terakhir bernama Raja Palu Tjatjo Idjazah. Setelah itu bangunan ini diinventarisasi pemerintah dan dilakukan pemugaran. Berwisata ke Souraja bisa menjadi pilihan yang tepat bagi kamu yang gemar mengunjungi wisata sejarah.

Namun, pelancong sebaiknya juga mengetahui kondisi geografi di Wilayah Sulawesi Tengah.

Geografi

Wilayah Wilayah Sulawesi Tengah bagian utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, bagian tenggara berbatasan dengan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Iklim

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatra, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.

Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22′ Celsius.

Flora dan Fauna

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, di mana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin.

Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan objek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Bahasa

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Sulawesi Tengah adalah bahasa Indonesia. Hingga 2019, Badan Bahasa mencatat ada 21 bahasa daerah yang dipertuturkan di Sulawesi Tengah.[16] Kedua puluh satu bahasa tersebut adalah:

Bahasa Bada, terdiri dari 2 dialek, yaitu dialek Napu dan dialek Bada Tiara. Bahasa Bada dituturkan di Kabupaten Poso yaitu dialek Napu, sedangkan dialek Bada Tiara dituturkan di Kabupaten Parigi Moutong.

Bahasa Bajo, dituturkan oleh masyarakat di daerah Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Donggala, Kabupaten Tolitoli, , Tolitoli Utara, Kabupaten Banggai, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten Morowali Utara. Selain di Sulawesi Tengah, bahasa Kaili juga dipertuturkan di Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Bahasa Balaesang

Bahasa Balantak

Bahasa Banggai

Bahasa Besoa

Bahasa Bugis

Bahasa Bungku

Bahasa Buol

Bahasa Dondo

Bahasa Kaili

Bahasa Lauje Malala

Bahasa Moma

Bahasa Pamona

Bahasa Pipikoro

Bahasa Saluan

Bahasa Sangihe Talaud

Bahasa Seko

Bahasa Taa

Bahasa Tombatu

Bahasa Tomini

Bahasa Totoli

Hidrografi

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, di antaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi objek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi objek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Demografi

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 2.831.283 jiwa, dengan kepadatan 46 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Wilayah Sulawesi Tengah adalah Kabupaten Parigi Moutong dengan jumlah penduduk 449.157 jiwa, sedangkan Kota dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Palu sebanyak 362.202 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1,95% per tahun (2010). Sementara penduduk Wilayah Sulawesi Tengah yang tinggal di daerah pemukiman dan pedalaman ialah sekitar 30%, daerah pesisir 60%, dan kawasan kepulauan ialah 10%.[14]

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, Kelapa, Kakao dan Cengkih merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur serta tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

Etnis

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu

Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi

Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso

Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso

Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali

Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali

Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai

Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai

Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai

Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai

Etnis Bare’e berdiam di Kabupaten Parigi Moutong, Poso, dan Tojo Una-Una

Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan

Etnis Buol mendiami kabupaten Buol

Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli

Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong

Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli

Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli

Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli

Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala

Di samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da’a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan Suku Taa di Ampana dan Banggai, dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar, Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur.

Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat pada sensus tahun 2015, 76.37% penduduknya memeluk agama Islam, 16.58% memeluk agama Kristen Protestan, 4.45% memeluk agama Hindu, Katolik sebanyak 1.85%, serta Budha 0.74%[17]. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama dan Datuk Mangaji, ulama dari Sumatra Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.

Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh misionaris Belanda, A.C Cruyt dan Adrian. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah mayoritas beragama Islam, namun tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat – waino – musik tradisional – ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian di mana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan Jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional Sulawesi Tengah.

Kebudayaan

Wilayah Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatra Barat seperti tampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan.

Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan.

Rumah tradisional Wilayah Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.

Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat. Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.