Banner Dinkes 2021 (1365X260)

Warga Parigi Moutong Diminta Manfaatkan Lahan Tidur untuk Tanam Kelor

Warga Parigi Moutong Diminta Manfaatkan Lahan Tidur untuk Tanam Kelor
Foto: Petani kelor.

Gemasulawesi- Warga Parigi Moutong, Sulawesi Tengah diminta memanfaatkan lahan tidur dengan tanam kelor, untuk menopang perekonomiannya.

“Saya mengajak untuk menanam kelor. Karena ini merupakan peluang bagi masyarakat kita,” ungkap Faisan saat dihubungi usai melakukan kunjungan kerja di pabrik kelor di Kelurahan Tipo Kota Palu, Rabu 4 Agustus 2021.

Tanam kelor merupakan pekerjaan paling mudah, yang akan mendatangkan keuntungan besar bagi masyarakat. Sebab, hasil produksi kelor dapat di pasarkan ke PT. Kelor Organik Indonesia (KOI) di Kota Palu, sebagai pabrik pengolah tanaman itu.

Baca juga: Litbang Parigi Moutong Teliti Angka Kecukupan Gizi Kelor

Bahkan, pihak pabrik juga siap memberikan mesin pengering untuk petani kelor sebelum memasarkan tanamannya ke mereka.

“Makanya saya sampaikan secepatnya kepada petani kelor kita, supaya kita tidak didahului daerah lain mendapatkan mesin pengering itu,” ungkapnya.

Saat ini, petani di Kecamatan Ampibabo dan Toribulu, sudah mulai tanam kelor diprakarsai Kapolsek Ampibabo.

“Di Ampibabo sendiri telah memiliki mesin pengering daun kelor didatangkan dari Pabrik itu,” kata dia.

Bahkan, dia mengajak anggota legislatif lainya untuk mengkampanyekan hal itu. Sebab, produksi tanaman kelor dapat dipasarkan dengan harga Rp50 ribu perkilo mulai dari daun, bunga hingga buahnya.

“Ternyata kandungan kelor ini begitu besar manfaatnya untuk tubuh kita. Seperti yang disampaikan pihak pabrik, revolusi nutrisi itu dari kelor,” terangnya.

Parigi Moutong sudah miliki pengepul hasil panen kelor

Selain itu, akses masyarakat untuk memasarkan tanamannya dipermudah, karena di Parigi Moutong sudah ada pengepul yang akan membeli hasil panen tanam kelor itu.

Dalam proses penanaman, masyarakat disarankan untuk menanam bijinya, untuk menghasilkan akar tunggal. Sehingga, daya tahan pohonnya lebih kuat, jika dibandingkan dengan menanam langsung batang.

“Nutrisinya juga berbeda, lebih tinggi nurtisi hasil dari tanaman biji, ketimbang batangnya ditanam,” jelasnya.

Pihak perusahaan mengakui, hasil panen kelor di Sulawesi Tengah sangat berkualitas dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

“Jadi petani nantinya, setelah buah kelor dipetik, lalu dicuci dan dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam pengering selama 1 kali 24 jam. Setelah itu dikemas dan dijual,” pungkasnya. (***)

Baca juga: Sulawesi Terkini, Akibat Gagal Panen Produksi Petani Tolai Turun 60 Persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post