Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Warga Enggan Lakukan Isoter Sebabkan Penularan Virus Meningkat di Tingkat Keluarga

Warga Enggan Lakukan Isoter Sebabkan Kasus Kematian Meningkat
Foto: Illustrasi tempat Isoter.

Gemasulawesi- Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Covid19 Alexander Kaliaga Ginting mengatakan, masih banyak warga enggan lakukan Isoter atau Isolasi terpusat dan memilih di rumah. Akibatnya, tanpa disadari menularkan virus corona ke anggota keluarganya.

“Terlalu banyak yang isoman dan mereka yang isoman enggan ke tempat isolasi terpusat. Mereka maunya kumpul dengan keluarga, akibatnya semakin bertambah kasus baru di keluarga,” ungkap Alex saat dihubungi, Jumat 20 Agustus 2021.

Koalisi Warga Lapor Covid19 mencatat, sebanyak 3007 pasien terpapar virus corona meninggal dunia saat menjalani isoman, berdasarkan data terakhir per 7 Agustus.

Baca juga: Menkeu Sri Mulyani Enggan Jelaskan Perkara PPN Sembako

Data itu diperoleh dari tiga sumber. Pertama, data laporan diterima tim relawan Lapor Covid19, kemudian dari lembaga CISDI. Dan terakhir dari pemerintah, hanya bersumber dari dinas provinsi DKI Jakarta.

Kematian Covid19 konsisten di atas 1.000 kasus per hari sejak 16 Juli 2021 lalu. Jumlah pasien virus corona meninggal bahkan dua kali menyentuh 2.000 kasus per hari, yakni 2.069 orang pada 27 Juli dan 2.048 orang pada 10 Agustus.

Apabila dirata-rata dalam lima pekan terakhir, kasus kematian covid19 naik turun. Pada pekan pertama atau selama kurun 16-21 Juli jumlah kasus kematian mencapai 7.391 kasus.

Kemudian melonjak menjadi 11.076 kasus pada periode 22-28 Juli. Selanjutnya pekan ketiga atau pada 29 Juli-4 Agustus, kumulatif kasus kematian naik menjadi 11.977 kasus.

Pada 5-11 Agustus kasus kematian mengalami penurunan menjadi 11562 kasus. Dan kembali turun pada 12-18 Agustus dengan 8.943 kasus. Sementara, dalam dua hari terakhir ini kasus kematian Covid19 sudah berjumlah 2.840 kasus.

Menanggapi itu, Alex menyebut laporan warga Isoman didapat Satgas covid19 selama ini memang cenderung memiliki pola yang sama.

Baca juga: Kematian Wanita Toraja di Mamuju, “Disebabkan” Penyakit Paru-Paru

Warga Isoman mayoritas mengalami perburukan paru-paru

Menurutnya, para warga yang isoman mayoritas mengalami perburukan paru-paru tidak tertangani dengan baik, komorbid alias penyakit penyerta tidak terkendali, sampai akhirnya telah dibawa ke rumah sakit.

Walaupun warga enggan lakukan Isoter, ia meminta tidak memaksakan diri melakukan isoman, apabila tidak memungkinkan. Seperti mengalami gejala sedang-berat berusia di atas 45 tahun, memiliki komorbid dan tidak memiliki tempat memadai untuk isoman.

“Oleh karena itu, pemerintah menganjurkan, jika positif dan bergejala apalagi ada komorbid, pilihannya ya di isolasi terpusat. Sebab ada pemantauan, ada pengawasan, dan ada pendampingan serta dukungan paket obat covid19 lebih terjamin,” pungkasnya. (***)

Baca juga: Puskesmas Pantau Pasien Isoman Positif Covid19 di Parigi Moutong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post