Senin, April 12, 2021
BerandaSulawesi TengahUdang Vaname Buol, Komoditas Strategis Ekonomi Lokal

Udang Vaname Buol, Komoditas Strategis Ekonomi Lokal

- Advertisement -spot_img

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi– Pemda menganggap komoditas udang vaname Buol menjadi komoditas strategis ekonomi lokal.

“Kami akan fokus mensinergikan program pemerintah pusat di daerah,” ungkap Bupati Buol Amirudin Rauf, di Buol beberapa waktu lalu.

Caranya, dengan menjadikan Udang Vaname Buol sebagai primadona ekonomi baik untuk peningkatan kesejahteraan dampak pada pembukaan lapangan kerja secara luas.

“Sejak Tahun 2019, Kabupaten Buol sudah mulai menggalakan budidaya Udang Vaname, dengan membuat beberapa tambak percontohan. Tahun 2020, kami sedang membuat tambak perkontohan dengan skema skema, tepatnya di Kelurahan Kampung Bugis dengan Anggaran Miliaran rupiah dan memanfaatkan lahan kurang lebih 5 hektar. Kita akan jadikan budidaya udang Vaname ini sebagai program strategis ekonomi daerah,” katanya.

Baca juga: Samsurizal: Perikanan Budidaya Parigi Moutong Sangat Strategis

Saat ini komoditas udang bernilai ekonomi tinggi, mencapai USD250 miliar atau sekitar Rp3,6 miliar setiap tahun.

Indonesia sendiri urutan urutan ketiga sebagai negara pengekspor udang di pasar dunia setelah Thailand dan India. Jenis udang yang diekspor oleh Indonesia di antaranya adalah udang windu dan udang vaname.

Nilai produksi secara Nasional pada tahun 2019 sebesar Rp 36,22 triliun dan menjadi besar pada tahun 2024, bernilai Rp 90,30. Produksi dari 517.397 ton pada tahun 2019, menjadi 1.290.000 ton pada 2020.

Baca juga: Tiga Desa Jadi Lokasi Ternak Udang di Parigi Moutong

Udang Vaname Buol, Jadi Pusat Pengembangan Industri Nasional

Kabupaten Buol menjadi satu dari lima kabupaten di Indonesia yang dipilih menjadi pusat pengembangan industri udang vaname nasional.

Program ini merupakan kerjasama lintas departemen yakni menko maritim, pengelola kelautan, pengelola PUPR, Bappenas, dan kantor Staf Kepresidenan.

Tahun ini untuk Dinas Kelautan membangun tambak udang vaname Buol percontohan di kampung bugis dengan luas areal kurang lebih 5 ha. Tahun depan kementerian PUPR membuat dan menyusun SID (perencanaan) untuk 1000 ha.

Baca juga: Kunker Menteri Kelautan dan Perikanan ke Parigi Moutong, Ini Agendanya

“Yang paling penting dari pencanangan Udang Vaname sebagai program strategis ekonomi daerah adalah sistem pengelolaanya berbasis komunitas atau kelompok. Jadi, kita akan dapat mengelolah lahan yang luas, namun kolektif komunitas akan sangat berpengaruh, dalam peningkatan produksi dan pembukaan lapangan pekerjaan semua” urainya.

Ia mengatakan, masyarakat yang ingin terjun dalam budidaya udang Vaname Buol, cukup siap dengan lahan maksimal 0,5 Hektar.

Dan membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Pemda melalui pemerintah pusat siap mendanai segala biaya produksi, baik tekhnologi maupun pakan sampai dengan panen perdana.

“Tahun depan kami sedang mengupayakan pengadaan Eskavator Rawa, untuk suksesnya program ini,” jelasnya.

Sebagai program strategis ekonomian daerah, tentu efek domino dari program ini adalah pertumbuhan ekonomi rakyat dan pembukaan lapangan kerja yang luas.

Contoh kasus di Kelurahan Buol Dusun Bhuoyong, Panen perdana menghasilkan 2.5 ton.Hasil produksi ini dapat menghasilkan laba bersih ratusan juta rupiah. Dengan hasil ini dapat meningkatkan perekonomian rakyat.

Selain pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, proyeksi lapangan udang Vaname Buol dapat membuka pekerjaan yang luas, otomatis mengurangi angka pengangguran.

“Jika di asumsikan 1 hektar menyerap 2 tenaga kerja bahkan lebih. Maka proyeksi Tahun 2021 yang di rencanakan mencapai 1000 hektar, kurang 2000 tenaga kerja yang terserap ke dalam sektor ini, yang otomatis pengangguran dapat berkurang,” terangnya.

Tentu manfaat program ini akan sangat besar bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini merupakan komitmen penuh Pemda khususnya Bupati Buol Amirudin Rauf dalam mewujudkan Buol maju dan sejahtera.

Sebagaimana diketahui Kabupaten Buol menjadi salah satu dari lima Kabupaten di Indonesia,yaitu Kab.Sukamara, Kabupaten Aceh Timur, Kab.Lampung Selatan, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Buol yang dipilih menjadi Pusat Pengembangan Klaster Tambak Udang Berkelanjutan dalam mendukung Peningkatan Produksi Industri Udang Nasional dengan direncanakan Pengembangan Kawasan Industri Udang Nasional seluas lahan diatas 1000 Hektar di Kabupaten Buol.

Hal ini telah dibahas dalam rapat Koordinasi Teknis Nasional oleh Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Produksi Industri Udang Nasional yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Perencanaan Nasional/Bappenas, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, Kemendes, daerah tertinggal dan transmigrasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PLN SULUTENGGO, Badan Pertanahan dan beberapa kelembagaan terkait bersama Pemerintah Kabupaten Buol.

Tahun ini, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui UPT.

Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar KKP membangun Percontohan Klaster Tambak Udang Berkelanjutan Intensif di Kelurahan Kampung Bugias dengan luas areal lahan kurang lebih 5 Hektar dengan 10 Kolam Produksi.

Dan melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan Bantuan Paket Sarana dan prasarana Udang sebanyak 40 Paket untuk 20 Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Kabupaten Buol, sehingga di Tahun 2021 pada Triwulan 1 produksi Udang ditargetkan sebanyak 100 Ton.

Terkait Kawasan Diatas 1000 Hektar oleh Pokja Perencanaan Peningkatan Produksi Industri Udang Nasional, yaitu terdiri dari Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian PUPR lagi menyusun Master Plan dan SID Kawasan dimaksud.

4 Juta Benih Udang Buol Akan Disiapkan untuk Budidaya Vaname

Pemda menyiapkan segala sesuatunya untuk budidaya udang vaname Buol.Salah satunya benur atau benih udang.

“Dalam waktu dekat Pemda akan membeli 4 juta benih udang vaname Buol yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat,” tutur Bupati Buol Amirudin Rauf.

Kemudian, Pemda Buol juga akan mengadakan 300 ribu benih udang vaname Buol, untuk diberikan kepada masyarakat yang tergabung dalam kelompok pembudidaya udang vaname.

Karena itu, Bupati meminta agar bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat, betul-betul diperuntukkan kepada yang membutuhkan.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan agar ketika benur dan nener lobster yang akan diberikan ke masyarakat, untuk disimpan dulu beberapa hari di tambak percontohan udang vaname Buol.

“Simpan dulu di sini beberapa hari, agar bisa beradaptasi. Masyarakat yang akan mendapatkan bantuan juga diberikan pelatihan dulu bagaimana cara mengembang biakan. Jangan sampai mati benih itu. Begitupun kalau mau dimasukkan ke tambak atau empang, jangan langsung dimasukkan saja,” sebutnya.

Bupati menginginkan agar semua kelompok calon penerima bantuan untuk diberikan arahan terkait bantuan kegiatan agar tidak salah dalam pelaksananya.

Ia meminta untuk mengatur agenda, kumpulkan semua kelompok penerima berikan arahan yang baik dan benar agar tidak salah.

“Saya akan hadir memberikan arahan sekaligus mengecek kelompok penerima. Apakah benar-benar memang masyarakat yang berhak menerima,” ucapnya.

Berdayakan Warga Lokal, Strategi Buol Budidaya Udang Vaname

Budidaya udang vaname Buol Provinsi Sulawesi Tengah, Pemda berdayakan warga lokal.

“Pemda melalui Dinas Perikanan telah membuat satu tambak percontohan udang vaname Buol di Desa Lakea, Kecamatan Lakea,” ungkap Bupati Buol Amirudin Rauf di Buol, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, budidaya udang vaname Buol dengan konsep pemberdayaan warga lokal. Bertujuan membantu perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid 19.

Apalagi, saat ini komoditas udang bernilai ekonomi tiggi. Harganya mencapai USD250 miliar atau sekitar Rp3,6 miliar setiap tahun.

Indonesia sendiri urutan urutan ketiga sebagai negara pengekspor udang di pasar dunia setelah Thailand dan India. Jenis udang yang diekspor oleh Indonesia di antaranya adalah udang windu dan udang vaname.

Nilai produksi secara Nasional pada tahun 2019 sebesar Rp 36,22 triliun dan menjadi besar pada tahun 2024, bernilai Rp 90,30. Produksi dari 517.397 ton pada tahun 2019, menjadi 1.290.000 ton pada 2020.

“Kami juga akan fokus mensinergikan program pemerintah pusat di daerah,” sebutnya.

Caranya, dengan menjadikan Udang Vaname sebagai primadona ekonomi baik untuk peningkatan kesejahteraan dampak pada pembukaan lapangan kerja secara luas.

Sejak Tahun 2019, Kabupaten Buol sudah mulai menggalakan budidaya Udang Vaname, dengan membuat beberapa tambak percontohan.

Tahun 2020, kami sedang membuat tambak perkontohan dengan skema skema, tepatnya di Kelurahan Kampung Bugis dengan anggaran miliaran rupiah.

“Dengan memanfaatkan lahan kurang lebih 5 hektar. Kita akan jadikan budidaya udang vaname ini sebagai program strategis ekonomi daerah,” urainya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

Must Read

- Advertisement -
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Related News