Warga Purwosari Sulawesi Tengah Masih Trauma Banjir

waktu baca 3 menit
Foto: Dampak Bencana Banjir Desa Purwosari Parigi Moutong Sulawesi Tengah

Berita parigi moutong, gemasulawesi– Warga Desa Purwosari Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah masih trauma bencana banjir susulan, pasca bencana pada 29 Oktober 2020.

“Walaupun banjir dengan ketinggian 60 centimeter sudah surut. Namun, trauma cuaca buruk tiap saat bisa terjadi di Purwosari Sulawesi Tengah,” ungkap Kepala BPBD Parigi Moutong Aziz Tombolotutu, via sambungan telepon, Sabtu 31 Oktober 2020.

Warga setempat kata dia, membutuhkan peralatan keluarga dan bahan pangan. Selain itu, ada juga permintaan melakukan normalisasi sungai.

Normalisasi sungai diperlukan mengingat debit air sungai sangat deras dan bisa mengakibatkan jebolnya tanggul.

Baca juga: Banjir Rendam Ratusan Hektar Sawah di Purwosari Sulawesi Tengah

Ia mengingatkan, kepada warga yang bermukim di bantaran sungai dan wilayah-wilayah rawan di Parigi Moutong Sulawesi Tengah terkhusus di Desa Purwosari, agar tetap waspada bencana.

“Cuaca buruk akibat dampak La Nina diprediksi berlangsung hingga tahun 2021,” urainya.

Hal itu lanjut dia, dapat dilihat dari tingginya curah hujan disertai angin kencang.

Dari peristiwa bencana banjir di Parigi Moutong Sulawesi Tengah kata dia, sedikitnya 45 unit rumah di Desa Purwosari terdampak dan satu diantaranya terancam.

Baca juga: BMKG: Frekuensi Bencana La Nina Berpotensi Naik

[videopress cK1ECY2N autoplay=”true”]

Sama halnya dengan Desa Tolai Barat dilaporkan 110 kepala keluarga terdampak, serta satu unit rumah juga terancam.

“Beruntung, tidak ada korban jiwa pada kejadian itu,” tuturnya.

BMKG Ingatkan Fenomena La Nina

Warga mesti mewaspadai perubahan mendadak debit arus sungai, apalagi pada masa fenomena La Nina.

Fenomena La Nina moderate yang diprediksi akan menyebabkan peningkatan curah hujan yang dimulai bulan Oktober sampai November. Dan akan berdampak dihampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Pulau Sumatra.

Baca juga: Periode Oktober-November 2020, Potensi Curah Hujan Tinggi

Catatan historis menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan.

Peningkatan hujan bulanan di Indonesia akan meningkat sekitar 20 hingga 40 persen di atas normal.

BMKG menegaskan, mitigasi bencana serta peringatan dini gempa bumi dan tsunami, serta cuaca dan iklim ekstrem merupakan hak mendesak untuk segera dipersiapkan dan diperkuat dari sekarang.

Baca juga: Positif Corona Sulawesi Tengah Tembus 114 Orang Dalam Enam Hari

Untuk kejadian gempa bumi, berdasarkan data monitoring kegempaan yang dilakukan BMKG, sejak tahun 2017 Indonesia telah mengalami tren peningkatan aktivitas gempa bumi dalam segi jumlah ataupun kekuatannya.

Menurut data BMKG, untuk kejadian gempa bumi sebelum 2017 rata-rata hanya 4.000—6.000 kali dalam setahun, yang dirasakan atau kekuatannya lebih dari lima SR sekitar 200-an.

Namun, setelah 2017 jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 7.000 kali dalam setahun, bahkan pada tahun 2018 tercatat 11.920 kali, lalu kemudian pada tahun 2019 sebanyak 11.588 kejadian gempa.

Baca juga: Pasca Kerusuhan Wamena, Guru Sekolah Mengaku Masih Trauma Kembali Mengajar

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.