Jumat, Juni 25, 2021
Jangan Lupa Share

Tradisi Pasang Lampu di Parimo, Penanda Ramadhan Berakhir

Must read

Jangan Lupa Share

Berita parigi moutong, gemasulawesi– Memasuki tiga malam terakhir Ramadhan, warga Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menggelar tradisi pasang lampu.

“Tradisi ini kami gelar setiap tahunnya, saat memasuki tiga malam terkahir atau menandai berakhirnya bulan suci Ramadan,” ungkap Ketua Karang Taruna Kelurahan Bantaya, Muhammad Rifai Pakaya, usai pemasangan lampu di Bantaya, Minggu 9 April 2021.

Tradisi Tumbilotohe tahun ini, lampu botol bekas terpasang berjumlah 1600 buah dan ditambah lead sepanjang 200 meter.

Ia mengatakan, lampu-lampu terpasang ini masih sangat tradisional. Yaitu masih menggunakan botol bekas, lalu disisi minyak tanah. Dan diberi sumbu serta ditata sedemikian rupa.

Baca juga: Operasi Pasar Murah Parimo, Jual Gas 3 Kg Dibawah HET

“Dengan adanya tradisi seperti ini antusias warga Parigi Moutong cukup tinggi untuk datang ke lokasi guna melihat keindahannya,” sebutnya.

Tumbilotohe adalah malam pasang lampu yang dimaknai sebagai motivasi bagi warga yang melaksanakan ibadah. Dimana dengan adanya lampu terang benderang ini dapat memudahkan mereka untuk melangkah ke masjid.

Istilah Tumbilotohe kata dia, berasal dari bahasa Gorontalo dan merupakan gabungan dua suku kata, Tumbilo yang berarti pasang dan Tohe yang berarti lampu. Sehingga, berdasarkan namanya Tumbilotohe dikatakan sebagai tradisi pasang lampu.

“Ini merupakan warisan budaya sejak abad 15. Awalnya masyarakat Gorontalo memasang lampu didepan rumah sebagai penerangan halaman rumah dan jalanan. Bagi warga lampu itu sebagai penerangan dalam melaksankan ibadah di masjid-masjid untuk meraih malam Lailatul qadar,” jelasnya.

Warga Gorontalo sebelumnya menggunakan penerangan yang disebut wango-wango atau lampu terbuat dari Wamuta atau Selundang yang dihaluskan dan diruncingkan dan kemudian dibakar.

Baca juga: Pemda Parigi Moutong Bayar Biaya Penerangan Jalan 12 Milyar Pertahun

Hingga kini, tradisi terus berkembang. Alat penerangan lain memanfaatkan minyak tanah. Masyarakat Gorontalo juga memanfaatkan ribuan lampu listrik untuk lebih menyemarakkan tradisi itu.

“Kami akan terus melaksanakan kegiatan ini. Dan mengajarkan kepada generasi selanjutnya agar pelaksanaan semacam ini tidak akan hilang,” tutupnya.

Baca juga: Warga Soroti Lampu Penerangan Jalan Kota Parigi

Laporan: Aldi

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest article