fbpx

Tiga Wartawan Palu Dipukul Saat Demo Tolak Omnibus Law

waktu baca 3 menit
(Foto: Wartawati Kota Palu Korban Pemukulan Aparat Kepolisian/Ist)

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi– Tiga wartawan di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dipukul oknum aparat kepolisian.

Tiga wartawan di Kota Palu dipukul oknum kepolisian pada saat ricuh demo Omnibus Law kedua sekitar pukul 16.00 Wita di depan kantor DPRD Sulteng, Kamis 08 Oktober 2020.

“Tadi ditengah situasi ricuh demo omnibus law, saya disuruh menunduk. Setelah saya tunduk, langsung dipukul. Seketika saya meras pusing sudah saya,” ujar Korban, Alsih Marselina di lokasi kejadian.

Alsih menerangkan, sebagai wartawan dia telah menaati prosedur dalam pelaksanaan tugas peliputan unjuk rasa dengan memakai Id Card sebagai identitas dari media sultengnews.com.

Baca juga: Dugaan Jatah Jergen Solar Oknum Polres dan Polsek, Kapolres Parimo Akan Pulbaket

“Saya sudah pakai identitas (id card) wartawan, padahal saya sudah bilang ke polisi saya dari media, tapi oknum polisi masih memukul saya, karena jelas yang memukul pakai baju dinas cokelat kepolisian,” terangnya.

Dia mengungkapkan, dirinya berada dalam barikade kepolisian saat melakukan tugas sebagai wartawan, di posisi seperti itu seharusnya menurut dia bisa mendapatkan perlindungan, namun kejadian yang dialaminya berbanding terbalik.

“Saat ada di tengah-tengah polisi saat meliput, karena saya harap berada di posisi itu bisa dapatkan keamanan, malah justru dipukul,” ungkapnya.

Sementara itu, wartawan dari kailipost, Windy yang bersamanya mengatakan dirinya juga mendapatkan tindak kekerasan.

Bahkan, dia terkena lemparan yang kena di kepalanya, meski begitu dia tidak mengalami luka.

“Saya juga kena lemparan dari depan arah aparat kepolisian melakukan penjagaan, bersamaan dengan itu memang dari belakang tempat mahasiswa aksi juga melakukan pelemparan, tapi saya tidak tau apa yang kena dikepala saya,” ucapnya.

Dia juga menuturkan, saat kejadian sempat melihat korban yaitu Alsih dipukul aparat kepolisian.

Namun, saat itu ada tembakan gas air mata yang membuat mata terasa perih dan penglihatan menjadi kabur.

“Saya liat Alsih dipukul saat menoleh kebelakang, hanya saja kondisi penglihatan masih samar-samar karena terkena gas air mata,” tandasnya.

Alsih bersama tiga wartawan lainnya sudah melapor ke Propam Polda Sulteng dengan didampingi empat pengacara yakni Rachmy SH, Roy Marianto Babutung SH, Fikri Saleh SH dan Moh. Itfan Umar, SH.

Pimred Sultengnews.com, Mahful Haruna mengaku akan mengikuti semua prosedur di Propam Polda Sulteng dan meminta agar oknum aparat kepolisian yang melakukan pemukulan ditindak tegas.

“Kita akan terus lanjutkan kasus ini sampai oknum aparat kepolisian ditemukan dan ditindak tegas, karena yang dipukul itu wartawan perempuan. Jadi, ada dua hal yang tidak bisa ditolerir. Pertama, dia wartawan dan sudah memperlihatkan id card, tapi tetap dipukul. Kedua, dia perempuan dan tetap saja dipukul. Jadi, kedua hal itu yang membuat kami melaporkan hal ini ke propam Polda Sulteng,” tuturnya.

Diketahui, aparat kepolisian mengejar massa aksi termasuk wartawan yang meliput saat itu.

Ketiga wartawan yang mengalami pemukulan, sudah mengaku sebagai wartawan dan menunjukkan id card sebagai wartawan.

Namun, oknum aparat kepolisian itu meminta ketiganya untuk tunduk dan disaat itulah dia memukul.

Korban atas nama Alsih Marselina mendapat pukulan tepat di wajah yang mengakibatkan luka memar dan menimbulkan luka di pipi kiri.

Sementara, Adhy Rifaldy yang juga wartawan sultengnews.com, mendapat pukulan di bahu bagian belakang.

Sedangkan Windy wartawan kailipost.com terkena lemparan batu dari arah aparat kepolisian berjaga. (***)

Baca juga: Polda Sulteng Amankan 29 Pendemo Tolak Omnibus Law

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.