Target Sepuluh Persen Penurunan Stunting, Ini Peran OPD Pendamping

Target Turunkan Angka Stunting Dalam Lima Tahun

219
Target Sepuluh Persen Penurunan Stunting, Ini Peran OPD Pendamping
Kabid Sosbud Bappelitbangda Parimo, Sahid Badja (Foto: Rafii)

Parimo, gemasulawesi.com Target sepuluh persen penurunan stunting Parigi moutong (Parimo), Bappelitbangda libatkan OPD pendamping dengan peran program masing-masing.

Menurut Kepala bidang (Kabid) Sosial dan budaya (Sosbud) Bappelitbangda Parimo, Sahid Badja, apabila target penurunan angka stunting Parigi Moutong senilai sepuluh persen dibagi kedalam lima tahun, maka dalam satu tahun hanya tiga persen yang harus direalisasikan. Sehingga, perlu kerjasama program antar OPD agar menuai hasil maksimal.

“Namun, hasil dari kinerja penurunan stunting pada tahun ini, baru dapat dilihat dan dirasakan pada tiga tahun mendatang,” ungkapnya, di ruang kerjanya, Kamis, 25 Oktober 2019.

Dimulai dari Tahun 2019 kata dia, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Parimo bersinergi menurunkan angka stunting. Pihaknya, sebagai instansi perencana pembangunan meramu langkah mencapai target secara bersama.

Baca juga: Total 17 Persen Sekolah Negeri Parigi Moutong Belum Masukkan LPJ Dana BOS

Ia melanjutkan, OPD yang dilibatkan antara lain Dinas kesehatan, Dinas Ketahanan pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Peternakan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD), Dinas Pekerjaan Umum serta OPD lainnya.

Masing-masing OPD membuat program yang dianggap mampu menurunkan stunting, sesuai kebutuhan dan tupoksinya. Serta, program yang saling bersinergi dan tidak tumpang tindih.

“Diketahui, terdapat 47 desa di Parimo menjadi lokus Pemda untuk penanganan stunting tahun 2019,” jelasnya.

Selanjutnya, program OPD untuk penurunan stunting dapat diarahkan ke 47 desa lokus. Ia mencontohkan, DPMPD Parimo bersinergi dengan Pamsimas untuk penyediaan akses air bersih dan sanitasi.

Baca juga: Senilai Puluhan Miliar, Bantuan BPKH Korban Gempa Sulawesi Tengah

Berikutnya, Dinas Ketahanan pangan dengan visi pemanfaatan halaman warga untuk ditanami sayuran dan buah. Harapannya, warga desa dapat mandiri untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Kemudian, Dinas Pertanian dan Perkebunan mengambil peran penyediaan bibit tanaman yang dibutuhkan warga desa. Sama halnya dengan Dinas Peternakan yang bertugas menyediakan bibit hewan ternak disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di desa.

“Selain peran OPD, diharapkan juga bantuan dari Pemdes yang didukung dana desa untuk dapat mengalokasikan anggaran untuk penurunan stunting,” tuturnya.

Dengan bantuan seluruh pihak, indikator penyebab stunting seperti gizi buruk, kualitas air bersih dan sanitasi yang tidak memadai dapat diselesaikan secara serentak.

Baca juga: Gigit Jari, RSUD Anuntaloko Parigi Moutong Belum Bayar Gaji Perawat

Sementara itu, beberapa waktu lalu Pemda akan kembali menjalankan Pamsimas Parimo. Sebanyak 13 desa akan menjadi lokus program untuk tahun 2020.

Menurut Kepala Bappelitbangda Parimo, Zulfinasran warga berhak mendapatkan layanan air bersih. Jaminan layanan air bersih dapat membantu upaya Pemda menurunkan angka stunting. Sehingga, program Pamsimas Parimo adalah salah satu solusinya.

“Pembangunan desa terkait penyediaan air bersih dan sanitasi memiliki keterkaitan dengan upaya program penanganan stunting Pemda Parimo,” ungkapnya.

Nantinya kata dia, program Pamsimas akan difokuskan ke wilayah pedesaan dalam daftar skala prioritas. Dari 278 desa di Parimo lanjut dia, hanya 47 desa menjadi lokus penanganan stunting.

Baca juga: Rekrutmen CPNS 2019, Mamuju Dapat Kuota Delapan Formasi Guru

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.