Suku Bolano Merasa Didiskriminasi Pada Event Parimo Dalam Nada Budaya

Warga suku Bolano Protes Merasa Tidak Diikutsertakan Dalam Lomba Cipta Lagu Daerah 2019

374
Suku Bolano Merasa Didiskriminasi Pada Event Parimo Dalam Nada Budaya
Illustrasi event Parigi Moutong Dalam Nada Budaya

Parimo, gemasulawesi.com Event Parigi moutong (Parimo) dalam nada budaya yang diselenggarakan Disdikbud Parimo mendapatkan sejumlah reaksi negatif dari warga suku Bolano.

Warga menduga event Parigi moutong dalam nada budaya untuk lomba cipta lagu daerah 2019 mendiskriminasi suku Bolano.

“Sebagai salah satu suku yang memiliki bahasa sendiri, seharusnya bisa masuk dalam salah satu daftar lomba. Sebagai putra daerah dari suku Bolano saya merasa keberatan. Kami merasa didiskriminasi,” ungkap seorang warga suku Bolano, Moh. Fandy via messenger, Minggu, 20 Oktober 2019.

Ia melanjutkan, pihaknya merasa pelaksana kegiatan atau yang terkait kurang memahami wilayah dan sejarah Parimo.

Baca juga: 12 Desa Parigi moutong Masih Saling Klaim Soal Tapal Batas

Kabupaten Parimo kata dia, merupakan salah satu dari 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Parimo memiliki 23 Kecamatan serta terdapat empat suku asli dalam sejarah daerah yaitu Kaili, Lauje, Tialo dan juga salah satunya Bolano dengan suku serta bahasa tersendiri.

Namun mirisnya, pada Event Parigi Moutong Dalam Nada Budaya, seakan-akan Suku Bolano luput atau terkesan tidak dianggap sebagai bagian dari suku Asli di Kabupaten Parimo.

“Sepertinya, terlalu kurang sopan jika saya harus mengarahkan panitia pelaksana agar banyak belajar sejarah Parimo dan sering-seringlah berkunjung ke wilayah-wilayah suku asli yang memiliki kaitan sejarah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, sepanjang sejarah daerah Parimo, suku Bolano sudah ada sejak masih berstatus Kabupaten Donggala bahkan sejak zaman nenek moyang Parimo.

Sejarah Suku Bolano lanjut dia, dapat ditemukan dalam catatan buku sejarah Parimo yang diterbitkan tahun 2013. Suku Bolano memiliki sejarah panjang, diperkirakan sudah menetap kurang lebih sejak abad ke sepuluh.

Baca juga: Lagi, Luapan Banjir Putus Akses Jalan Banggai-Touna Sulteng

Catatan sejarah menunjukkan kerajaan di wilayah Parimo, dalam sejarah Raja Tombolotutu menjadi wilayah distrik.

“Ingat, Raja Tombolututu pernah diselamatkan leluhur Bolano saat dalam pengejaran penjajah Belanda,” pesannya.

Disdikbud Parimo Tidak Bermaksud Diskriminasi Suku Tertentu

Sementara itu, Kepala bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo, Sri Nurahma mengatakan, pihaknya tidak memiliki niatan untuk mendiskriminasi suatu suku dalam kegiatan itu.

“Kami memohon maaf kepada suku Bolano dan suku lainnya yang tidak dimasukkan pada lomba cipta lagu daerah,” ungkapnya via telepon seluler, Senin, 21 Oktober 2019.

Khusus untuk suku Bolano, sebenarnya pihaknya belum mengetahui dan tidak memiliki basis data suku tertentu yang mendiami wilayah Bolano. Sehingga, pada event cipta lagu daerah 2019, hanya enam suku terdata yang diikutkan.

Namun, pihaknya tetap memberikan kesempatan kepada suku Bolano selaku wild card agar dapat berperan mempromosikan budaya dan lagu daerahnya. Lagu daerah suku bolano yang diciptakan dapat dikirimkan lewat akun Facebook masing-masing dengan tetap mengetag akun Facebook bidang kebudayaan Disdikbud Parimo.

Syaratnya sama dengan suku daerah lain, lagu dengan bahasa dan ciri khas suku masing-masing serta melalui aransemen musik yang baik. Diketahui, panitia memperpanjang masa pendaftaran dan pengunggahan karya lomba cipta lagu daerah hingga 25 Oktober 2019.

“Nanti pada akhir bulan November 2019, aransemen lagu khusus suku Bolano akan dimasukkan dalam satu album yang sama dengan lagu dari suku lainnya,” tutupnya.

Baca juga: Ini Kritik Terkait Kebijakan Pajak Sarang Burung Walet Pemda Parigi moutong

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.