Smart City Parigi Moutong, Pangkas Kesenjangan Jarak Koordinasi Wilayah

  • Whatsapp
Smart City Parigi Moutong, Pangkas Kesenjangan Jarak Koordinasi Wilayah
Forum Konsultasi Pimpinan Perangkat Daerah- Kepala Bappelitbangda dan Asisten Bidang Pemerintahan Bupati Parigi Moutong serah terima dokumen pembahasan RKPD untuk tahun 2021, di aula gedung Bappelibangda Parimo, Selasa, 17 Desember 2019. GemasulawesiFoto/Muhammad Rafii.

Parigi moutong, gemasulawesi.comBadan perencanaan penelitian dan pengembangan daerah (Bappelitbangda) merencanakan program Smart City Parigi Moutong (Parimo) untuk memangkas kesenjangan jarak koordinasi antar wilayah.

“Program smart city Parigi Moutong lebih cenderung kepada aplikasi,” ungkap Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong, Zulfinasran, di sela-sela kegiatan forum konsultasi pimpinan perangkat daerah di aula gedung Bappelitbangda, Selasa, 17 Desember 2019.  

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan program smart city, merupakan program untuk mengatasi persoalan terkait kebutuhan informasi akurat dan cepat yang dibutuhkan Pemerintah daerah (Pemda) dari Pemerintah desa (Pemdes) dan kecamatan.

Ia melanjutkan, selama ini Pemdes dan pemerintah kecamatan bila ingin memasukkan data kepada Pemda, selalu dalam bentuk manual via flash disk atau sarana lainnya. Setelah itu, data manual tadi diantarkan langsung ke Pemda.

Hal itu kata dia, tentunya akan memakan waktu yang sangat lama untuk melakukan koordinasi. Selain boros waktu, juga memakan anggaran yang sangat besar. Dengan rentang jarak antar wilayah yang jauh satu sama lain.

“Dengan smart city Pemdes bisa mengupload datanya kapan saja. Namun, saat ini belum bisa dilaksanakan. Jadi, Pemdes sifatnya hanya membawa hard copy file ke Pemda. Akan memakan waktu banyak untuk sebuah koordinasi,” terangnya.

Baca juga: Bukti Bantahan Belum Siap, Sidang Hantje Versus Bupati Parigi Moutong Ditunda

Pihaknya lanjut dia, sedang mencoba menggalakkan koordinasi yang singkat antara desa dan kabupaten. Mengingat pemanfaatan potensi desa serta pembangunan daerah yang sangat besar peluangnya.

Kemudian, mempercepat sistem pelaporan dan pendataan dari setiap Pemdes dan pemerinyah kecamatan. Alasannya, pembangunan dari suatu wilayah berdasarkan data yang sudah disiapkan.

“Kami mencoba membangun akses data yang cepat antara Pemdes dan Pemda vmemanfaatkan akses internet. Memang, smart city awalnya harus memiliki jaringan dan server yang memadai,” jelasnya.

Sehingga kedepannya, smart city bisa menghemat biaya perjalanan atau koordinasi dari desa kepada pemerintah kabupaten. Karena data yang dibutuhkan sudah ada dalam aplikasi itu yang bisa diakses kapan saja Pemda membutuhkan.

Walaupun, pemerintah awalnya menyiapkan anggaran yang besar diawal penerapan dan pembangunan smart city. Namun, nilai pemanfaatannya bisa digunakan hingga bertahun-tahun. Kemudian bisa tepat dan meminimalisir kekeliruan data.

“Pada tahun 2020 dan 2021 pembangunan untuk smart city rencananya sudah mulai dilaksanakan. Sementara itu, hampir di semua wilayah Parigi Moutong mengalami kendala jaringan internet,” tutupnya.

Baca juga: Empat Anleg DPRD Parigi Moutong Tidak Hadiri Reses Dapil Satu Desa Lebo

Laporan: Muhammad Rafii

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.