Sesar Palu Koro Paling Berbahaya Saingi Sesar Palolo Graben di Sulawesi Tengah

waktu baca 4 menit
Ilustrasi

Kupas Tuntas, gemasulawesi – Jauh sebelum terjadinya gesekan sesar Palu Koro yang mengakibatkan gempa bumi 7.7 SR dan tsunami yang disertai likuifaksi di tahun 2018, Sulawesi tengah sudah pernah mengalami gempa besar berasal gesekan sesar lain yang di beberapa titik.

Misalnya, Gempa dengan kekuatan 6.6 SR berpusat di daratan mengguncang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, merusak puluhan bangunan pada tanggal 29 Mei 2017.

Sumbernya diyakini sesar Palolo Graben aktif, 40 Km barat laut kota Poso, terjadi di pulau sulawesi.

Peneliti gempa bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik Rahmawan Daryono, dalam tesisnya tentang “Indonesian tropicalpaleoseismology” (2016), menyebutkan bahwa sesar Palolo Graben memanjang sejauh 70 km dan membentuk Lembah Palolo dan Sopu Lembah.

Baca: Aktivitas Sesar Palu Koro, Dua Gempa Getarkan Sigi Sulteng

Sesar Palu Koro, sedangkan di perbatasan tenggara menghilang ke Lembah Napu.

Gempa bumi sebelumnya telah terjadi di patahan ini pada tahun 1977 berkekuatan 5,1 M  dan pada 2005 berkekuatan 5,3 M.

“Berdasarkan panjang sesar, gempa berkekuatan kurang lebih 6 SR,” jelasnya.

Namun yang paling mengkhawatirkan di Sulawesi Tengah bukanlah Sesar Palolo Graben, melainkan Sesar Palu Koro, sesar darat terpanjang kedua di Indonesia setelah Sesar Sumatera Besar, yang bersifat dinamis dan terbagi oleh banyak sesar aktif.  

Dalam Peta Sumber Gempa Nasional terbaru yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) tahun 2017, ada 48 sesar atau sumber gempa di Pulau Sulawesi. Padahal, dalam peta gempa 2010, di Sulawesi teridentifikasi 12 sumber gempa.

Baca: Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Banggai Sulteng

“Sebagian sesar melintas di kota padat. Berdasarkan ancamannya, yang perlu dikhawatirkan adalah Kota Palu yang dilalui Sesar Palu Koro di segmen Palu dan segmen Saluki. Selain itu, Kota Soroako dilalui Sesar Matano, terutama segmen Pamsoa dan segmen Ballawai. Sementara Kota Poso dilalui sesar naik Tokararu,” kata Mudrik.

Sesar Palu Koro yang memisahkan pulau Sulawesi dari Teluk Palu hingga Teluk Bone sangat aktif dengan perpindahan 4145 milimeter per tahun (Socquet et al., 2006).

Kegempaan rendah Kata dia, ada dua kemungkinan yang bisa menyebabkan fenomena itu. Pertama, gerakan lempeng di zona sesar bersifat progresif, sehingga gaya tektonik tidak bisa menjadi gempa bumi, kedua, gaya tektonik tersimpan berpotensi menjadi gempa besar dengan periode pengulangan yang lama.

Baca: Gempa Bumi Magnitudo 3,6 Guncang Kota Palu

Catatan sejarah gempa terkuat di patahan ini terjadi pada tahun 1909. Mengutip catatan ahli geologi Belanda Abendanon, Mudrik mengatakan gempa tahun 1909 menghancurkan desa-desa di Sulawesi Tengah.

Akibat gempa, rumah-rumah hancur dan penghuninya terlantar. Bahkan, daun dan kelapa yang masih muda berjatuhan, menunjukkan besarnya gempa.Peluang atas M 7.

Akan tetapi, tradisi tertulis di Nusantara sangat kurang karena sebagian besar peristiwa sebelum zaman kolonial lebih banyak disampaikan oleh sejarah lisan dalam bentuk mitologi:

“Satu-satunya cara untuk melacak gempa Sulawesi di masa lalu adalah melalui catatan geologis atau paleoseismologi,” kata Mudrik.

Jika seismologi mempelajari gempa bumi berdasarkan data gempa bumi yang direkam oleh peralatan, paleoseismologi mempelajari gempa bumi berdasarkan bukti geologis dari proses dan gempa bumi yang tercatat di alam (McCalpin, 1996).

Baca: Gempa bumi magnitudo 3,2 getarkan Donggala Sulteng

Dia melakukan ini dengan menggali tanah di tempat-tempat tertentu untuk mengidentifikasi jejak gempa masa lalu. Dengan metode paleoseismologi ini, Mudrik menemukan dua jejak gempa besar sebelum tahun 1909 di segmen Saluki.

Kedua gempa tersebut, yakni gempa 14151460 (abad ke-15) dan gempa 12851390 (abad ke-14) Seismolog LIPI Danny Hilman Natawidjaya mengatakan sangat sulit untuk mengetahui segmen lintasan gempa mana yang akan menyebabkan gempa besar dalam waktu dekat.

Keterbatasan perekaman dan penelitian kegempaan di Indonesia membuat sulit untuk memprediksi waktu kekambuhan. Dia mencontohkan, banyak pihak memperingatkan bahwa ancaman gempa dari zona subduksi Mentawai sudah mendekati siklusnya.

Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan akan terjadi gempa besar di wilayah lain yang siklusnya belum diketahui.

“Bisa di Pulau Jawa atau Sulawesi,” ujarnya.

Bahkan, beberapa gempa bumi besar berulang selama ribuan tahun.

“Misalnya gempa bumi yang menghancurkan kota Kobe, Jepang pada  tahun 1995. Sebelumnya tidak ada gempa besar selama 2000 tahun, jadi diabaikan, lalu ada gempa mendadak,” katanya.

Secara nasional, Pusgen menemukan jumlah patahan baru menjadi 295 zona dibandingkan peta gempa nasional 2010 yang hanya 81 zona.

Di antara data baru tersebut terdapat 30 sumber seismik baru yang teridentifikasi di Jawa, dari 4 menjadi 34. Penambahan data cukup signifikan, banyak di antaranya berupa identifikasi panjang sesar segmentasi, yang tidak saya lakukan hanya Palu Koro dan Matano.

“Kalau sesar lainnya, siklusnya biasa,” kata Mudrik.

Kini para peneliti tengah berlomba dengan gempa yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Belajar dari berbagai kejadian seismik, hampir semua korban jiwa diakibatkan oleh runtuhnya tembok yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa.

Bahkan, rumah adat di Indonesia, termasuk di Sulawesi, berbentuk seperti rumah panggung, terbuat dari kayu, mereka cenderung tahan gempa. Bangunan dinding dapat dirancang untuk menahan gempa selama dimensi tulangan dan detail sambungannya benar. Guru Besar Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung Masyhur Irsyam mengungkapkan bahwa ketahanan dan mitigasi gempa hanya dapat ditingkatkan melalui penelitian dasar dan terapan di bidang seismisitas langsung.Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kebijakan, standar dan pedoman untuk desain bangunan seismik. (*)

Sumber: Lipi/Mudrik Rahmawan Daryono S.T, MT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.