fbpx

Sejarah Singkat Kerajaan Parigi, Sulawesi Tengah

waktu baca 3 menit

Berita Parigi Moutong, gemasulawesi – Sejarah singkat kerajaan Parigi adalah sebuah kerajaan Islam di Indonesia yang umumnya terdapat di wilayah Parigi, Sulawesi Tengah. Kerajaan ini berdiri di tahun 1515 dan raja pertama yang memerintah adalah Makagero, yang diresmikan oleh Francisco Lesa, seorang gubernur Portugis yang memerintah sebagian Sulawesi tengah pada saat itu.

Wilayah kerajaan ini pada umumnya terdiri dari empat wilayah yaitu Lantibu, Masigi, Toboli dan Dolago.

Wilayah Parigi pertama kali dikunjungi oleh penjelajah Portugis dan Spanyol sebelum dikuasai oleh Belanda. Pembangunan benteng Portugis yang berada di Parigi dimulai pada tahun 1555. Awalnya mereka datang untuk berdagang, namun akhirnya meninggalkan Sulawesi Tengah karena perdagangan tidak lagi menguntungkan. Spanyol pernah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan Parigi pada awal abad ke 17 hingga tahun 1663 setelah kedatangan VOC.

Orang Belanda pertama kali tiba di wilayah Parigi pada tahun 1663, dengan tujuan semula untuk berdagang. Sejak tahun 1897, Raja Parigi, I Djengitonambaru (satu-satunya raja wanita yang pernah memerintah kerajaan ini) mengikatkan Korte Verklaring (perjanjian singkat) dengan Belanda. Seorang putra mahkota bernama Vinono dengan keras menolak kehadiran mereka dan curiga bahwa Belanda akan mengambil alih kekuasaan di Parigi.

Baca: Ketahui Cara Membuat E-mail Baru Secara Cepat

Vinono yang merupakan putra pertama Raja Parigi ke 13 Sawali, yang seharusnya menjadikan Vinono sebagai pewaris sah takhta Kerajaan Parigi, namun menolak menjadi raja jika harus tunduk kepada Belanda.

Bersama putranya, Hanusu, ia memimpin para pengikutnya melawan Belanda.Perlawanan yang tidak merata ini membutuhkan banyak korban, karena pasukan Kerajaan Parigi masih menggunakan senjata sederhana. Dalam perang ini, Vinono telah mengambil sumpah, mabula boga rivana, pade meta’a mbaeva Balanda. “Jika monyet di hutan memutih, saya akan berhenti melawan Belanda”.

Perlawanan ini dapat tekananan dari pihak Belanda dan akibatnya Hanusu diasingkan ke Tondano di wilayah Minahasa. Baru dipulangkan pada tahun 1917, ia diangkat menjadi Raja Parigi oleh Belanda setelah menandatangani Korte Verklaring pada tanggal 5 Februari 1917.

Daftar Magau di Parigi yaitu, Makagero alias Magau Lomba 1515-1533, Boga 1533-1557, Ntavu 1557-1579, Sheikh Maliq Ash Shiddiq alias Langimoili 1579-1602 dia merupakan Raja Parigi pertama yang memeluk Islam, Sheikh Yussuf Maliq Maulana Ibrahim alias Tonikota 1602-1627 yaitu Sheikh Machmud Maliq Maulana alias Magau Janggo 1627-1661, Ntadu 1661-1690, Palopo alias Kodi Palo 1690-1724, Mansyur alias Bombo Onge 1724-1760, Abduh alias Pangabobo 1760-1792, Puselembah alias Tedo 1792-1821, Radjangguni 1821, Sawali atau Radja Ali alias Baka Palo 1821-1855, Radja Lolo alias Paledo 1855-1880, I Djengitonambaru 1880-1898 satu-satunya Raja perempuan yang pernah memerintah di Parigi, Hanusu Vinono 1898-1927, Tagunu Hanusu Kerajaan Parigi diperintah oleh seorang Magau (Raja) yang memegang posisi tertinggi di kerajaan Tempat selanjutnya adalah Madika Malolo (Raja/Pangeran Muda) sebagai pewaris takhta.

Dalam mengelola Kerajaan Parigi, Magau mengandalkan dukungan dari penyelenggaraan pemerintahan kerajaan muda atau Libu Nu Maradika, yang dibentuk oleh Madika Matua (semacam perdana menteri), Punggava, Galara sebagai hakim adat, Pabisara sebagai juru bicara, Tadulako sebagai panglima perang, dan Sabandara sebagai panji raja.
Selain Libu Nu Maradika, ada Libu Nto Deya atau Dewan Permusyawaratan Rakyat yang merupakan wakil rakyat berupa Kota Pitunggota (Persatuan Tujuh Desa) dan Kota Patanggota (Persatuan Empat Desa).

Kerajaan Parigi menggunakan sistem kota Patanggota karena Kerajaan Parigi terdiri dari empat desa yang dipimpin oleh Baligau atau Ketua Dewan Adat.

Kerajaan Parigi juga membagi rakyatnya ke dalam strata sosial, golongan tertinggi adalah golongan Madika/Maradika, biasanya keturunan bangsawan. Kelompok berikutnya adalah Totua Nungata, biasanya tokoh adat dan masyarakat. To Dea menempati kelompok berikutnya, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang biasa. Sedangkan orang Batua adalah golongan bawah, biasanya budak.

Berikut itu adalah sejarah singkat Kerajaan Parigi, Sulawesi Tengah (*)

Baca: Oknum Polisi di Sulawesi Tenggara Menganiaya Seorang Bocah

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.