fbpx

Sejarah Singkat Kecamatan Kasimbar Parigi Moutong

waktu baca 3 menit

Berita Parigi Moutong, gemasulawesi- Sejarah Singkat Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong, dahulu Kasimbar dikenal dengan nama Tanainolo yang berarti potongan, masyarakat hidup yang berkelompok-kelompok yang dikendalikan oleh seorang kepala suku Toi Bagis di sebuah daerah bernama Boya.

Kasimbar Daratan sebelumnya dibagi menjadi 7 Boya yaitu: Boya Mayapo, Boya Vintonung, Boya Liovung, Boya Sambali, Boya Tagali, Boya Apes dan Boya Ranang dan dalam kondisi seperti itu perlahan-lahan menciptakan nilai-nilai tradisional Kasimbar yang dikenal dari Pitu Tiang (artinya 7 bagian ) atau nama lainnya yaitu Sanja Pitu.

Suasana seperti sebelumnya berlangsung hingga akhir abad ke-16, ditandai dengan kedatangan rombongan pelaut dari orang-orang Mandar yang dipimpin oleh Puang Tomessu Gelar Arajang Taunai. Tujuan kedatangan orang Mandar adalah untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam, namun sedikit demi sedikit terjadi perkawinan dengan penduduk setempat hingga berhasil melahirkan seorang keturunan yang diberi nama Datu Ranang.

Puang Tomessu juga dikenal sebagai saudagar santun yangdan juga juga dikenal sebagai sosok pemberani, hal ini ditunjukkan dengan kegigihannya melawan bajak laut atau perampok di Maluku utara dengan Bayo Kubang dari Mindannao Filipina hingga akhirnya para perompak mundur, karena keuletan dan keberaniannya itulah Puang Tomessu diakui sebagai pemimpin di daratan

Baca: Pemkab Parigi Moutong Tetapkan Tanggap Darurat Banjir Berlaku 14 Hari

Beberapa penguasa besar yang dikenal menguasai wilayah Kerajaan Kasimbar yaitu, Puang Tomessu diberi Gelar Arajang Taunai 1711-1762, Puataikacci diberi Gelar Puang Logas 1762-1778, Magalattu diberi Gelar Pua Datu Mula 1778-1822, yang memegang kekuasaan sebagai Raja pertama di Moutong yang berkedudukan di Pulau Matoro,Buralangi diberi Gelar Puang Lei 1895, dibantu oleh seorang Olongian yang bernama Sariani Gelar Olongian Gurang berkedudukan di Kasimbar dan Olongian Daeng Malindu yang berkedudukan di Toribut, Pawajoi diberi Gelar Matoa, dibantu oleh seorang Olongian bernama To’eng, Suppu 1899-1901, dibantu oleh seorang Olongian bernama Tanggudi, Malafai sebagai Jogugu dan Lahia sebagai Kapitalau, Lamangkona Gelar Pue Sanjata 1902-1906, Pue Masaile Gelar Paduka Raja Muda 1907-1913, juga dibantu oleh seorang pabicara adat bernama Akas Bin Kadang Malingka, Anteng Palimbui sebagai Jogugu dan Bambalang sebagai Olongian.

Baca: Cicalengka Dreamland : Wahana, Fasilitas, dan Harga Tiket Masuk

Pada masa pemerintahan Raja Pue Masaile Yusuf sekitar tahun 1912, Kerajaan Kasimbar memproklamirkan Kerajaan Parigi sebagai daerah dengan status Lanschap atau Distrik di bawah Onder Afdeeling Parigi, tawaran itu ditolak oleh orang-orang tua Kasimbar. Akhirnya pada tahun 1913 kedudukan distrik ditempatkan di Toribulu dengan Daeng Palewa 1913-1915 sebagai kepala distrik pertama dan pada tahun 1915-1918 pemerintah Belanda mengangkat Raja Muda Masaile menjadi kepala distrik kedua yang berkedudukan di Toribulu. Maka kerajaan Kasimbar tetap tinggalah jadi sebuah kenangan.

Dan karena tuntutan zaman perubahan sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka bekas wilayah Kerajaan Kasimbar menjadi desa/kelurahan di bawah pemerintahan Kecamatan Ampibabo sampai akhir tahun 2004, itulah sejarah singkat Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. (*)

Baca: Pemprov Sulawesi Barat Upayakan Jalin Kerja Sama Ekonomi Jalur Laut

Kunjungi Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.