fbpx

Sejarah Singkat Desa Tomini Parigi Moutong

waktu baca 5 menit
Peta Kecamatan Tomini

Berita Parigi Moutong, gemasulawesi, Sejarah singkat Desa Tomini, Desa Tomini merupakan desa tertua di Kecamatan Tomini yang terletak di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, penduduknya sangat ramah dan menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan persatuan.

Penduduk asli Tomini memiliki bahasa daerah sendiri yaitu bahasa Tialo, kemudian bahasa ini berkembang menjadi empat dialek yaitu, tomini dialek tilao, tomini dialek tajio, tomini dialek lauje, dan tomini dialek dondo.

Suku Tialo terus ini berkembang, meliputi wilayah dari desa Ampibabo hingga desa Podayato (Gorontalo) dan juga utara yaitu desa Dondo dan Dampelas Sojol.

Nama Desa Tomini di ambil dari bahasa Mandar, asal kata “Tau dan Mene” Tau yang artinya orang sedangkan Mene yang artinya naik. Jadi Tau dan Mene adalah orang yang naik atau orang yang datang. Dari nama taumene namanya berubah menjadi toumini, kemudian karena pengaruh bahasa atau dialek Tialo kata toumini berubah kembali menjadi tomini yang masih digunakan oleh masyarakat Tomini pada umumnya.

Baca: Waspadai Virus Cacar Monyet, Pemerintah Diminta Perketat Akses Masuk

Sebelum abad ke-17 Masehi Tomini mulai berkembang dalam pemerintahan, saat itu mereka sudah mulai membentuk struktur pemerintahan sederhana yang dipimpin oleh seorang olongia (orang berpengaruh) bernama Alam dan bergelar Oligia jogugu alam.

Borman Menjadi Raja
Pada tahun 1904-1924, Penggawa Borman diangkat menjadi Raja Kerajaan Moutong dengan wilayah Moutong hingga Tada. Selanjutnya, Raja Borman digantikan oleh H.S. Lahia dari tahun 1925 hingga 1929.

Dilantiknya Raja Kuti Tombolotutu Di Desa Tomini
Pengangkatan raja harus sesuai dengan janji yang telah disepakati, yang menjadi Raja harus merupakan keturunan dari Raja Tombolotutu yaitu Kuti Tombolotutu yang kerajaannya dari tada hingga moutong. Kesepakatan itu juga kemudian disampaikan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Setelah mengetahui bahwa permintaan tersebut telah diterima oleh pemerintah Belanda, pada saat itu penduduk Tomini bergegas untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan pada saat peresmian dilantiknya Raja dan sekaligus penentuan tempat dan waktu peresmian.

11 April 1929 sampai 10 Juni 1929 setelah H.S. Lahia memerintah dari tahun 1925 sampai 1929. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengupayakan pengangkatan seorang raja resmi bernama Kuti Tombolotutu, dan pelantikannya berlangsung di desa Tomini, Sebelum pelantikan berlangsung, masyarakat Tomini telah mempersiapkan pelaksanaan upacara pelantikan yang harus menghormati ketentuan yang biasa berlaku di Desa Tomini, yaitu Raja disumpah dan di lantik duduk diatas batu, istri Raja juga harus duduk disamping raja serta duduk diatas batu , dan juga saat pelantikan Raja harus berjalan diatas kain berwarna putih.

Agar tidak melanggar aturan adat tersebut, masyarakat Tomini segera mencari dua buah batu besar, satu untuk tempat duduk raja dan yang lainnya sebagai tempat duduk istri yang menemaninya saat mengambil sumpah. Batu-batu tersebut kemudian ditemukan di hulu sungai Tomini yang diambil dengan rasa kekeluargaan sehingga kedua batu pengukuhan tersebut sampai di tempat peresmian yaitu di lapangan sepak bola Tomini yang sekarang dikenal sebagai tanah batu Raja Tomini ±2 km dari gunung sungai.

Setelah mendapatkan kedua batu tersebut, Upacara Pelantikan akan dimulai, tetapi sebelum Upacara Pelantikan dimulai, dibentangkan kain putih di sepanjang jalan yang akan diambil calon raja dan pergi ke tempat Pelantikan yang berada di ± 450 dari tepi pantai.

Arti dari kain putih adalah hati yang suci dalam menjalankan pemerintahan, sedangkan arti dari batu adalah hati yang keras untuk menegakkan kebenaran dalam menjalankan pemerintahan.

Upacara pelantikan berlangsung secara resmi pada hari Senin, 10 Juni 1929, di hadapan raja-raja tetangga Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, Gorontalo, dan penduduk Manado, wakil penduduk Donggala Kontro Leur Parigi, dan seluruh penduduk kerajaan dari Moutong.

Baca: Banjir Kembali Terjang 50 Rumah Warga di Kecamatan Tomini

Selain dari gambaran sejarah singkat Desa Tomini juga pelantikan Raja di Desa Tomini, terdapat hal-hal yang menurut fakta juga mengandung unsur sejarah Desa Tomini, sebagai berikut:

Di Desa Tomini, ada sebuah desa kecil bernama Boinampal di desa ini pada awalnya, penduduk desa Tomini adalah petani, dan selain itu mereka membangun benteng untuk membela diri ketika mereka diserang oleh musuh, itu adalah tanda bahwa ratusan tahun yang lalu sudah ada penduduk yang mendiami daerah ini yang meliputi : orang Tomini yang dikenal dengan suku Tialo, kemudian penduduknya bertambah banyak dan didirikan pemukiman baru di sepanjang pantai Tomini dari situlah desa Tomini masih dikenal sampai sekarang.

Di pinggiran kota Tomini terdapat sebuah dusun yang sekarang bernama Popa Jaya. Kota itu selalu disebut dengan nama Popa. Popa berarti hutan jerami milik suku Tambalate. Tambalate adalah sekelompok orang yang tinggal di sini dan berasal dari Sulawesi Selatan. Suatu hari terjadi pertempuran antara suku Tialo dan Tambalate. Kemudian terjadi perang yang dimenangkan oleh suku Tialo, kemudian Tambalate mundur dan berpindah tempat yang akhirnya sampai ke Hulondalangi, sekarang dikenal dengan Gorontalo, yang telah menjadi sebuah provinsi di wilayah utara pulau Sulawesi. Di kota Gorontalo masih ada kota yang bernama Tambalate (Tamalate).

Baca: Telaga Sarangan Wisata Favorit Indonesia

Selain itu, di desa Tomini terdapat sebuah rumah yang menjadi tempat persinggahan raja Kuti Tombolotutu. Rumah tersebut bernama katabang dan terletak di dusun Popa Jaya yang kini telah menjadi desa, atau Tomini Barat. Namun, keberadaan rumah Ketabang tidak diketahui hingga saat ini: ada orang yang mengklaim bahwa rumah tersebut hilang karena luapan air dari Sungai Tomini Barat, yang sering menyebabkan banjir. Rumah Ketabang pada waktu itu digunakan sebagai tempat berkumpulnya toko-toko para pendekar.

Di pantai Tomini juga terdapat bangunan batu berupa tugu oleh masyarakat desa Tomini sejak zaman dahulu, mereka mengenalnya dan menamakannya loji sehingga pantai tersebut dinamakan pantai loji. Bangunan ini merupakan salah satu situs bersejarah di Tomini dan tugu ini diperkirakan berusia tidak kurang dari 350 tahun dan dianggap sebagai peninggalan Portugis atau Belanda pada zaman VOC pada abad ke-17 Masehi.

Demikian sejarah singkat terbentuknya Desa Tomini Kabupaten Parigi Moutong semoga menambah ilmu dan pengetahuan kita semua terhadap budaya bangsa khususnya budaya Kabupaten Tomini. (*)

Baca: Manager Operasional CV. AJ Jadi Tersangka Penimbunan Minyak Goreng

Kunjungi Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.