Ribuan Pengungsi Korban Kerusuhan Wamena Butuh Bantuan Logistik

0
186
Ribuan Pengungsi Korban Kerusuhan Wamena Butuh Bantuan Logistik
Ratusan Pengungsi Keluar Dari Wamena (Foto: Twitter Azzam)

Parimo, gemasulawesi.com Ribuan pengungsi korban kerusuhan Wamena Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua membutuhkan bantuan logistik.

Terdapat sekitar 5500 warga pengungsi di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya membutuhkan makanan, pakaian dan barang-barang kebutuhan anak-anak dan perempuan.

“Warga korban kerusuhan umumnya hanya membawa baju di badan saja,” ungkap Komandan Distrik Militer 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto, dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu, 28 September 2019.

Ia mengatakan, bantuan pangan dari pemerintah untuk pengungsi korban kerusuhan Wamena baru mampu mendukung satu posko pengungsian yaitu posko pengungsian Gedung Okumarek yang dibuka Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

Pihaknya meminta, agar informasi kebutuhan pengungsi korban kebutuhan warga Wamena dapat disebarkan secara luas untuk memungkinkan bantuan logistik dapat datang secepatnya.

Hingga kini lanjut dia, Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya hanya menyalurkan bantuan logistik yang masih tersedia di markas.

“Pengungsi tidak mau ke Okumarek. Warga maunya di Kodim, sementara dapur lapangan Pemda ada di Okumarek,” terangnya.

Ia menambahkan, selain pakaian dan makanan, pengungsi juga membutuhkan susu untuk balita, popok bayi, dan pembalut untuk perempuan.

Sebagai informasi, kerusuhan pecah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Senin, 23 September 2019 lalu. Aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan orang berujung pada perusakan fasilitas publik hingga kantor bupati.

Sementara itu dilansir dari laman newshunter.com, sebanyak 327 Kepala Keluarga (KK) perantau minang di Wamena meminta kepada Pemerintah provinsi (Pemprov) Sumatera barat (Sumbar).

Pengungsi korban kerusuhan berharap dapat dipulangkan ke kampung halaman karena sudah tidak memiliki usaha dan harta benda di Papua.

“Sekitar 900 orang dari 327 KK sekarang menyelamatkan diri di tenda pengungsian dan berharap untuk bisa pulang ke kampung halaman,” kata Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) Papua, Zulhendri Sikumbang.

Selain pendidikan anak yang terlantar kata dia, hidup di tenda pengungsian sangat berat bagi bayi dan balita. Karena itu mereka sangat berharap bisa pulang ke kampung halaman bertemu dengan sanak keluarga, tambahnya.

Ia mengklaim sudah mencoba berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar. Namun, karena jumlah perantau yang sangat banyak dan butuh dana sangat besar untuk kembali ke Padang menjadi sedikit terhambat.

“Untuk memulangkan ratusan perantau Minang yang ada di Wamena ke sumbar Pemerintah Sumbar tengah berkoornasi dengan pemerintah setempat,” tutupnya.

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan