Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Remaja Pelaku Pembunuhan di Barru Diancam 15 Tahun Penjara

Remaja Pelaku Pembunuhan di Barru Diancam 15 Tahun Penjara
Foto: Illustrasi pelaku pembunuhan.

Gemasulawesi– Remaja pelaku pembunuhan di Barru, Sulsel, berinisial A (14) dijerat dengan diancam hukuman 15 tahun penjara karena diduga menjadi pelaku pembunuhan.

“Pelaku diduga membunuh pacarnya berusia 13 tahun ditemukan tewas di Kabupaten Barru. Anggota kami sedang menyelidiki lebih lanjut motif pelaku,” ungkap Kapolres Barru, AKBP Liliek Tribhawono, dalam keterangannya, Selasa 31 Agustus 2021.

Baca juga: Diduga Edarkan Sabu, Polisi Ringkus Warga Tatanga Kota Palu

Terkait motif, dia menyebut pelaku di Barru itu sudah mengungkapkan alasannya. Namun polisi masih enggan mengungkap lebih lanjut.

“Kalau pelaku sudah ada pengakuan. Tapi kita masih harus menunggu hasil autopsi biar ini semua valid,” katanya.

Kasus pembunuhan korban kata dia, berawal saat korban pamit kepada orang tuanya untuk belajar ke rumah temannya pada Kamis 27 Agustus 2021.

Korban pun diantar ayahnya ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumah korban di wilayah Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.

Dari rumah rekannya, ternyata korban kemudian dijemput pelaku hingga tiba di Desa Lompo Tengah. Di area kebun inilah korban dianiaya pelaku.

“Jadi pelaku ini diduga Aan. Hasil pemeriksaan, korban dicekik, kemudian dipukul batu dua kali,” sebut Liliek.

Sebelumnya, kasus ini berawal ketika korban tak pulang ke rumah setelah pamit belajar ke rumah temannya pada Kamis 27 Agustus 2021. Pada keesokan harinya, orang tua korban melapor ke polisi.

Kemudian pada Sabtu 28 Agustus korban ditemukan tewas di kebun warga dengan sejumlah luka berat, yakni luka pada kepala dan leher korban.

Baca juga: Satgas Penanganan Covid19 Sasar Remaja untuk Jalani Vaksinasi

Pelaku Aan ditetapkan menjadi tersangka

AKBP Liliek mengatakan, akibat perbuatannya Aan ditetapkan menjadi tersangka dengan dijerat Pasal 81 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Diketahui, pada Pasal 81 ayat (1) sanksi berupa pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

Jika persetubuhan atau perkosaan itu dilakukan orang tua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga kependidikan, aparat yang menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama, pidananya ditambah 1/3 (sepertiga).

Kemudian dalam hal tindak pidana persetubuhan atau perkosaan itu menimbulkan korban lebih dari satu orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, pelaku dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. Hal ini diatur pada Pasal 81 ayat (5)

Selain itu berdasarkan Pasal 81 ayat (6) pelaku juga dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku, dan berdasarkan Pasal 81 ayat (7) pelaku juga dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

Kemudian larangan melakukan kekerasan seksual dalam bentuk perbuatan cabul tercantum pada Pasal 76E. pada pasal 76E dikatakan “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul”. (***)

Baca juga: Pelaku Pemerkosaan Anak di Maluku Utara Dijerat Pasal Berlapis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post