Rekrutmen Relawan PMI, Diduga Modus Peroleh Suara Pilcaleg

0
54
SHARE

Laporan: Ahmad Nur Hidayat

Parigi, Gemasulawesi.com- Pengrekrutan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parimo, yang dimulai sejak 18 sampai 27 Desember 2018, dinilai merupakan modus mendapatkan suara dalam Pemilihan Calon Legislatif (Pilcaleg) 2019 nanti. Kuat dugaan PMI Parimo dijadikan sebagai kuda politik untuk memenangkan Ketua PMI Parimo Noorwachida Prihantini Tombolotutu, yang juga merupakan istri Bupati Parimo Samsurizal Tombolotutu.

PMI Parimo disebut-sebut sebagai salah satu kuda politik  yang turut memenangkan Noorwachida Prihantini Tombolotutu pada perhelatan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 nanti. Pasalnya, hingga kini Istri Bupati Parimo tersebut belum juga mundur dari posisi ketua PMI Parimo, bahkan terlihat masih terlibat di kegiatan PMI dalam penanggulangan bencana gempa di Parimo, masa Tanggap Darurat Bencana (TDB) beberapa waktu lalu. Padahal, sebelumnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Noorwachida masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT), Pemilihan legislatif (Pileg) DPRD Propinsi Sulawesi Tengah Daerah Pilih (Dapil) Kabupaten Parimo.

Koordinator lapangan (Korlap) TDB PMI Parimo Zulfinachri, melalui wakilnya Nur Srikandi Puja kepada media ini, Senin 17 Desember 2018, diposko bencana PMI Parimo membantah hal tersebut. Menurutnya, selain kegiatan tersebut telah teragendakan, PMI Parimo saat ini sedang kekurangan tenaga relawan, sehingga tidak ada hubungannya dengan keterlibatan PMI dalam politik praktis.

”Dari sekitar 60an tenaga sukarela yang tergabung dalam Korp Sukrela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR) PMI, yang aktif hanya sekitar 10an orang,” ujarnya.

Ia menuturkan, pengrekrutan tersebut juga menjadi hal yang sangat di butuhkan saat ini, mengingat masa pemulihan terhadap bencana yang melanda wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi (Pasigalapar) yang ditetapkan oleh PMI pusat adalah 20  bulan,  sehingga pengrekrutan relawan PMI bukanlah modus untuk mendapatkan pundi-pundi suara pada pileg nanti.

Terkait satus ketua PMI kata ia, pasca Noorwachida berniat ikut terlibat dalam kontestasi politik, dirinya sudah tidak mengaktifkan diri dari lembaga Kemanusiaan tersebut, namun terkait keterlibatannya dalam masa TDB beberapa waktu lalu menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan mengingat keadaan yang mendesak dan urgen dalam pengambilan keputusan.

Selain itu kata ia, pihak PMI pun dilarang menyalurkan bantuan yang berasal dari Partai Politik manapun, hal tersebut sejalan dengan prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan merah internasional yang ke tiga yaitu PMI harus besikap netral dalam menjalankan misi kemanusiaan, tidak menguntungkan atau merugikan siapa pun dan pihak manapun.

“Sepengetahuan saya, ibu itu sudah tidak mengaktifkan diri di PMI, setelah dia maju nyaleg, hanya saja memang hingga  saat ini secara administrasi dari PMI propinsi juga belum ada, tapi berdasarkan aturan organisasi juga menjelaskan, siapa saja yang terlibat dalam kontestasi politik dinyatakan cuti oleh lembaga ini,” tuturnya.


SHARE

Tinggalkan Balasan