Ramah Lingkungan, Ganti Plastik Bungkus Daging Kurban Dengan Besek

    0
    199
    Ramah Lingkungan, Ganti Plastik Dengan Besek Bungkus Daging Kurban
    Media besek untuk daging kurban (Foto: Ist)

    Parimo, gemasulawesi.com Ramah lingkungan, banyak pihak meminta warga menggunakan bambu atau sebutannya besek sebagai pengganti wadah plastik untuk distribusi daging kurban.

    Beberapa kepala daerah juga telah mengimbau panitia kurban membagikan daging dengan membungkusnya menggunakan besek. Sebagai upaya memperbaiki penggunaan plastik sekali pakai.

    Di Jakarta, Gubernur DKI Anies Baswedan melalui Seruan Gubernur DKI No. 4 tahun 2019. Tentang Pemotongan Hewan Kurban dalam Rangka Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah tahun 2019 yang dikirim sebagai wadah untuk daging kurban.

    “Gunakan semua yang dapat didaur ulang. Yang paling gampang itu namanya besek,” ujar Anies.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga meminta panitia kurban tidak menggunakan plastik untuk mengirimkan daging. Ia memilih menggunakan besek atau daun pisang sebagai wadah daging kurban yang akan dibagikan kepada warga.

    “Saya kira itu budaya daerah yang layak dikembangkan,” kata Ridwan Kamil.

    Seperti diketahui, plastik menjadi salah satu benda yang menjadi penyumbang pencemaran Lingkungan. Plastik dapat mencemari tanah, bahkan udara. Di udara, plastik hanyut di lautan dan bisa mencemari biota laut. Plastik di tanah sangat lama terurai. Sementara plastik yang dikeluarkan zat kimia yang berbahaya bagi yang menghirup.

    Penggunaan besek, selain sehat juga bermanfaat secara ekologis karena ramah lingkungan. Hal itu disampaikan Kepala Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Barat (Jabar), I Prayata Tangguh Waskita.

    Berdasarkan hasil penelitian, bambu memiliki kandungan yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dalam daging.

    “Bambu ini bisa sebagai antibiotik. Dari hasil analisis strukturnya, memang bisa menghambat bakteri,” ujar Prayata.

    Selain itu, bentuk besek yang berpori-pori besar mendukung sirkulasi udara dalam daging. Menghasilkan bakteri akan cepat terjadi. Semakin panas tempat daging tumbuh, maka semakin cepat pula pertumbuhan bakteri di dalam daging.

    Selain besek, penggunaan daun pisang atau daun jati yang biasa dipakai di dalam besek juga bermanfaat besar. Dengan cara itu, sirkulasi udara sekitar daging mengalir dengan baik.

    “Jika dlihat lebih dekat, misalnya dengan mikroskop, maka tampak lapisan yang tajam. Layaknya jarum-jarum yang timbul pada bagian permukaan daun. Corak seperti ini bagus untuk mendukung sirkulasi udara,” kata Prayata.

    Prayata mengimbau petugas kurban untuk sesegera mungkin mengedarkan daging kurban. Maksimal dalam waktu empat jam setelah penyembelihan. Pasalnya, pada suhu normal, pertumbuhan bakteri akan semakin cepat.

    Setelah diterima, daging kurban pun bisa langsung dimasak atau disimpan di lemari pendingin. Pastikan warna daging atau aroma yang muncul darinya. Bila daging kurban dicampur dengan jeroan dalam satu wadah yang sama, maka bakteri besar lebih cepat menyebar karena jerohan banyak mengandung bakteri.

    “Jadi tolong semua petugas hewan kurban, jangan satukan daging dengan jeroan. Itu akan mempercepat pertumbuhan bakteri,” pungkasnya.

    Sumber: tokohinspiratif.id

    Tinggalkan Balasan