PT PLN Bantu Petani Senilai Rp4,84 Miliar Tingkatkan Produktivitas

waktu baca 2 menit
Foto: PT PLN Bantu Petani di masa pandemi.

Berita nasional, gemasulawesiPT PLN bantu petani senilai Rp 4,84 Miliar melalui PLN Peduli mengalokasikan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TSJL), untuk mendukung sektor pertanian.

“Diharapkan program-program Electrifiying Agriculuture ini mampu meningkatkan produktivitas dalam sektor pertanian sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi dalam rilis tertulis, Selasa 6 Juli 2021.

Electrifiying Agriculture merupakan program pemanfaatan teknologi dan energi listrik guna meningkatkan produktivitas pertanian. Berupa pertumbuhan tanaman atau pengolahan infrastruktur pendukung pertanian, peternakan, maupun perikanan.

Salah satu lokasi program PLN bantu petani adalah di Desa Betet, Ngrongggot, Ngajuk, Jawa Timur yang dikenal sebagai Wisata Tani Listrik Terpadu Betet.

Baca juga: CSR Listrik Gratis PLN, Jangkau Warga Miskin di Sulawesi Tengah

Tidak hanya menawarkan wisata, Desa Betet juga digunakan sebagai tempat pertanian milenial mengkolaborasikan penerapan teknologi dengan sektor pertanian.

“Dalam sektor pertanian green house menggunakan sinar ultraviolet untuk mempercepat masa tanam pada tanaman hidroponik seperti tanaman sawi pakcoy (bok choy), kangkung, bayam, serta penggunaan springkle pada lahan bawang agar dapat terairi secara baik,” tuturnya.

Baca juga: Meski Pandemi Corona, Sulteng Tetap Izinkan Objek Wisata Beroperasi

Selain Desa Betet, melalui program PLN bantu petani untuk Sang Naga PLN juga telah membantu peningkatan produktivitas petani buah naga di Banyuwangi.

Berkat program PLN bantu petani itu, panen buah bisa dilakukan sepanjang tahun, penyinaran pada 1 hektare lahan dapat menghasilkan 77 ton buah naga per tahun, atau naik sampai empat kali lipat.

Baca juga: Sulawesi Tengah Terima Bantuan Sarana Alat Kesehatan

Dampak program PLN bantu petani turut dirasakan warga, hingga Juni 2020 tercatat 6.618 petani buah naga telah memanfaatkan listrik sebagai teknologi untuk menyinari ladang mereka.

“Efek domino dari program ini membantu menciptakan banyak lapangan kerja yang tumbuh dari sektor pendukung pertanian buah naga, mulai dari berbagai usaha pengolahan buah naga, hingga munculnya kelompok sadar wisata yang menjadikan ladang buah naga sebagai destinasi agrowisata, seperti agrowisata petik jeruk dan buah naga,” ungkap Agung.

Baca juga: 24 Ribu Jiwa Sudah Disuntik Vaksin Covid 19 di Parigi Moutong

Sementara, Ketua Kelompok Tani Achmad Syaikhu mengatakan, kegiatan Wisata Tani Listrik Terpadu Betet berjalan sesuai arahan dari pemerintah dan dengan penerapan protokol kesehatan. (***)

Baca juga: Gubernur Sulawesi Tengah Instruksikan PTM Terbatas Ditunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.