Proyek Bahan Baku Baterai Indonesia Mengancam Dunia

waktu baca 2 menit
Foto: bahan baku pembuatan baterai lithium.

Berita nasional, gemasulawesi– Berbagai proyek baru pemenuhan bahan baku baterai akan segera hadir di Indonesia dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Kemungkinan kekurangan pasokan secara signifikan baru akan terjadi menjelang akhir dekade ini.

Diperkirakan dunia akan mengalami kekurangan pasokan komoditas mineral seperti nikel, lithium dan kobalt.

Terutama ketika dunia berbondong-bondong menuju transisi energi baru terbarukan guna mengurangi emisi karbon.

Itu seiring dengan permintaan untuk baterai kendaraan listrik akan melonjak seiring sejumlah negara maju terus menggencarkan pemakaian kendaraan listrik.

Perkiraan lonjakan baterai kendaraan listrik ini berpotensi berdampak pada prospek kekurangan pasokan bahan baku mineral itu, termasuk nikel.

Mengutip Reuters, Jumat 2 Juli 2021, harga lithium tinggi telah gagal untuk memacu investasi dalam kapasitas baru karena harga kontrak jangka panjang lebih rendah.

Sementara masalah pasokan kobalt adalah sebagian besar merupakan produk sampingan dari tembaga, berarti keputusan investasi didasarkan pada harga tembaga.

Baca juga: Pasokan Solar Langka, Petani di Parimo Menjerit

Lithium.

George Miller dari BMI memperkirakan defisit LCE sebesar 25.000 ton tahun ini dan memperkirakan akan mengalami defisit akut mulai tahun 2022.

Baca juga: Presisi Jajaki Kontrak Tambang Nikel di Morowali Utara, Sulawesi

Kobalt.

Analis di Roskill memperkirakan permintaan kobalt akan meningkat menjadi 270.000 ton pada 2030 dari 141.000 ton tahun lalu.

CRU memperkirakan permintaan kobalt dari kendaraan listrik mencapai lebih dari 120.000 ton, atau hampir 45% dari total, pada tahun 2025 dibandingkan dengan hampir 39.000 ton, atau 27%, pada tahun 2020.

Nikel.

Baca juga: Bupati Samsurizal: Isu Tanah Potensi Nikel Menyesatkan

Diperkirakan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Indonesia akan menghasilkan antara 400.000-600.000 ton nikel per tahun untuk sebagian besar dekade ini.

Pasokan nikel global diperkirakan sekitar 2,6 juta ton tahun ini. Dari jumlah itu, sekitar dua pertiganya akan digunakan untuk stainless steel, sebagian besar di China, sementara konsumsi kendaraan listrik kurang dari 10 persen.

Baca juga: Warga Demo Tuntut Evaluasi Izin Tambang Nikel di Banggai

Tsingshan mengatakan pada bulan Maret akan memasok 100.000 ton nickel matte kepada pelanggan.

“Ada operator lain di Indonesia yang bisa mengikuti Tsingshan,” kata analis BoA Securities Michael Widmer, yang memperkirakan pasokan NPI berkontribusi pada surplus pada 2024 dan 2025. (**)

Baca juga: Pohon Roboh Timpa Satu Rumah di Parimo Sulawesi Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.