Potensi Penyalahgunaan BLT Pandemi Corona

waktu baca 3 menit
Ilustrasi Dana Bansos

Opini, gemasulawesi– Pemerintah telah mengeluarkan beragam kebijakan untuk meringankan beban hidup warga selama masa pandemi virus corona kebijakan itu salah satunya Bantuan Langsung Tunai atau dikenal dengan sebutan BLT.

Alokasi pemberian BLT selama pandemi corona terbagi dalam tiga tingkatan dengan merujuk pada besaran dana desa yaitu desa yang memiliki anggaran kurang dari Rp800 juta BLT dialokasikan sebesar 25 persen.

Desa dengan anggaran Rp800 juta hingga Rp1,2 miliar mengalokasikan BLT sebesar 30 persen. Sementara desa dengan anggaran diatas Rp1,2 miliar BLT mengalokasikan 35 persen.

Dana desa akan fokus ke tiga hal yaitu Penanganan virus corona, Program Padat Karya Tunai Desa dan BLT. BLT Dana desa tersalurkan sesuai peruntukkannya adalah menjadi harapan besar.

Namun demikian, dana BLT memiliki celah kerawanan dalam penyalurannya.  Merujuk pada beberapa peristiwa bantuan sosial yang disalahgunakan oknum pejabat atau pemerintah daerah/pemerintah desa.

Misalnya, menurut data dari KPK beberapa waktu lalu, seperti mantan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dihukum 6 tahun penjara serta denda Rp200 juta secara sah karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi dana hibah dan Bansos.

Contoh lainnya ialah mantan Sekda Tasikmalaya, Abdul Kodir divonis 1 tahun 4 bulan pidana terkait korupsi dana bansos juga. Dan mantan ketua DPRD Bengkalis, Riau, Heru Wahyudi, divonis 18 tahun karena korupsi dana bansos.

Merujuk pada beberapa kasus itu tentu menjadi cermin, BLT dana desa juga memiliki peluang yang sama untuk disalahgunakan oknum tertentu.

Kita pantas berkaca dan mengawal bahwa BLT harus sampai ke masyarakat sesuai dengan data penerima yang sah dan layak (tepat sasaran).

Paling tidak dengan menyesuaikan skala prioritas penerima BLT melalui DD sehingga bisa dikatakan jauh dari perilaku korupsi dan nepotisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.