Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Populasi Burung Maleo Meningkat di Sulawesi Tengah

Populasi Burung Maleo Meningkat di Sulawesi Tengah
Foto: Hewan endemik burung Maleo.

Gemasulawesi– Tercatat, dalam rentang waktu 2006 hingga 2020 terjadi kenaikan populasi burung Maleo di Libuun Sulawesi Tengah, hingga 70 ekor. Berkurangnya kegiatan pengambilan telur Maleo, dan disertai dengan menjaga habitat menjadi faktor utama pertumbuhan populasi.

“Kenaikan Maleo di Libuun dari data jumlah maksimal per tahun dari observasi dalam rentang waktu 2006-2020 adalah dari 28 ekor pada tahun 2006 menjadi 98 ekor di 2019/2020,” ungkap Peneliti Lembaga Ilmu dan Pengetahuan (LIPI) Mohammad Irham, belum lama ini.

Konservasi dinilainya berhasil menaikkan populasi burung Maleo di Sulawesi Tengah meningkat. Sebab, berdasarkan penelitian dilakukan Tasirin dan tim di dua lokasi di Tompotika, yakni Libuun dan Kaumksongi. 

Baca juga: Genjot Produktivitas, Buol Gunakan Peternakan Sapi Mini Ranch

Meskipun untuk wilayah Kaumosongi, Sulawesi Tengah, populasi burung Maleo tidak besar jumlahnya kata dia, namun ada kenaikan maksimal per tahun, yaitu mulai dari dua ekor di tahun 2014 akhir menjadi 6 ekor di tahun 2019.

Kegiatan konservasi di Tompotika berhasil mencatat kenaikan populasi burung Maleo berkunjung ke tempat penetasan, seiring dengan berhasilnya usaha konservasi bersama masyarakat untuk mengurangi sampai menghilangkan kegiatan pengambilan telur.

Hal ini menunjukkan bahwa secara umum faktor utama pendorong kepunahan satwa di habitatnya, adalah perburuan tidak terkendali dan melampaui kemampuan reproduksi dari satwa itu sendiri.

“Oleh karena itu, tidak heran saat ini fenomena ‘hutan sunyi’ dapat dijumpai dimana-mana,” tuturnya.

Kondisi ekosistem hutan saat ini masih cukup baik, tetapi sangat sulit untuk berjumpa satwa karena populasinya menurun akibat perburuan.

780 butir telur maleo ditanam dalam kandang penetasan semi alami

Diketahui, pada tahun 2019 lalu berdasarkan data di BKSDA Sulawasi Tengah, sebanyak 780 butir telur maleo ditanam dalam kandang penetasan semi alami di SM Pinjan Tanjung Matop, Tolitoli.

Dari jumlah itu menetas sebanyak 664 ekor serta, sedangkan jumlah anakan maleo yang dilepasliarkan ke habitanya sebanyak 570 ekor. Jumlah itu belum terhitung hingga akhir waktu musim bertelur.

Oleh International Union For Conservation of Nature (IUCN), spesies burung dengan nama latin Macrocephalon maleo itu dimasukkan masuk dalam kategori endangered atau terancam.

Sedangkan, Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna-Flora (CITIES), satwa endemik atau yang hanya ada di Pulau Sulawesi itu, masuk sebagai Appendix 1 berarti langka. (***)

Baca juga: Sambut HPS, DPUPRP Parigi Moutong Bangun Kandang Ternak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post