Banner Disperindag 2021 (1365x260)

PMI Parimo Minta Dukungan Pemda Bangun Unit Transfusi Darah

PMI Parigi Moutong Minta Dukungan Pemda Bangun Unit Transfusi Darah
Foto: Transfusi darah

Gemasulawesi- PMI Parimo, Sulteng minta dukungan Pemda bangun unit transfusi darah, mengingat kebutuhan darah merupakan masalah setiap tahun bagi resipien atau penerima darah.

“Ini merupakan bagian rencana jangka panjang kami, karena kebutuhan daerah banyak sekali. Itu tidak terlepas dari dukungan pemerintah,” ungkap Kepala Markas PMI Parimo, Srikandi Puja Passau dihubungi, Selasa 27 Juli 2021 malam.

PMI Parigi Moutong membutuhkan dukungan anggaran dan peralatan donor darah.

Baca juga: SAR Cari Pekerja Tambang Hanyut di Morowali Utara

Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Pemda melalui Sekda, terkait dukungan untuk membuat unit transfusi darah PMI.

Untuk lahan kata dia, PMI telah menyiapkan lahan untuk pembangunan gedung Unit Transfusi Darah itu. Namun, masih terkendala dengan anggaran pembangunannya.

Bahkan, Sekda telah melakukan komunikasi dengan direktur RSUD Anuntaloko Parigi, peralatan donor darah di UPTD yang akan dialihkan ke PMI untuk kebutuhan unit transfusi darah.

“Karena memang aturan Permenkes kemarin itu, rumah sakit itu hanya untuk Bank Darah, bukan unit transfuse. Hanya saja, karena ada revisi dibolehkan membuka unit transfuse itu,” jelasnya.

Kondisinya saat ini, jika ada kasus pasien membutuhkan darah dari wilayah utara Parimo, harus dirujuk hingga ke rumah sakit di ibu kota kabupaten. Padahal, di rumah sakit Tombolotutu, sudah memiliki Bank Darah, tetapi tidak difungsikan. Sebab, peralatan dan petugas belum memadai.

“Kalau itu sudah buka, sebenarnya pasien di wilayah sana tidak harus kesini. Kita bantu menyediakan stok darah di Bank Darah rumah sakit disana,” ujarnya.

Baca juga: Ratusan Juta Anggaran Stok Darah BLUD RSUD Anuntaloko ‘Tidak Jelas’

PMI butuh pengadaan Alkes

Terkait ketersediaan peralatan, PMI saat ini tengah melakukan komunikasi dengan perusahaan Alkes, dengan sistem pembayaran bertahap atau dicicil. Sebab, biaya pengadaan peralatan ini sangat besar, PMI tidak mampu membiayai menggunakan anggaran operasional.

Tetapi kata dia, jika didukung dengan keberadaan UTD PMI akan mendapatkan anggaran hibah dari pemerintah daerah. Sehingga, dapat membayar pengadaan Alkes itu.

“Kalau kita melihat Provinsi dana hibah ke PMI mencapai Rp2 miliar. Karena biaya pengelolaan UTD besar, untuk honor tenaga pembantu, dokter, dan perawat,” paparnya.

Dengan letak geografis Parimo keberadaan UPTD di rumah sakit, tidak bisa maksimal. Sebab, tugas sebenarnya hanya menyiapkan darah pengganti, atau tidak dapat melakukan pengambilan darah keluar dari rumah sakit. 

Namun, berbeda dengan PMI dapat melakukan sosialisasi donor darah, dan melakukan pengambilan darah secara luas.

Baca juga: Masa Pemulihan Bencana Sulawesi Tengah, Bantuan PMI Terus Mengalir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post