Petinggi Bea Cukai Diduga Gelapkan Emas Puluhan Triliun

waktu baca 3 menit
Foto: Illustrasi petugas bea cukai.

Berita nasional, gemasulawesi– Petinggi Bea Cukai di Bandara Soekarno Hatta (Soetta) diduga melakukan penggelapan emas senilai Rp 47,1 Triliun. Melibatkan delapan perusahaan tambang di Indonesia.

“Ini ada masalah penggelapan, ini ada maling terang-terangan. Saya ingin sampaikan coba diperiksa kepala kantor pelayanan utama Bea dan Cukai Soekarno Hatta, namanya inisialnya FM, apa yang dilakukan, Pak? Ini terkait impor emas senilai Rp 47,1 triliun,” ungkap Anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP Arteria Dahlan dalam rapat bersama Jaksa Agung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 14 Juni 2021.

Atas dugaan itu, Komisi III DPR Fraksi PDIP meminta Jaksa Agung mengusut tuntas kasus itu.

Terdapat indikasi perbuatan manipulasi, atau pemalsuan produk emas ketika masuk petinggi Bea Cukai Bandara Soetta. Ia menyebut produk emas itu tidak dikenakan biaya pajak.

Baca juga: Musnahkan Barang Kena Cukai Ilegal, KPPBC Palu Cegah Kerugian Negara Ratusan Juta Rupiah

“Apa yang dilakukan? Ada indikasi perbuatan manipulasi, pemalsuan, menginformasikan yang tidak benar, sehingga produk tidak dikenai bea impor, produk tidak dikenai pajak penghasilan impoor. Potensi kerugian negaranya Rp 2,9 triliun. Ini bukan uang kecil di saat kita lagi susah, Pak,” katanya.

Jaksa Agung juga diminta untuk memeriksa delapan perusahan terlibat, dalam dugaan petinggi bea cukai gelapkan emas itu.

“Saya minta juga periksa PT Aneka Tambang, dirutnya diperiksa, vice president-nya diperiksa. Kenapa? setiap ada perdebatan di Bea Cukai datang itu Aneka Tambang mengatakan ini masih memang seperti itu sehingga biaya masuknya bisa 0 persen. Padahal emas itu sudah siap jual. ini maling kasat mata. Saya akan berikan nanti dokumen penyelewengan impor emas batangan di bea cukai,” ujarnya.

Penyelewengan yang dimaksud itu, yakni adanya perubahan data emas ketika masuk di Bandara Soetta.

Emas yang semula dikirim dari Singapura berbentuk setengah jadi dan berlabel. Namun, ketika sampai di Bandara Soetta emas itu diubah lebel menjadi produk emas bongkahan. Sehingga, tidak dikenakan pajak ketika masuk di Bandara Soetta.

“Singkatnya ini emas biasa, semua emas diimpor dari Singapura, ada perbedaan laporan ekspor dari negara Singapura ke petugas Bea Cukai, waktu masuk dari Singapura barangnya sudah benar, Pak, HS-nya 71081300 artinya kode emas setengah jadi,” ujarnya.

Di Indonesia barang itu seharusnya dikenakan biaya impor lima persen, dan pajak penghasilan impor 2,5 persen. Namun, tiba di Bandara Soetta, kode itu berubah, saat dicatat di dokumen pemberitahun dokumen impor.

“Yang tadi sudah berbatangan, berlabel jadi seolah dikatakan sebagai bongkahan, kodenya dicatat 71081210 artinya emas bongkahan. Konsekuensinya emas bongkahan tidak kena biaya impor, tidak kena lagi yang namanya PPh impor,” lanjut Arteria.

Delapan nama perusahaan disebut Anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP Arteria Dahlan terlibat dalam kasus itu:

  1. Perusahaan Jardin Trako utama
  2. PT Aneka Tambang
  3. PT Lotus Lingga Pratama
  4. PT Royal Rafles Capital
  5. PT Viola Davina
  6. PT Indo Karya Sukses
  7. PT Karya Utama Putera Mandiri
  8. PT Bumi Satu Inti. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.