Peringatan Dini Cuaca BMKG di Sulawesi Tengah

waktu baca 2 menit
Foto: Rilis Peringatan Dini Cuaca BMKG di Sulawesi Tengah

Berita sulawesi tengah, gemasulawesiBMKG keluarkan peringatan dini cuaca terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat melanda beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah.

Rilis peringatan dini cuaca BMKG di Sulawesi Tengah pukul 08.40 Wita, hujan sedang hingga lebat dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang pada pukul 00.30 Wita di seluruh wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi, Touna, Banggai, Bangkep dan Banggai Laut.

BMKG juga menyebut kondisi cuaca itu dapat meluas ke wilayah Kabupaten Poso, Morowali, Tolitoi dan sekitarnya.

Baca juga: BMKG Perkirakan Hujan Lebat Landa Sulawesi Tengah Selama Sepekan

“Kondisi ini dapat berlangsung hingga pukul 11.00 Wita,” bunyi rilis BMKG.

Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati, PhD mengungkapkan sedikitnya ada lima potensi ancaman bencana yang bakal terjadi akibat fenomena La Nina di Indonesia.

Fenomena yang akan berlangsung pada Oktober 2020 hingga Maret 2021 ini akan meningkatkan curah hujan 20-40 persen dari biasanya.

Khusus pada Desember, kondisi itu akan diperparah dengan munculnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) dari Samudera Hindia.

Baca juga: Curah Hujan Tinggi, BPBD Minta Warga Sigi Sulteng Siaga Bencana

Fenomena MJO sedang berlangsung di garis tropis Indonesia pada 18-24 Oktober, tapi saat ini La Nina belum pada puncaknya.

Begitu juga musim penghujan baru dimulai sehingga tidak terlihat ekstrem dampaknya. Tapi MJO diperkirakan akan kembali pada Desember bertepatan dengan puncak La Nina.

Curah hujan yang sangat tinggi kemungkinan akan memunculkan bencana hidrologis berupa banjir atau banjir bandang, longsor, angin kencang dan puting beliung.

Bila tidak diantisipasi dengan baik, semua itu akan merusak banyak infrastruktur, terutama rusaknya lahan pertanian dan perkebunan sehingga mengganggu ketahanan pangan.

Baca juga: Forkopimda Ingatkan Kewaspadaan Potensi Bencana La Nina

Selain itu, berbagai bencana itu juga akan mengganggu kehidupan masyarakat sehingga harus mengungsi. Karena saat ini juga tengah ada pandemi, dikhawatirkan juga akan memicu timbulnya wabah lain.

Salah satu dampak terburuk La Nina pada 2010. Saat itu 8,1 persen dari 13,5 juta hektare lahan persawahan rusak akibat banjir.

Belum lagi kerusakan infrastruktur lainnya, jumlah warga yang mengungsi, serta terganggunya berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.

Baca juga: BMKG: Frekuensi Bencana La Nina Berpotensi Naik

Baca juga: Cegah Fenomena Pernikahan Dini, Kota Palu Gelar Rakor

Laporan: Rafiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.