2Banner GIF 2021

Peran Penting Keluarga Proteksi Anak dari Kekerasan Seksual

Peran Penting Keluarga Proteksi Anak dari Kekerasan Seksual
Foto: Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Parigi Moutong, Hj Noor Wachida Priartini Tombolotutu.

GemasulawesiKetua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Parigi Moutong, Hj Noor Wachida Priartini Tombolotutu sebut peran penting keluarga menerapkan proteksi dini kepada anak agar tidak menjadi korban kekerasan seksual.

“Proteksi yang dilakukan itu, mulai dari cara anak berpakaian, kontrol aktifitas anak secara menyeluruh dan lingkungan sosial anak. Baik itu ditempat tinggal hingga sekolah,” ungkap Hj. Noor Wachida Priratini Tombolotutu, saat dihubungi, belum lama ini.

Dia mengatakan, para pelaku dalam kasus kekerasan seksual terhadap di Parigi Moutong, merupakan keluarga terdekat, baik ayah, paman, kakek, tentangga hingga guru di lingkungan sekolah.

Baca juga: P2TP2A Parimo Kawal Kasus Penganiayaan Anak Libatkan Oknum Polisi

Terkadang, proteksi yang tidak menyeluruh terhadap anak, karena melihat usia atau pemahaman anak, membuat orang tua lengah dalam pengawasan dan upaya memberikan perlindungan.

Contoh kasus kata dia, orang tua terkadang lengah memantau anak lainnya, saat terfokus kepada salah satu anak yang usianya mulai beranjak remaja atau dewasa. Sehingga, anak diusia rata-rata balita banyak menjadi korban kejahatan seksual.

“Apalagi kalau anak balita ini dibiarkan orang tuannya hanya memakai pakaian terbuka sehari-hari. Mungkin kita berpikir tidak berpengaruh, tapi dalam kasus kejahatan seksual justru itu menjadi penyebabnya,” ujarnya.   

Dia berharap, untuk menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, perlindungan tidak hanya menjadi tanggungjawab orang tua, melainkan menjadi tugas bersama.

Berdasarkan amatannya, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak saat itu, justru karena mulai sadarnya masyarakat sekitar untuk memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.

Sebelumnya, keluarga korban baik perempuan atau anak menuntup-nutupi persoalan yang dihadapi, karena menganggap hal itu sebagai aib.

Namun saat ini kata dia, karena upaya pemerintah bersama lembaga perlindungan perempuan dan anak terus gencar melakukan sosialisasi, dan mengkampanyekan persoalan itu hingga ke tingkat desa.

Sehingga, para korban mulai berani menceritakan apa yang mereka hadapi, baik dilingkungan keluarga, sekolah dan sosial lainnya.

“Misalnya, ada disalah satu rumah tetangga terjadi kasus KDRT, hal itu wajib dilaporkan kepada aparat desa, lembaga perlindungan atau aparat kepolisian. Sebab, jika tidak dilakukan warga sekitar, tindakan itu dapat dikenakan pasal pembiaran,” pungkasnya. (***)

Baca juga: Pandemi Covid19 Penyebab Kekerasan Seksual Anak Tinggi di Ambon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post