Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Penganiayaan Balita di Tangerang Selatan Terekam Video ART

Penganiayaan Balita di Tangerang Selatan Terekam Video ART
Foto: Illustrasi penganiayaan Balita.

Gemasulawesi- Penganiayaan Balita di Tangerang Selatan terekam video Asisten Rumah Tangga (ART). Terkuak pelakunya adalah bibi korban.

“Yang merekam itu ART si pelaku,” ungkap Kapolres Tangerang Selatan AKBP Iman Imanuddin, di Tangerang, Sabtu 22 Agustus 2021.

Dia menjelaskan, saksi ART itu mengaku tidak tega melihat korban dianiaya pelaku penganiayaan Balita di Tangerang Selatan. Peristiwa itu diakui pelaku yang juga tante korban, telah berlangsung selama satu tahun terakhir.

Baca juga: Misi Evakuasi di Afghanistan, 26 WNI dan 7 WNA Tiba di Indonesia

Menurut dia, ART tidak tega melihat korban sering dianiaya kemudian membagikan video itu ke guru playgroup korban. Hingga akhirnya dilaporkan ke polisi.

“Jadi itu yang merekam pembantunya, karena tidak tega, karena korban diperlakukan gitu terus,” ujarnya.

Dalam rekaman video viral penganiayaan Balita di Tangerang itu, terlihat pelaku membanting tubuh mungil korban ke lantai.

Peristiwa itu diketahui terjadi di rumah pelaku di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Kejadian penganiayaan Balita di Tangerang itu kemudian ditelusuri polisi. Tidak butuh waktu lama, polisi menangkap pelaku, seorang perempuan berusia 41 tahun.

“Sudah ditangkap pelakunya tadi kemarin malam. Pelaku tantenya korban,” kata dia.

Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka memar di beberapa bagian tubuhnya.

Baca juga: Parigi Moutong Akan Terima Ratusan Vial Vaksin Moderna

Korban diasuh korban sejak bayi

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Angga Surya Saputra menyebutkan korban diasuh pelaku sejak bayi. Sang ibu balita itu telah meninggal ketika melahirkan korban.

“Korban adalah anak dari adik kandung pelaku (bibi), meninggal ketika melahirkan korban,” kata Angga.

Sementara ayah kandung korban tidak diketahui keberadaannya. Sang ayah sudah tidak pernah menjenguknya sejak korban berusia 9 bulan.

“Bapak kandung sempat beberapa kali sampai umur korban 9 bulan, bapak kandungnya menjenguk korban, tetapi saat korban sudah tidur. Setelah usia 9 bulan tidak pernah menjenguk lagi dan keberadaannya tidak diketahui,” jelasnya.

Pelaku, sang Bibi melakukan aksinya karena merasa jengkel lantaran korban susah makan.

“Pelaku jengkel saja karena korban disuruh makan susah,” kata dia,

Diakui pelaku penganiayaan Balita sudah dua kali terjadi selama satu tahun terakhir. Korban mendapat kekerasan saat sang bibi mulai bekerja dari rumah (work from home/WFH).

“Karena sering WFH, maka pelaku sering lihat dan dengar kalau korban susah makan ketika disuapi ART,” jelasnya.

Jadi kata dia, pelaku penganiayaan Balita sudah tidak ingat lagi berapa kali melakukan kekerasan kepada korban

Kini sang bibi pelaku penganiayaan Balita telah ditetapkan sebagai tersangka. Atas perbuatannya itu, ia dijerat Pasal 80 Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post