fbpx

FKS Tawarkan Dua Sistem Pemasaran Sarang Burung Walet Parigi Moutong

waktu baca 6 menit
Dialog komoditi sarang burung walet- Staf Kementan, PT FKS dan Pemda Parigi Moutong berdialog dengan Asosiasi Peternak Sarang Burung Walet Parigi Moutong di Rujab Wakil Bupati Parigi Moutong, Rabu 29 Januari 2020. GemasulawesiFoto/MuhammadRafii.

Berita parigi moutong, gemasulawesi- Fhisindo Kusuma Sejahtera Perseroan atau PT FKS menawarkan dua sistem pemasaran komoditi sarang burung walet Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

“Dua sistem itu berupa pemasaran sarang burung walet Parigi Moutong langsung ke China dan tidak secara langsung melalui negara perantara,” ungkap tenaga ahli Kementan, Muh Idrus Hafied saat temu dengan peternak walet di Rujab Wakil Bupati, Rabu 29 Januari 2020.

Ia melanjutkan, kalau ingin ekspor langsung ke China akan sangat menguntungkan. Pasalnya, harganya sangat kompetitif sebab langsung berhubungan dengan konsumen pertama.

Pihak China selaku konsumen kata dia, menuntut kualitas sarang burung walet yang sesuai standar dan mutu yang sangat bagus. Sehingga, pihaknya bersama PT FKS menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan.

Baca juga: Produksi 47 Ton, Sulawesi Tengah Potensi Bisnis Sarang Burung Walet

Setiap sarang burung walet dari peternak akan dikumpulkan dan diinventarisir PT FKS. Kemudian akan dibawa ke sarana pencucian sarang burung walet yang sesuai standar ISO.

“Tujuannya, agar sarang burung walet yang dibutuhkan konsumen dari China dapat terpenuhi, harga dapat menjadi kompetitif,” jelasnya.

Nantinya, setiap peternak walet akan mendapat tanda register. Produk yang dipasarkan akan berlabelkan walet Parigi Moutong.

Sebelumnya, PT FKS bersama staf ahli Kementan mengunjungi peternak sarang burung walet di Kabupaten Parigi Moutong.

Baca juga: FKS Kunjungi Peternak Sarang Burung Walet Parigi Moutong

Staf ahli Kementan, Muh Idrus Hafied bersama Tim FKS yang terdiri dari Eka Sapanca dan Bong Micky melihat langsung kualitas sarang burung walet milik peternak sambil berdialog mensosialisasikan dukungan ekspor ke luar negeri di dua wilayah Kecamatan Tolai dan Kasimbar.

“Kualitas sarang burung walet Parigi Moutong sangat baik,” ungkap Eka Sapanca selaku perwakilan tim investor FKS, saat kunjungan di Kecamatan Tolai, Selasa 28 Januari 2020.

Ia melanjutkan, pihaknya berkomitmen membangun sinergi dengan peternak lokal di Parigi Moutong. Secara bersama membangun daerah melalui ternak sarang burung walet.

Sementara itu, Wakil Bupati Parigi Moutong H Badrun Nggai mengatakan, warga khususnya peternak mesti proaktif untuk membangun daerah.

Caranya, dengan bekerja sama yang baik antara peternak dan FKS selaku investor. Dengan adanya ikatan kerjasama, pasti dapat melindungi petani walet di Parigi Moutong.

“Selain diikat dengan kerjasama, peternak juga bisa membuat koperasi dan asosiasi. Tujuannya, untuk menguatkan koneksi serta koordinasi terkait usaha pemasaran sarang burung walet,” tuturnya.

Baca juga: Warga Desa Sidoan Barat Demo DPRD Parigi Moutong

Penjajakan Kerjasama Ekspor Sarang Burung Walet

Bapenda Kabupaten Parigi moutong sedang menjajaki kerjasama ekspor sarang walet Parimo dengan negara luar.

Kepala Bapenda Parigi Moutong, Muh. Yasir mengatakan potensi pangsa pasar perdagangan dan ekspor sarang burung walet di Parimo sangat menjanjikan.

Melihat potensi ekspor sarang burung walet yang begitu besar kata dia, Pemda Parimo berencana memfasilitasi pengusaha sarang burung walet dengan mendatangkan beberapa calon investor.

“Beberapa negara calon investor yang berusaha didatangkan adalah konsumen terbesar pemanfaatan sarang burung walet,” ungkapnya di Kantor Bapenda Parimo, Senin, 14 Oktober 2019.

Ia melanjutkan, negara konsumen terbesar sarang burung walet antara lain Kanada, Cina, Hongkong dan Vietnam. Saat ini, pihaknya sedang membangun komunikasi dengan beberapa perusahaan dari negara itu.

Baca juga: Ini Kritik Terkait Kebijakan Pajak Sarang Burung Walet Pemda Parimo

Nantinya, seluruh hasil sarang burung walet dari peternak atau pengusaha akan bisa dikumpulkan dan disalurkan ke perusahaan dari beberapa negara itu.

Menurutnya, setelah memiliki ikatan kerjasama dengan perusahaan itu, harga beli sarang burung walet akan lebih bersaing dan lebih terjamin. Alasannya, tentu akan ada standar mutu jaminan dan harga pasar yang menjanjikan.

“Dengan kejelasan harga dan mutu jaminan produk, peternak dan pengusaha burung walet tidak akan ragu dan bingung untuk menjual produknya dengan harga bersaing,” jelasnya.

Tidak hanya mendatangkan investor lanjut dia, pihaknya juga berencana memakai jasa konsultan untuk mengoptimalkan potensi usaha sarang burung walet para peternak.

Baca juga: Asosiasi, Inventaris Petani Walet Parigi Moutong

Caranya, jasa konsultan akan mencoba melihat dimana kekurangan produktifitas dari usaha sarang burung walet para peternak lokal, kemudian mengeksploitasi agar lebih produktif. Dari sisi teknis pengelolaan sarang burung walet tentunya akan ada perbaikan signifikan.

Nilai plusnya lanjut dia, sisi teknis produktifitas diperbaiki, otomatis akan mendongkrak nilai penjualan. Efeknya, perekonomian peternak akan lebih maju. Sehingga, perekonomian daerah turut menjadi berkembang.

“Perekonomian daerah dapat berkembang dengan memungut pajak retribusi daerah dari sarang burung walet. Namun, Pemda hanya memungut pajak retribusi dari jumlah penjualan sarang burung walet saja,” tegasnya.

Ia menambahkan, pada satu sisi pihaknya memungut pajak retribusi, namun pada saat bersamaan Pemda Parigi Moutong juga mendatangkan investor sekaligus konsultan pengembangan produktifitas dan penjualan usaha sarang burung walet.

Kritik Terkait Kebijakan Pajak Sarang Burung Walet Parimo

Kebijakan pajak sarang burung walet Parigi Moutong (Parimo), mendapatkan beragam kritikan dari pengusaha dan petani sarang burung walet.

Salah seorang pengusaha dan petani burung walet yang tidak ingin dikorankan namanya, mengeluhkan tarif pajak sarang burung walet Parigi Moutong yang ditetapkan Pemda saat ini senilai 10 persen. Walaupun ada rencana Pemda untuk menurunkan tarif hingga lima persen, akan tetapi tetap dirasakan masih memberatkan.

“Kami selaku pengusaha walet belum tentu langsung mendapatkan hasil dari usaha ini. Bisa membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungan,” ungkapnya via pesan messenger, Rabu, 9 Oktober 2019.

Baca: Wow, 10 Tempat Wisata Pandeglang yang Harus Kamu Kunjungi!

Ia melanjutkan, pihaknya sudah dua tahun menjalani bisnis sarang burung walet. Namun, ia mengakui hingga saat ini belum mendapatkan keuntungan. Bahkan, belum bisa untuk mengembalikan modal awal.

Lagi pula kata dia, dasar hukum dari penarikan pajak setiap penjualan sarang burung walet dianggap belum jelas. Bahkan, penarikan pajak seperti itu dianggap seperti pemerasan.

Kemudian, Pemda semestinya memberikan fasilitas dan bantuan kepada pengusaha burung walet. Dengan dasar itu barulah Pemda dapat meminta retribusi pajak daerah kepada seluruh pengusaha walet di Parimo.

“Saat ini, para peternak burung walet banyak yang mengeluh bahkan cenderung stress. Pasalnya, modal untuk membangun usaha sarang burung walet terbilang tidak sedikit. Namun, hasilnya masih nihil,” keluhnya.

Seharusnya lanjut dia, Pemda semestinya duduk bersama peternak sarang burung walet untuk berdiskusi. Atau mensosialisasikan rancangan aturan pajak retribusi daerah yang ingin ditetapkan.

Ia mengatakan, dengan berdiskusi Pemda Parimo dapat mendengarkan langsung keluh kesah pengusaha sekaligus petani burung walet. Tujuannya, agar Pemda dapat mengeluarkan kebijakan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Sebaiknya saran dia, Pemda tidak perlu memungut retribusi pajak sarang burung walet. Urusan pajak sarang burung walet sebaiknya diserahkan ke Pemerintah desa (Pemdes) saja.

“Untuk urusan pajak, serahkan ke desa masing-masing yang memiliki sarang burung walet. Hasil penarikan pajaknya buat menambah Pendapatan Asli Desa (PADes). Sehingga kondisi ekonomi desa dapat berkembang,” tuturnya.

Sementara itu, dalam nota jawaban Bupati Parimo terkait pandangan umum fraksi DPRD atas nota RAPBD 2020, menyebutkan akan menurunkan tarif pajak menjadi lima persen. Tarif itu sudah berdasarkan hasil sosialisasi dan permintaan pelaku usaha sarang burung walet.

Dalam hasil sosialisasi itu, para pelaku usaha sarang burung walet menilai tarif senilai 10 persen saat ini, dinilai terlalu tinggi.

Pemda Parimo melalui Bapenda berpedoman pada UU nomor 28 Tahun 2019 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dan Perda nomor tujuh tahun 2012 tentang pajak daerah.

Baca juga: Bapenda Parimo Jajaki Kerjasama Ekspor Sarang Burung Walet

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.