Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Pelaku Eksploitasi Anak di Papua Barat Dibekuk Polisi

Pelaku Eksploitasi Anak di Papua Barat Dibekuk Polisi
Foto: Illustrasi pelaku eksploitasi anak.

Gemasulawesi- Polisi menangkap dua orang pelaku eksploitasi anak sebagai pramuria di Fakfak, Papua Barat. Keduanya, berinisial M berperan sebagai perekrut, dan T sebagai penampung para korban dan pemberi pekerjaan.

“Berdasarkan hasil gelar perkara, diketahui kedua tersangka berinisial M dan T, diduga kuat telah melakukan tindak pidana perdagangan orang,” ungkap Kasat Reskrim Polres Fakfak Iptu Hamdan Samudro, di Papua Barat, Jumat 6 Agustus 2021.

Kasus terungkap, berdasarkan pemeriksaan, korban IGH diajak pelaku eksploitasi anak dari Ambon ke Fakfak dengan janji untuk diberikan pekerjaan.

Baca juga: Soal Realokasi Anggaran Corona, Ini Arahan Pemerintah Pusat ke Gubernur Sulawesi Tengah

“Saat tiba di Fakfak, korban ditampung di Kafe Barcelona. Dia sempat kaget karena harus dipekerjakan sebagai pramuria,” bebernya.

Korban sempat mengatakan kepada pelaku eksploitasi anak di Papua Barat, dirinya baru berusia 17 tahun. Namun, tersangka malah menyodorkan kontrak kerja untuk mengubah identitas nama.

Para pelaku eksploitasi anak, IGH dipaksa melayani tamu dan terjadi eksploitasi seksual kepada korban. Setiap kencan, IGH dibayar Rp 1 juta dan oleh tersangka, dipotong Rp 500.000.

“Dia juga dipaksa untuk melayani tamu, jika korban menolak maka akan disaksi oleh pihak kafe menjadi hutan bagi korban,” tuturnya.

Samudro menjelaskan, kedua tersangka itu tidak mempunyai hubungan keluarga dengan korban.

“Tersangka T berfungsi sebagai perekrut, dan M yang membiayai, tampung dan hingga ke eksploitasi. Semuanya menggunakan kamar tersangka M,” ungkapnya.

Kepolisian sedang melakukan pendalaman

Pihak kepolisian sedang melakukan pendalaman terhadap kasus itu, terkait kemungkinan adanya pelaku lain ikut terlibat.

“Karena tersangka T juga membawa orang berinisial Z juga. Sehingga kita akan kembangkan,” ucapnya.

Dia mengatakan, sejak keluar dari Ambon ke Fakfak, keluarga tidak mengetahui keberadaan remaja 17 tahun itu.

“Berdasarkan konfirmasi dari masyarakat, pihak keluarga sempat mencari-cari anaknya, akhirnya terhubung dengan kami,” ujarnya.

Dari penjelasan keluarga, mengaku anaknya keluar dari Ambon tanpa sepengetahuan mereka.

Atas perbuatan itu, dua orang tersangka terancam Pasal 2 ayat (1) UU nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, atau Pasal 76I Jo Pasal 88 UU nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancama pidana 10 tahun penjara. (***)

Baca juga: Pemerintah Didesak Lindungi ABK WNI di Kapal Asing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post