Pasca Kerusuhan Wamena, Guru Sekolah Mengaku Masih Trauma Kembali Mengajar

1
271
asca Kerusuhan Wamena, Guru Sekolah Mengaku Masih Trauma Kembali Mengajar
ifitas sekolah di Wamena mulai berjalan (Foto:Makassar.Id)

Parimo, gemasulawesi.com Pasca kerusuhan yang melanda Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua dua pekan lalu, guru-guru sekolah mengaku masih trauma kembali mengajar.

Walaupun kegiatan di sekolah mulai berjalan kembali, Namun, hingga Senin, 7 Oktober 2019, proses belajar mengajar belum dilakukan karena para siswa dan guru yang datang masih melakukan pemeliharaan di lingkungan sekolah.

“Hingga kini, masih ada guru yang belum kembali ke Wamena karena masih merasa trauma,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Elias Wonda dikutip dari Kompas, Senin, 7 Oktober 2019.

Ia melanjutkan, ada perwakilan guru SMA dan SMK yang mengaku masih trauma, tetapi mereka menyatakan pasti akan kembali.

Pihaknya belum memiliki data pasti tentang jumlah guru yang belum kembali ke Wamena. Saat ini, tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Papua yang belum selesai melakukan pendataan.

Namun, ia juga memaklumi jika masih ada guru-guru yang belum mau kembali ke Wamena.

“Mereka butuh waktu untuk memulihkan kondisi psikis, biar mereka merasa nyaman untuk kembali ke Wamena,” katanya.

Elias juga menerima telah mengeluarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah di Papua agar menerima siswa-siswa dari Wamena yang ingin pindah sekolah.

“Siswa dari Wamena yang ada di daerah lain, mereka harus diterima agar tetap dapat melanjutkan pendidikan,” katanya.

Sejak kerusuhan pecah di Wamena pada 23 September 2019, hampir seluruh aktivitas masyarakat terhenti. Baru pada Senin ini pendidikan dan pendidikan mulai berjalan kembali. Diagendakan, Panglima TNI, Kapolri dan beberapa menteri akan melaporkan Wamena pada Selasa, 8 Oktober 2019.

Sementara itu, Wakil Gubernur, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, mengatakan Pemprov Sumbar memberikan Jaminan bagi para siswa korban kerusuhan Wamena yang tiba di kampung halaman.

“Siswa yang menjadi korban tidak boleh putus sekolah. Bagi SMA, yang menjadi wewenang provinsi, kita siap siap ditampung. Bagi SMP dan SD kita meminta pemerintah kabupaten dan kota memfasilitasinya,” kata Nasrul.

Diketahui, telah banyak warga yang berbondong-bondong meninggalkan Wamena kembali ke daerah asal. Tidak sedikit beberapa kepala daerah yang mengeluarkan biaya untuk memulangkan warganya.

Baca juga: Ribuan Pengungsi Korban Kerusuhan Wamena Butuh Bantuan Logistik

Sumber: Kompas

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan