Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Pandemi Covid19 Penyebab Kekerasan Seksual Anak Tinggi di Ambon

Pandemi Covid19 Penyebab Kekerasan Seksual Anak Tinggi di Ambon
Foto: Illustrasi kasus kekerasan seksual anak.

Gemasulawesi- Situasi pandemi covid19 saat ini menjadi salah satu faktor penyumbang meningkatnya kasus kekerasan seksual anak di Ambon. 

“Itu berdasarkan data kepolisian,” ungkap Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Ipda Isack Leatemia saat dihubungi, Jumat 30 Juli 2021.

Pihaknya menerima sebanyak 45 laporan kasus kekerasan anak dibawah umur sepanjang 2021.

Baca juga: Disdikbud Parimo Angkat Tenaga Honorer Sesuai Dapodik

Dari jumlah itu, sebanyak 38 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual anak seperti pencabulan dan pemerkosaan. Sisanya, kasus kekerasan fisik terhadap anak.

Dia merinci, kasus persetubuhan dilaporkan sebanyak 26 kasus, pencabulan sebanyak 12 kasus.

Dari puluhan kasus itu, para pelaku diketahui orang terdekat korban seperti tetangga dan keluarganya.

“Umumnya para pelaku ini orang dekat korban,” katanya.

Jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu, jumlah kasus pada tahun ini jauh lebih tinggi.

“Kalau tahun ini penanganan kasusnya naik sekitar 10 persen dari tahun lalu,” ujarnya.

Saat ini puluhan kasus dilaporkan ke Polresta Pulau Ambon itu telah ditindaklanjuti Unit Perlindungan Perempuan dan anak (PPA).

Sebagian kasus masih dalam proses penanganan dan sejumlah kasus lainnya telah disidangkan di pengadilan negeri setempat.

Selama pandemi, anak-anak selalu berada di rumah dan bermain di lingkungan tempat tinggalnya.

Olehnya, Ia pun mengimbau orangtua agar tetap mengawasi anak-anaknya secara ketat termasuk juga memantau pergaulan mereka.

“Kami sangat prihatin dengan kasus ini. Tapi masalah ini bukan hanya menjadi tugas Polisi tapi tugas kita semua khususnya orangtua,” katanya.

Baca juga: Wabup: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Akibat Faktor Ekonomi

Data valid kekerasan perempuan dan anak bermanfaat identifikasi masalah

Sebelumnya, berdasarkan data Sistem Informasi Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) pada periode 1 Januari-9 Juni 2021 terjadi 2319 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa dengan 2347 korban dan 3314 kasus kekerasan seksual anak dengan 3683 korban.

Kepala Biro Data dan Informasi Kemen PPPA Lies Rosdianty dalam keterangannya menyebut, data valid sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi masalah. Dan menentukan opsi terbaik dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Data juga bermanfaat sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tutup Lies. (***)

Baca juga: Ini Cara DP3A Sulteng Tekan Kasus Kekerasan Anak Parigi Moutong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post