Periode Oktober-November 2020, Potensi Curah Hujan Tinggi

waktu baca 3 menit
Periode Oktober-November 2020, Potensi Curah Hujan Tinggi (Foto: Illustrasi)

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi.com– Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, periode Oktober-November 2020 berpotensi curah hujan tinggi.

“Prakiraan 17 persen daerah di Indonesia memasuki musim hujan. Sementara, 83 persen lainnya masih musim kemarau,” ungkap Kabid Deseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, di Jakarta, Sabtu 17 Oktober 2020.

Ia mengatakan, curah hujan tertinggi pada akhir Oktober-November 2020, kategori curah hujan tinggi lebih dari 150 mm atau dasarian.

Analisis perkembangan musim hujan dasarian Oktober 2020 lanjut dia, berdasarkan pada jumlah Zona Musim (ZOM).

Baca juga: BMKG: Frekuensi Bencana La Nina Berpotensi Naik

“Curah hujan tinggi pada Oktober minggu kedua diperkirakan mengguyur daerah Kalimantan Utara bagian utara, Sulawesi Barat bagian utara, Papua Barat bagian tengah dan Papua bagian tengah,” urainya.

Sementara curah hujan tinggi pada Oktober minggu ketiga kata dia, diperkirakan mengguyur Aceh bagian selatan, Sumatera Barat bagian selatan, sebagian Bengkulu, Papua Barat bagia tengah dan Papua bagian tengah.

Kemudian, curah hujan tinggi pada November minggu pertama mengguyur Aceh bagian selatan, Sumatera Barat bagian selatan, Sebagian Bengkulu dan Papua bagian tengah.

Baca juga: Curah Hujan Tinggi, BPBD Minta Warga Sigi Sulteng Siaga Bencana

Frekuensi Bencana La Nina Berpotensi Naik

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebut ada ancaman peningkatan frekuensi bencana terkait La Nina di Indonesia untuk tahun 2020.

“Selain ancaman La Nina, juga ada ancaman lain dengan naiknya intensitas gempa bumi di Indonesia,” ungkap Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

Fenomena La Nina moderate lanjutnya, yang diprediksi akan menyebabkan peningkatan curah hujan yang dimulai bulan Oktober sampai November. Dan akan berdampak dihampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Pulau Sumatra.

Baca juga: Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir Konawe Utara

Catatan historis menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan.

“Peningkatan hujan bulanan di Indonesia akan meningkat sekitar 20 hingga 40 persen di atas normal,” tuturnya.

Untuk kejadian gempa bumi, berdasarkan data monitoring kegempaan yang dilakukan BMKG, sejak tahun 2017 Indonesia telah mengalami tren peningkatan aktivitas gempa bumi dalam segi jumlah ataupun kekuatannya.

Baca juga: Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Banggai Sulteng

Menurut data BMKG, untuk kejadian gempa bumi sebelum 2017 rata-rata hanya 4.000—6.000 kali dalam setahun, yang dirasakan atau kekuatannya lebih dari lima SR sekitar 200-an.

Namun, setelah 2017 jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 7.000 kali dalam setahun, bahkan pada tahun 2018 tercatat 11.920 kali, lalu kemudian pada tahun 2019 sebanyak 11.588 kejadian gempa.

“Mari dirumuskan bersama alternatif solusi dari permasalahan-permasalahan yang nanti akan teridentifikasi. Dan pada akhirnya akan dirumuskan rencana aksi bersama untuk mewujudkan zero victims dalam menghadapi multibencana hidrometeorologi, gempa bumi, dan tsunami,” pungkas Dwikorita.

BMKG menegaskan, mitigasi bencana serta peringatan dini gempa bumi dan tsunami, serta cuaca dan iklim ekstrem merupakan hak mendesak untuk segera dipersiapkan dan diperkuat dari sekarang.

“Masalah dan celah antara pusat dan daerah harus segera diidentifikasi untuk meningkatkan efektivitas dalam mewujudkan zero victims,” tutupnya.

Baca juga: Gempa bumi magnitudo 3,2 getarkan Donggala Sulteng

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.