Oknum Polisi Aniaya ART di Bengkulu Ditetapkan Sebagai Tersangka

waktu baca 2 menit
(Ilustrasi)

Berita Hukum, gemasulawesi – Oknum Polisi Inisial BA yang menganiaya Asisten Rumah Tangga (ART) nya di Bengkulu berinisial YA, kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Oknum Polisi BA yang menganiaya Asisten Rumah Tangga (ART) ditahan di Mapolres Bengkulu, tersangka BA diancam 10 tahun penjara.

Poengky Indarti, Komisioner Komisi Kepolisian Negara (Kompolnas), mengatakan yang bersangkutan tidak hanya diadili secara pidana, tetapi juga diadili secara etik, sehingga bisa langsung dipidana karena melakukan tindak pidana etik.

“Jika melihat keseriusan kasus ini, kami menilai hukuman pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH) pantas dijatuhkan kepada pelaku,” ucap Kompolnas Poengky diketerangan tertulis, pada hari Minggu 12 Juni 2022.

Baca: Delapan Prioritas Sasaran Operasi Patuh Jaya 13 Juni 2022

Terkait kasus ini, Kompolnas Poengky mengapresiasi tindakan cepat Polres Bengkulu yang menindaklanjuti laporan korban dan segera melakukan lidik sidik.

Ia mengatakan, Polres Bengkulu telah sigap menangani kasus ini, dalam sehari laporan tersebut masuk langsung ditindaklanjuti dengan otopsi dan penangkapan tersangka, akan ada hasil positif dalam beberapa hari ini dan itu patut diapresiasi.

Poengky mengatakan, pada 10 Juni 2022, ia berkomunikasi langsung dengan Kapolres Bengkulu terkait kejadian tersebut dan mendapat jaminan dari Kapolres Bengkulu bahwa Kapolda Bengkulu dan Polres Bengkulu akan mengambil tindakan tegas dalam kasus ini.

Poengky mengatakan status pelaku juga telah ditingkatkan menjadi tersangka, ditangkap dan didakwa dengan hukuman ancaman 10 tahun berdasarkan Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT). Sedangkan istri tersangka sedang diperiksa secara menyeluruh dan berpotensi dikenakan pasal serupa.

Saat ditanya apakah pantas Polres Bengkulu memeriksa kejiwaan orang tersebut, Poengky mengatakan hal itu wajar dalam proses penyidikan.

ia kemudian mencontohkan beberapa kasus dengan pemeriksaan kejiwaan, seperti tiga nenek yang menganiaya Pembantu Rumah Tangga (PRT), kemudian dua pembantu membanting anak kembar majikannya.

Dan akhirnya seorang pembantu yang membekap anak bos dengan wallpaper di dinding.

“Tidak hanya dalam kasus ini, dalam kasus serupa, penyidik juga memeriksa mental pelaku. Ini bagian dari scientific crime investigation untuk mendukung dalam penyidikan,” jelasnya.

Namun, dalam kasus ini, Poengky menilai apa yang dilakukan oknum polisi terhadap pembantunya itu sangat kejam.

“Perbuatan tersangka B, menyalahgunakan pembatunya dengan setrika dan lain-lain, dan menahan gajinya selama 6 bulan sangat kejam, sehingga penyidik perlu mengetahui keadaan mentalnya,” ucapnya. (*)

Baca: Satu ABK Meninggal, KM Bintang Surya Terbakar di Perairan Karimun

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.