fbpx

Normalisasi Sungai Purwosari Masuk Daftar Pencegahan Bencana 2021

waktu baca 4 menit
Foto: BPBD Parimo Normalisasi Sungai/dok. BPBD)

Berita parigi moutong, gemasulawesiBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah menyebut normalisasi Sungai Purwosari masuk daftar pencegahan bencana tahun 2021.

“Kami sedang mengusulkan perbaikan sungai Purwosari Kecamatan Torue pasca banjir beberapa hari lalu,” ungkap Sekretaris BPBD Parigi Moutong I Nyoman Adi, via sambungan telepon, Rabu 11 November 2020.

Rinciannya, normalisasi sungai yang masuk dalam perencanaan anggaran pencegahan bencana BPBD Parigi Moutong adalah perbaikan bronjong dan tanggul.

Ia melanjutkan, saat ini pihaknya mengalami keterbatasan anggaran dalam proses perbaikan sungai.

Baca juga: Pasca Banjir, Warga Purwosari Parigi Moutong Kerja Bakti Perbaiki Tanggul

“Tapi, kami masukkan usulan warga Desa Purwosari,” jelasnya.

Ia mengatakan, pihak desa telah berkordinasi dan sudah menyampaikan kepada mereka terkait usulan yang dimasukan.

Pasalnya, pada saat melihat kondisi pasca bencana banjir beberapa hari lalu, Pemdes mengusulkan bronjong dan tanggul.

“Mengingat, kondisi tanah yang berpasir mengakibatkan sejumlah lahan tergerus air akibat luapan banjir besar,” terangnya.

Baca juga: Banjir Rendam Ratusan Hektar Sawah di Purwosari Sulawesi Tengah

Selain itu, pihaknya tengah mengusulkan perbaikan Sungai Desa Tolai Barat yang berbatasan dengan Desa Purwosari untuk pencegahan bencana.

Perbaikan itu kata dia, untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan jembatan penghubung dan juga sebagai jalur trans Sulawesi.

Sebelumnya, akibat bencana banjir di Dusun Tiga Pambola, Desa Purwosari, Kecamatan Torue Kabupaten Parimo Provinsi Sulawesi Tengah, ratusan sawah terendam air.

“Banjir disebabkan tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah selatan Parimo,” ungkap Anggota legislatif (Anleg) DPRD Parimo, I Putu Eddy Tangkas Wijaya via sambungan telepon.

Baca juga: Warga Purwosari Sulawesi Tengah Masih Trauma Banjir

Ia mengatakan, hujan mulai turun sejak pukul 20.00 Wita. Selang beberapa lama akhirnya tanggul Matampondo jebol.

Akibatnya, puluhan rumah terendam, ratusan hektar sawah dan ternak ikut terseret banjir setinggi 70 cm.

“Sebanyak 17 rumah terendam banjir dan satu rumah mengalami rusak parah di Dusun Tiga Pambola,” urainya.

Dari hasil peninjauan, banjir yang terjadi diakibatkan talang pembuangan air tidak mampu menampung tingginya debit air. Ditambah lagi jalur tanggul yang cukup kecil.

Baca juga: Pemprov, Kejati dan Pemkot Palu Kerjasama Perbaiki Tata Kelola Aset Daerah

Tanggul itu kata dia, setiap musim penghujan terus mengalami kebobolan akibat derasnya air yang mengalir ke pembuangan.

Ia mengatakan, kalau curah hujan tinggi pastinya rumah penduduk dan arael persawahan menjadi imbas dari luapan sungai.

Akibat banjir, Dusun Pambola terisolir akibat jalan yang digunakan ikut terseret banjir sepanjang 30 meter.

Baca juga: Puluhan Hektar Sawah Tolai Timur Terancam Gagal Tanam

“Jalan itu baru tiga tahun dibangun, sekarang ikut hanyut. Bahkan, bahan pokok mereka seperti beras dan lainnya ikut juga dibawah banjir,” ucapnya.

Ia berharap, pemerintah setempat khususnya BPBD segera turun kelapangan untuk melakukan pendataan korban bencana banjir.

Pasalnya, masyarakat menginginkan adanya bantuan yang diberikan kepada mereka.

Baca juga: Lagi, Warga Olaya Keluhkan Imbas Tambang Emas Ilegal Kayuboko

Perbedaan normalisasi dan naturalisasi sungai

Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menjelaskan, normalisasi dalam arti sebenarnya yaitu mengembalikan bentuk sungai sesuai dengan peruntukan serta bentuk awalnya.

Normalisasi mestinya mengikuti bentuk sungai, bukan menjadikan sebagai sungai yang lurus.

Normalisasi dengan betonisasi dan meluruskan bentuk sungai akan membuat aliran sungai semakin cepat.

Baca juga: Diduga Solar Tersuplai ke Tambang Emas Ilegal Parimo

Bentuk sungai yang berkelok sesungguhnya bisa memperlambat laju aliran sungai. Dengan sungai diluruskan, daya dorong air akan semakin besar sehingga terdampak di sisi hilir.

Tingginya kecepatan aliran air akan membawa lumpur dan sedimentasi yang cukup banyak.

Akibatnya, sungai akan cenderung cepat mendangkal. Betonisasi juga akan mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Nirwono menjelaskan, pengertian naturalisasi sendiri merupakan penataan bantaran sungai yang lebih ramah lingkungan. Konsep naturalisasi memperlebar sungai dengan mengikuti bentuk alur sungai.

Berbeda dari konsep normalisasi dengan betonisasi, naturalisasi memanfaatkan ekosistem hijau di mana di pinggiran sungai ditanamani pohon.

Konsep penataan naturalisasi selain bertujuan menjaga ekosistem yang ada di pinggir sungai tetap hidup, juga menjadikan pinggiran sungai bisa menyerap air.

Dengan kelokan sungai, kecepatan air semakin pelan, jalur hijau dan air diserap. Dia punya kecepatan untuk diserap kembali di kiri dan kanan sungai, jadi secara alami air masuk ke dalam tanah.

Baca juga: DPUPR Sebut Desa Lebo Belum Diprioritaskan Bangun Tanggul

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.