Mutiara Hitam Seri Pendekar Pulau Es

0
137
Mutiara Hitam Seri Pendekar Pulau Es
ilustrasi

Mutiara Hitam adalah lanjutan dari seri Cinta bernoda darah. Mutiara hitam akan menceritakan bagaimana kisah akhir dari pendekar Suling Emas.

Sinopsis Mutiara hitam:

Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apa lagi karena waktu itu musim
hujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambung
menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu mendatangkan
untung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-hari hujan
dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di lain
fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atau perjalanan mereka
terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.
Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang melakukan
perjalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan, beristirahat di warung-warung sambil
minum arak hangat, di kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya asal mereka dapat

terlindung dari hujan. Kalau pun ada yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan rintik-
rintik, mereka tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan.

Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, juga serombongan kereta lewat dengan cepatnya melalui jalan kecil,
sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki kuda dan cambuk, diselingi suara
pengendara yang menyumpahi jalan buruk dan hawa dingin.
Akan tetapi pada pagi hari itu, seekor kuda kurus berjalan perlahan melalui jalan kecil itu. Kuda yang kurus
dan buruk, berjalan seenaknya seakan-akan menikmati air hujan yang berjatuhan jarang di atas kepalanya.
Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga warnanya menjadi coklat
dan kotor. Penunggangnya sama dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak merasa
terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain
berhujan-hujan meniup suling?
Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima puluh tahun. Raut wajahnya tampan dan gagah,
pandang matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung sebuah topi lebar terbuat dari
anyaman rumput dan sudah butut, robek-robek pinggirnya. Pakaiannya longgar dan amat bersih, akan
tetapi sudah terhias tambalan di beberapa tempat.

Disadur dari: https://dunia-kangouw.blogspot.com

Baca sebelumnya: Cinta Bernoda Darah

Tinggalkan Balasan