2Banner GIF 2021

Moeldoko Beri Keterangan Kepada Penyidik Bareskrim Polri

Moeldoko Beri Keterangan Kepada Penyidik Bareskrim Polri
Foto: Moeldoko menjawab pertanyaan wartawan di Bareskrim Polri.

Gemasulawesi- Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, dia mendapat 20 pertanyaan dari penyidik sebagai saksi pelapor berkait laporannya tentang dugaan pencemaran nama baik dua peneliti ICW di Bareskrim Polri, Selasa, 12 Oktober 2021. 

“Ya, saya memenuhi panggilan selaku saksi pelapor, ada kurang lebih 20 pertanyaan yang disampaikan tadi, sudah saya jawab,” kata Moeldoko kepada wartawan di Bareskrim Polri.

Pemeriksaan Moeldoko dari penyidik Bareskrim Polri sebagai saksi pelapor dijadwalkan pukul 15.00 WIB.

Baca juga: Semester I 2021, Kejaksaan Tangani 151 Kasus dengan Kerugian Negara Rp26,1 Triliun

Moeldoko ditemani tim pengacaranya keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 15.16 WIB.

Moeldoko menyebut, kedatangannya sebagai warga negara yang baik mengikuti prosedur kepolisian untuk memberi keterangan yang dibutuhkan penyidik.

“Saya selaku warga negara yang baik mengikuti prosedur dan aturan yang telah ditetapkan atau standar yang ditetapkan kepolisian,” ujar Moeldoko.

Pelaporan Moeldoko terhadap dua peneliti ICW bergulir sejak dia membuat laporan polisi pada medio September 2021.

Dia melaporkan dua peneliti ICW Egi Primayoga dan Miftahul Huda ke Satuan Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri berkait dugaan fitnah dan pencemaran nama baiknya.

Menurut Moeldoko, dia tidak serta merta melaporkan dua peneliti ICW itu. Tetapi sudah memberi kesempatan mereka untuk meminta maaf dan mencabut pernyataannya berkait “pemburu rente”.

Kesempatan itu, kata Moeldoko, telah diberikan sebanyak tiga kali, namun sampai laporan dia buat, mereka tidak meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

Moeldoko sempat layangkan somasi terakhir

Moeldoko sempat layangkan somasi terakhir melalui kuasa hukumnya, Otto Hasibuan, sebelum laporkan ICW ke polisi.

Kuasa hukum menyebut dalam surat somasi itu meminta peneliti ICW meminta maaf dan mencabut pernyataannya dalam rentang waktu 5×24 jam atau lima hari. Karena diduga mencemarkan nama baik.

Otto mempertanyakan kepada ICW terkait sumber data dan klaim hasil penelitian terkait polemik promosi Ivermectin.

Menurutnya, jika berdasarkan penelitian harus ada metodologinya dan ada pihak yang diwawancarai.

Namun, tidak ada pihak yang diwawancarai. Karena itu, Otto menilai ICW hanya membuat analisis berdasarkan sumber dari media.

Ia mengaku mendapatkan bukti-bukti ICW berniat melakukan pencemaran nama baik.

“ICW sempat mengatakan terdapat misinformasi dalam polemik promosi Ivermectin,” sebutnya.

Namun, Otto menilai ICW telah mengakui adanya kesalahan tetapi tidak justru meminta maaf. (****)

Baca juga: Kepala Staf Presiden Moeldoko Segera Laporkan ICW ke Kepolisian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post