Mente Olahan Desa Jono Kalora Butuh Dobrakan, Ini Alasannya

0
184
Mente Olahan Desa Jono Kalora Butuh Dobrakan, Ini Alasannya
Kades Jono Kalora, Rais G Bua (Foto: gemasulawesi)

Parimo, gemasulawesi.comMente olahan Desa Jono Kalora Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) butuh dobrakan inovasi.

Alasannya, petani buah mente Desa Jono Kalora lebih suka untuk menjual mentah buah mente dibandingkan dengan mengolahnya terlebih dahulu. Pengolahan buah mente butuh proses panjang, yang membuat warga desa cepat jenuh.

“Alat pengolahan buah mente yang dimiliki warga desa masih kurang memadai. Sehingga, petani butuh dobrakan alat olahan yang lebih efektif,” ungkap Kades Jono Kalora, Rais G Bua, di kediamannya, Jumat, 26 Juli 2019.

Ia melanjutkan, petani buah mente Desa Jono Kalora pernah dijanji Disperindag Parimo, bantuan alat produksi mente olahan. Namun, sudah empat tahun semenjak Tahun 2016 hingga saat ini belum juga teralisasi.

Perlu bantuan semua pihak, baik dari Pemda dan Pemdes untuk mengembangkan produk inovasi mente olahan. Kelompok tani mente sudah pernah dilatih sebelumnya. Pelatihan mente olahan menaikkan nilai tambah.

Kemudian, dibutuhkan karakter yang lebih baik dari petani agar mampu bekerja keras agar dapat merubah kondisi ekonomi warga.

“Pengolahan buah mente kemasan setengah jadi dapat dihargai Rp 80000 per kilo. Dibandingkan dengan penjualan mentah buah mente yang dihargai jauh dibawah harga, mencapai Rp 8000,” jelasnya.

Produk olahan mente setengah jadi Desa Jono Kalora kata dia, pernah medapat pesanan dari Surabaya, Manado dan Jakarta yang dapat mencapai 30 sampai 80 Ton.

Sehingga, pihaknya butuh alat olahan efektif yang bisa memangkas waktu produksi. Contohnya, alat pengupas biji mente yang lebih modern.

Ia menambahkan, apabila waktu produksi dapat dipangkas, maka berbagai produk olahan dapat dikelola. Misalnya, produk olahan kacang mente goreng kemasan ataupun olahan coklat seperti silverqueen.

“Kami saat ini telah memiliki alat press plastik kemasan, guna mendukung penjualan produk hasil olahan. Tinggal alat penunjang produksi lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, usaha konfirmasi kepada pejabat berwenang Disperindag Parimo, terkait kebutuhan bantuan alat petani mente, sampai saat ini belum berhasil didapatkan.

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan