Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Menkes: Manajemen Stok Vaksin Dilakukan Pusat, Bukan Daerah

Menkes: Manajemen Stok Vaksin Dilakukan Pusat, Bukan Daerah
Foto: Illustrasi vaksin covid19.

Gemasulawesi- Menkes meminta Pemda segera menyuntikan vaksin kepada masyarakat, tanpa khawatir ketersediaan vaksin. Sebab, menurutnya manajemen stok vaksin dilakukan pemerintah pusat, bukan daerah.

“Kekhawatiran Pemda soal stok vaksin dosis kedua, menyebabkan stok cukup banyak sekitar 25 juta dosis vaksin ada di daerah,” ungkap Menkes Budi Gunadi Sadikin, saat konferensi virtual Kemenkes bertema Update Ketersediaan Vaksin Covid19, Selasa 24 Agustus 2021.

Pihaknya mengakui, memang masih perlu dilakukan berbagai perbaikan terkait manajemen stok vaksin.

Baca juga: Pengadaan 3 Juta Dosis Vaksin Sinovac Telan Anggaran 633 milyar

Misalnya, vaksin untuk suntikan dosis kedua, ternyata digunakan saat suntikan dosis pertama.

Bahkan, sebaliknya peruntukan penyuntikan pertama, sebagian ditahan untuk suntikan kedua. 

Selain sengaja menahan stok vaksin kata dia, pihaknya mencatat ada juga daerah memang tidak memiliki stok vaksin.

Baca juga: 291 Ribu Warga Sudah Ikuti Vaksinasi di Sulawesi Tengah

Sebenarnya kata dia, pengiriman vaksin dari provinsi mungkin butuh sehari atau dua hari untuk tiba di kabupaten/kota. Tetapi, pihaknya tidak menampik ada juga vaksin tertahan bahkan lebih dari sepekan lamanya.

“Oleh karena itu, kami membuat transparansi dengan membuka stok nasional sampai ke level kabupaten/kota. Ini ada di website vaksin.kemkes.go.id, ada menunya di kanan atas,” ujarnya.

Baca juga: Pemerintah Indonesia Target Vaksinasi 100 Juta Dosis

Situs Kemenkes bisa diakses cari info vaksinasi

Dia menuturkan, situs vaksinasi website dari Kemenkes itu berisi tentang proses vaksinasi, hingga stok vaksin.

Menurutnya, data stok vaksin bisa dengan mudah diakses baik Pemda, aparat, Dinas Kesehatan, termasuk wartawan.

Sehingga kata dia, masyarakat bisa membantu Kemenkes mengontrol secara transparan di kabupaten/kota mana saja stoknya tinggi dan kabupaten/kota mana dengan stoknya terendah.

Bahkan, pihaknya tidak menutup kemungkinan data ini tidak 100 persen online, karena data ini membutuhkan disiplin seluruh aparat Pemda untuk memperbarui datanya di sistem Kemenkes SMILE. 

“Kami akan menggunakan data basement ini untuk pengiriman vaksin berikutnya. Karena kalau kelihatan masih ada stok maka kami tidak kirim, habiskan dulu persediaannya,” kata dia.

Baca juga: Covid Poso Sulawesi Tengah Meningkat, Manajemen Akan Tutup RSUD

Dia pun menegaskan, pembaruan data akan sangat penting. Sebab, Kemenkes ingin mengetahui stok vaksin di setiap daerah masih tinggi atau tidak.

Kemudian update data menjadi penentu pengiriman. Pihaknya mengklaim, data di SMILE ini membuat sistem lebih transparan dan bisa saling kontrol.

Oleh karena itu, pihaknya berharap Pemda segera briefing dengan Dinas Kesehatan provinsi sepekan sekali, atau dua pekan sekali.

Kemudian, Kemenkes berharap data-data ini bisa digunakan seluruh masyarakat, hingga aparat di daerah untuk mengetahui kondisi stok vaksin. (***)

Baca juga: Berlaku Mulai 24 Agustus, Level PPKM di Daerah Turun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post