2Banner GIF 2021

Learning Loss: Efek Kehilangan Satu Tahun Pembelajaran

Learning Loss: Efek Kehilangan Satu Tahun Pembelajaran
Foto: Mendikbud-Ristek, Nadiem Makarim. Learning Loss: Efek Kehilangan Satu Tahun Pembelajaran.

Gemasulawesi– Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknolgi (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim sebut hilangnya pengetahuan anak atau learning loss merupakan efek kehilangan satu tahun pembelajaran.

Anak-anak di Indonesia kata dia, kehilangan satu tahun pembelajaran sebagai efek Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat pandemi virus Corona.

“Semua riset kita telah membuktikan anak-anak Indonesia telah kehilangan satu tahun pembelajaran. Mau buat PJJ atau tidak. Bagi yang PJJ rata-rata kehilangan satu tahun pendidikan,” ungkap Nadiem saat rapat di rumah dinas Gubsu Edy Rahmayadi, Medan, Senin 25 Oktober 2021.

Baca juga: Fenomena Belajar Daring, Menikah Dini hingga Frustasi di Kota Palu

Ia mengatakan, dampak dari kehilangan pembelajaran ini bisa permanen. Hal yang mungkin saja terjadi adalah hilangnya learning loss.

“Dampak ini bisa sekali permanen, dan bisa menciptakan, kalau tidak berhentikan secepat mungkin, dengan aman, ini bisa menciptakan learning loss terbesar dalam sejarah Indonesia. Karena belum pernah selama ini,” ucapnya.

Pandemi ini kata dia, juga mengakibatkan sejumlah anak terpaksa putus sekolah. Ia juga menyebut, sejumlah sekolah swasta mengeluh, banyak siswa tidak membayar uang sekolah karena dilakukannya PJJ selama ini.

“Seperti arahan Presiden, prioritasnya adalah segera mengakselerasi vaksinasi, menjaga protokol kesehatan yang ketat, tetapi sekolah harus tatap muka,” tuturnya.

Olehnya, Nadiem terus meminta agar sekolah tatap muka segera dilakukan meski pandemi virus Corona belum berakhir. Nadiem beralasan PJJ dapat berdampak luar biasa terhadap siswa.

Hal itu disampikan Nadiem saat rapat bersama Gubsu Edy Rahmayadi, dan sejumlah kepala daerah di Sumut.

Untuk itu Nadiem meminta agar segera dilakukan sekolah tatap muka termasuk untuk tingkat SD dan PAUD. Dia pun menilai anak-anak di tingkat SD dan PAUD  yang paling membutuhkan PJJ. Meskipun peserta didik, tidak boleh divaksinasi, mereka adalah yang paling rentan mengalami penurunan dampak permanen dari PJJ.

“Mereka yang paling membutuhkan tatap muka, malah kebalikannya dari Universitas dan SMA. Semakin muda semakin butuh sekolah tatap muka. Jadi harapan kami adalah Sumatera Utara itu mengakselerasi,” paparnya.

Diketahui, pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas telah dibolehkan oleh pemerintah pusat. Kegiatan itu dapat dilaksanakan jika daerah sebagai pelaksanana, telah berada di level 1,2,3 penerapan Pemberlakukan Pengurangan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (***)

Baca juga: Mendikbud-Ristek: 2022 Pagu Anggaran Turun, Program Tetap Jalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post