Kamis, April 15, 2021

Laskar FPI Pengawal HRS Disebut Miliki Senjata Api, Munarman: Itu Fitnah Besar

Must read

Berita Nasional, gemasulawesi- Sekretaris Umum DPP FPI, Munarman membantah keras ada anggota FPI yang membawa senjata api dan senjata tajam saat mengawal Habib Rizieq Shihab (HRS) menuju lokasi pengajian keluarga. Menurutnya, itu adalah fitnah besar yang dilayangkan kepada laskar FPI.

Ia menegaskan dalam konfrensi pers yang digelar di markas DPP FPI Senin 7 Desember 2020. Saat itu kata dia, dalam pengawalan ada tiga orang balita dan dua bayi serta perempuan dalam rombongan keluarga HRS saat perjalanan menuju pengajian keluarga diluar kota Jakarta, dikawal empat mobil laskar.

Baca juga: Satu Polisi Parimo Tertembak di Kotaraya

“FPI tidak punya akses terhadap kepemilikan senjata api, silahkan pihak berwajib untuk mengecek nomor register senjata yang disitanya apakah benar itu milik anggota kami yang syahid?” tegasnya.

Lanjut dia, dalam perjalanan itu ada yang mengikuti sejak keluarnya HRS dari sentul, tiba-tiba para penguntit itu berupaya memotong rombongan. Tentu saja kata dia, laskar yang mengawal langsung memberikan respon melindungi.

Baca juga: Demo Aliansi Muslim Poso Sulteng, Tuntut Keadilan Korban Salah Tembak Polisi

Dijelaskannya, justeru rombongan HRS yang diihadang oleh OTK, dikatakan OTK karena pihak penghadang menggunakan baju biasa bukan pakaian seragam.

“Itu reaksi normal, karena mereka memang bertugas menjaga kemananan HRS. Tapi dikatakan terjadi tembak menembak itu fitnah besar, laskar kami tidak dibekali dengan senjata api. Kami bukan pengecut dan sudah terbiasa menghadapi masalah dengan tangan kosong” ungkapnya dengan nada tegas.

Baca juga: Badan POM Kawal Keamanan Khasiat dan Mutu Vaksin Covid 19

Awalnya kata Munarman, pihaknya menganggap keenam orang laskar FPI itu hilang sehingga mengeluarkan pengumuman pada pagi hari secara resmi terkait berita kehilangan tersebut.

Kemudian diketahui meninggal dunia setelah pihak kepolisian mengumumkan secara resmi melalui media.

“Hingga saat ini kita belum tahu keberadaan enam laskar itu dimana, bahkan jenazahnya hingga saat ini juga belum diketahui keberadaannya. Itu membuktikan mereka dibantai. Kalau benar terjadi tembak menembak harusnya tewasnya ditempat dong?” urainya.

Baca juga: Fadli Zon: Pemerintah Harus Rangkul Habib Rizieq Shihab

Diungkapkannya, pihaknya sudah mengecek di pintu tol kerawang timur bersama anggota FPI lainnya dan dipastikan tidak ada keramaian dan jenazah di lokasi itu.

“Yang ada justeru petugas aparat setempat. Kami langsung lakukan pengecekan begitu mendapatkan informasi laskar ada yang kena tembak. Dan tidak ada mobil laskar disitu. Jika benar ada tembak menembak dan tewas ditempat pasti membutuhkan waktu untuk melakukan evakuasi,” paparnya.

Lanjut, kepada sejumlah wartawan dalam konfrensi persnya Munarman menyampaikan fakta adanya voice note rintihan dikirim oleh salah satu laskar yang ditembak.

Artinya kata dia, laskar FPI yang meninggal sempat dibawa kesuatu tempat dan dibantai saat itu juga.

Menurut Munarman, sejak kedatangan HRS sudah selalui dikuntit atau dimata matai oleh orang tertentu entah untuk tujuan apa.

“Kurang lebih ada tiga puluh orang yang memata-matai beliau 24 jam, ada di mega mendung bahkan hingga di Petamburan kediaman beliau dan sentul,” ungkapnya sambil menunjukkan kepada sejumlah wartawan lokasi pengintaian di petamburan.

Kronologis Versi Kepolisian

Sebelumnya dikutip dari detik.com enam dari 10 pengikut HRS tewas ditembak polisi di Tol Jakarta-Cikampek dini hari tadi. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan, keenam pengikut HRS ditembak karena melakukan perlawanan.

“Sekitar pukul 00.30 WIB di jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50 telah terjadi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB,” jelas Fadil Imran yang didampingi Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin 7 Desember 2020.

Fadil Imran menjelaskan, pihaknya melakukan penyelidikan setelah mendapat informasi adanya rencana pengerahan massa mengawal HRS terkait pemeriksaan hari ini. Polisi kemudian menyelidiki informasi tersebut.

Pada saat di tol, kendaraan petugas dipepet dan diberhentikan oleh dua kendaraan pengikut HRS. Pengikut HRS juga disebut melawan polisi dengan menodongkan senjata api dan senjata tajam berupa samurai, celurit kepada anggota.

Karena membahayakan keselamatan jiwa petugas pada saat itu, kemudian petugas melakukan tindakan tegas dan terukur sehingga 6 orang meninggal dunia. Sementara 4 orang lainnya melarikan diri.

“Anggota yang terancam keselamatan jiwanya karena diserang, kemudian melakukan tindakan tegas dan terukur sehingga terhadap kelompok yang diduga pengikut MRS yang berjumlah 10 orang, meninggal dunia sebanyak 6 orang,” kata Fadil Imran.

Untuk kerugian petugas berupa kerugian materil yaitu kerusakan kendaraan karena ditabrak pelaku dan adanya bekas tembakan pelaku pada saat di TKP.

Baca juga: Dua Warga Parigi Tengah Parimo Positif Virus Corona

Laporan: Muhammad Irfan Mursalim

Sebagian Naskah Bersumber dari detik.com

- Advertisement -spot_img

More articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest article