Beranda KuTu Korupsi Dana Bencana Diancam Hukuman Mati (II)

Korupsi Dana Bencana Diancam Hukuman Mati (II)

Berbeda dengan materi sebelumnya, kali ini materi mulai difokuskan sesuai dengan materi workshop akuntabilitas penanganan bencana.

Korupsi yang bisa mendapatkan hukuman mati berdasarkan UU Tipikor adalah koruptor dana bencana. Itulah pembukaan materi dari Trainer Ahmad Arif. Hukuman mati itu layak diberikan kepada pelaku korupsi dana bencana, mungkin karena disetarakan sebagai ‘penjahat kemanusiaan’.

Materi Ahmad Arif mengalir dengan lancar dipaparkan, ternyata beliau juga salah satu investigator berita terkait kegagalan peringatan dini tsunami di Sulawesi tengah beberapa waktu lalu.

Ia menggambarkan, posisi rawan korupsi itu ada pada tingkat tanggap darurat bencana. Apalagi, dalam masa tanggap darurat yang selalu diperpanjang tanpa alasan yang jelas.

Saya sepakat dengan pernyataan Ahmad Arif, tanggap darurat bencana adalah bagian paling penting yang sering terlewatkan oleh kita pewarta ini.

Kita lebih cenderung mengawasi aliran dana paska bencana. Itupun porsinya tidak seketat saat kita memperlakukan kasus korupsi lainnya.

Dicontohkan, pembangunan shelter yang banyak mangkrak sehingga berakibat meruginya negara. Kondisi itu tidak terlewatkan oleh Tempo, mereka tetap mengawal dari pusat bahkan terjun langsung kedaerah jika diperlukan. Dalam rangka melengkapi data dan sumber sebagai unsur penting pemberitaan.

Mencermati materi Ahmad Arif, ia juga sempat memberikan contoh OTT KPK di kementerian PUPR ternyata salah satu yang dikorupsi adalah bantuan untuk bencana di Sulawesi tengah.

Kasus dugaan korupsi dana bencana juga terjadi di Lombok. Dimana hasil investigasi menunjukkan kementerian agama di Lombok barat memeras dinas Pendidikan dan kontraktor terkait proyek rehabilitasi sekolah terdampak gempa.

Bahkan, rehabilitasi masjid terdampak gempapun turut di korupsi. Pesan moral apa yang ingin disampaikan oleh pemateri terkait contoh prilaku tersebut? Sedemikian rentannya dana bencana alam ini dikorupsi.

Ahmad Arif dimata saya, adalah pemateri yang sangat serius dalam memaparkan materinya. Jarang terlihat senyum walaupun sebenarnya orangnya cukup ramah dan familiar.

Caranya menyampaikan materi mudah dimengerti, sesekali juga dilemparkannya ke forum untuk mengeluarkan pendapat maupun kendala di lapangan dalam peliputan.

Kembali ke materi workshop, saya sempat sedikit fokus pada ‘tanggap darurat’ menurutnya fase itu sangat rumit menelusurinya.

Saya jadi teringat dengan kasus dugaan korupsi tanggap darurat 23 titik di Kabupaten Parigi moutong yang hingga saat ini seperti terkubur oleh waktu.

Menurut trainer Ahmad Arif, memang sulit membuktikan dan menginvestigasi dugaan korupsi pada tanggap darurat bencana.

Ia menyarankan, sebaiknya memulai investigasi pada persoalan distribusi bantuan. Itu lebih mudah ditelusuri karena semua data pendukung yang dibutuhkan mudah ditemukan.

Hingga saat ini kata dia, belum ada kasus terkait tanggap darurat yang tertangkap bahkan di KPK sekalipun.

Fase berikut yang dibahasnya adalah paska bencana. Paska bencana, menurutnya adalah fase yang paling berpotensi besar indikasi korupsinya. Karena, didalamnya mengalir dana yang sangat besar. Tidak hanya bersumber dari pemerintah. Tetapi juga melibatkan swasta didalamnya.

Sementara untuk fase pra bencana, disana kata dia, banyak kegiatan bersifat pengadaan barang dan jasa. Tentu juga perlu pengawasan, dan menarik untuk menjadi target investigasi.

Hal menarik lainnya dalam penyaluran dana bencana adalah, mengawasi penyaluran dana publik yang telah dikumpulkan.

Sayangnya, hingga saat ini kita belum miliki aturan yang jelas bagaimana mengaudit pengumpulan dan penyaluran dana publik. Itu tentu akan membuat jadi sulit saat kita ingin membidik terkait dana publik.

Intinya, terkait bantuan bencana adalah hal penting untuk diawasi, karena menentukan hajat hidup orang banyak didalamnya.

Bisa jadi, akibat dikorupsi maka berakibat tidak terselamatkannya korban bencana.

Sebenarnya, masih Panjang materi Ahmad Arif yang bisa saya tuangkan dalam tulisan. Tapi saya pikir cukup sampai disini dulu sesi tulisan yang ini. Karena masih banyak materi menarik lainnya akan saya tulis. Besok, mungkin saya masuk pada materi yang dibawakan oleh Mardiyah Chamim. Beliau adalah sosok paling energik dan Supel diantara trainer lainnya. Penampilannya juga gaul, dengan ciri khas selendang diselempang di leher dan tak lupa dengan pengikat kepalanya. Ditunggu ya, pemaparan Mardiyah Chamim yang akan saya tulis besok.

Baca Juga: Difasilitasi AJI Palu, ‘Mengintip’ Dapur Redaksi Tempo (I)

Laporan: Muhammad Irfan Mursalim

Tinggalkan Balasan

Must Read

Meraih Poin 300 Di Motorland Aragon, Marquez Mendekati Gelar Juara Keenam MotoGP

Parimo, gemasulawesi.com- Meraih poin 300 di sirkuit Motorland Aragon, Marc Marquez mendekati gelar juara keenam MotoGP. Pasca kemenangan dominan di MotoGP Aragon 2019, The Baby...

Gempa Bumi Magnitudo 6,4 Maluku Tenggara Barat, Tidak Berpotensi Tsunami

Parimo, gemasulawesi.com- Gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Maluku Tenggara Barat, BMKG menyebutkan gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. BMKG mencatat pada Minggu, 22 September...

Mutiara Hitam Seri Pendekar Pulau Es

Mutiara Hitam adalah lanjutan dari seri Cinta bernoda darah. Mutiara hitam akan menceritakan bagaimana kisah akhir dari pendekar Suling Emas. Sinopsis Mutiara hitam: Jalan kecil itu...

Tepat Pilih Ban, Marquez Raih Pole Ke Sembilan MotoGP 2019

Parimo, gemasulawesi.com- Strategi pemilihan ban yang tepat pada kualifikasi MotoGP Aragon, membuat Marc Marquez meraih pole ke sembilan musim 2019. Pembuktikan strategi The Baby Alien...

The Reds Lebih Diunggulkan Jelang Laga Chelsea vs Liverpool

Parimo, gemasulawesi.com- Jelang laga pekan keenam Liga Inggris Chelsea vs Liverpool, The Reds selaku tim tamu diunggulkan mendulang tiga poin. Laga Premier League Chelsea vs...