Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Kementerian PPPA Temukan Hambatan Implementasi Pendidikan Inklusif

Kementerian PPPA Temukan Hambatan Implementasi Pendidikan Inklusif
Foto: Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar.

Gemasulawesi- Kementerian PPPA menyebut implementasi pendidikan inklusif pada sekolah penyelenggara dibeberapa wilayah di Indonesia masih menemui hambatan.

“Kami temukan itu berdasasarkan hasil monitoring dan pantauan hasil pada 2021 melalui kegiatan Evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak,” ungkap Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar, saat membuka Bimbingan Teknis Perlindungan Anak Penyandang Disabilitas di Satuan Pendidikan secara virtual, Jumat 10 September 2021.

Menurut dia, hambatan implementasi pendidikan inklusif itu meliputi terbatasnya aksesibilitas, guru pembimbing khusus yang menangani anak penyandang disabilitas.

Baca juga: Parimo Kembali Raih Penghargaan KLA Tingkat Pratama

Kemudian, sarana dan prasarana belum aksesibel, minimnya pemberian kesempatan berpartisipasi, dan menyampaikan pendapat, serta kerentanan mendapatkan perundungan maupun stigma, karena kondisi kedisabilitasannya.

Hambatan seperti ini kata dia, perlu untuk segera diselesaikan, karena menyangkut pemenuhan hak bagi anak penyandang disabilitas, juga hak perlindungannya dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, maupun sesama peserta didik.

Olehnya, dia mendorong seluruh penyelenggara pendidikan agar mampu memenuhi hak pendidikan anak penyandang disabilitas.

“Salah satu hak anak penyandang disabilitas adalah memperoleh pendidikan. sehingga setiap penyelenggara pendidikan harus bisa memenuhi hak mereka,” ucapnya.

Nahar mengatakan, dengan terpenuhinya hak pendidikan, maka para penyandang disabilitas akan memiliki kesempatan sama untuk menjadi setara dengan manusia lainnya. Mereka pun tidak akan lagi menjadi kaum yang termarjinalkan atau terpinggirkan.

“Mereka akan mempunyai kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup dan keluar dari kemiskinan,” kata dia.

Di samping itu, survei Indeks Perlindungan Khusus Anak terkait angka partisipasi sekolah anak melalui rasio anak usia 7–17 tahun menunjukkan, baik anak disabilitas maupun non-disabilitas yang sedang bersekolah, terjadi peningkatan 79,43 persen pada tahun 2018 menjadi 81,18 persen pada 2019.

Data Badan Pusat Statistik dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas BPS) pada 2019 mencatat jumlah anak di Indonesia mencapai 84,4 juta. Dari jumlah itu, 0,79 persen atau sekitar 650.000 di antaranya merupakan anak penyandang disabilitas.

Dia mengatakan, anak disabilitas memerlukan bantuan untuk mendukung semua aktivitasnya, sehingga mereka masuk ke dalam kaum rentan dan masuk ke dalam salah satu dari 15 kategori anak yang memerlukan perlindungan.

“Khusus dalam Pasal 59 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, yang wajib mendapatkan perlindungan Negara,” pungkasnya. (***)

Baca juga: Konvensi Hak Anak Amanatkan Pemenuhan Inklusif Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post