Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Kejagung Sebut Pengelolaan Dana Investasi PT Asabri Tidak Profesional

Kejagung Sebut Pengelolaan Dana Investasi PT Asabri Tidak Profesional
Foto: Gedung Asabri

Berita nasional, gemasulawesi- Kejaksanaan Agung RI tengah menangani perkara dugaan tindak pidana korupsi dana investasi PT Asabri pada periode 2012-2019. Ditemukan fakta reksadana tidak dikelola secara profesional dan independen.

“Sebab, pengelolaan reksadana dikendalikan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pihak pengendali,” ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 28 Juli 2021.

Pengelolaan itu, mengakibatkan kerugian keuangan negara digunakan atau dimanfaatkan Manager Investasi, mencapai Rp22,78 triliun.

Baca juga: Satu Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Asabri Kembalikan Uang

Perbuatan Manager Investasi itu dinilai telah bertentangan dengan ketentuan peraturan tentang pasar modal dan fungsi-fungsi manajer investasi, serta peraturan lainnya terkait.

 “Tim jaksa penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung telah menetapkan 10 tersangka manajer investasi dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi,” kata dia.

Kesepuluh tersangka korporasi manajer investasi yaitu PT IIM, PT MCM, PT PAAM, PT RAM, dan PT VAM. Kemudian, PT ARK, PT OMI, PT MAM, PT AAM, dan PT CC.

Para tersangka itu dikenakan Pasal 2 jo Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 3 dan Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 

Tersangka korupsi PT Asabri

Sementara dalam perkara itu, ada sembilan tersangka perorangan telah ditetapkan Kejagung sebelumnya.

Mereka adalah, Jimmy Sutopo selaku Direktur Jakarta Emiten Investor Relation dan Benny Tjokrosaputro selaku Direktur PT Hanson Internasional.

Tersangka lainnya, yaitu mantan Direktur Utama PT Asabri, Adam R Damiri dan Sonny Widjaja. Kemudian, BE selaku Direktur Keuangan periode Oktober 2008-Juni 2014 dan HS selaku Direktur periode 2013-2014 dan 2015-2019.

Ada pula IWS selaku Kadiv Investasi PT Asabri Juli 2012-Januari 2017, Heru Hidayat selaku Direktur PT Trada Alam Minera dan Direktur PT Maxima Integra, dan LP sebagai Direktur Utama PT Prima Jaringan.

Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengumumkan kerugian negara itu timbul akibat adanya kecurangan dalam pengelolaan keuangan dana investasi PT Asabri selama periode 2012-2019.

Jaksa Agung ST Burhanuddin pun menyatakan, penyidik terus mengejar aset para tersangka.

Saat ini, nilai aset disita penyidik dari para tersangka kira-kira mencapai Rp 13 triliun. (***)

Baca juga: PT Asabri Tagih Kemenkeu Hutang 6,4 Triliun Rupiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post