Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Kasus Dugaan Rudapaksa di Banyuwangi, Ayah Lapor Polisi

Kasus Dugaan Rudapaksa di Banyuwangi, Ayah Lapor Polisi
Foto: Kasus dugaan rudapaksa di Banyuwangi.

Gemasulawesi- Ayah dari gadis berusia 14 tahun di Banyuwangi mendatangi kantor Polisi setempat untuk melaporkan kasus dugaan rudapaksa terhadap anaknya, Kamis 12 Agustus 2021.

Terlapor pada kasus kasus dugaan rudapaksa itu yakni kakak ipar dan tetangganya, diduga telah melakukan aksi bejatnya selama lima bulan terhadap korban.

“Terduga pelaku persetubuhan yakni SA (43 dan SH (30), keduanya tercatat sebagai warga Kecamatan Kabat, Banyuwangi,” ungkap Kasubag Humas Polresta Banyuwangi Iptu Lita Kurniawan, di Banyuwangi, Jumat 13 Agustus 2021.

Baca juga: Supir Angkutan Logistik Dapat Tes Antigen Gratis Kemenhub-Pelindo

Berdasarkan laporan kasus dugaan rudapaksa itu, petugas Polsek Kabat kemudian langsung menangkap kedua tersangka di hari yang sama usai dilaporkan.

Menurut dia, tersangka kasus dugaan rudapaksa dijerat dengan pasal 81 Ayat (2) UU nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang.

Dia menyebut, tersangka SH merupakan kakak ipar korban. SH melakukan persetubuhan sejak pertengahan April 2021. Kebetulan tempat tinggal korban tidak jauh dari rumah pelaku.

“Awalnya tersangka datang ke rumah korban sekitar pukul 23.00 WIB,” jelasnya.

Baca juga: Usai 21 Kali Beraksi, Pelaku Pencurian di Kota Palu Tertangkap

Awal mula kasus rudapaksa terjadi

Saat bertemu korban, pelaku menyampaikan niatnya untuk melakukan persetubuhan dengan korban, dengan iming-iming boneka panda.

Tersangka memaksa korban untuk melayaninya. Setelah birahinya terpuaskan, tersangka pulang ke rumahnya.

Enam hari setelah persetubuhan itu, tersangka membelikan boneka sesuai janjinya kepada korban. Selain itu, pelaku juga beberapa kali memberi uang jajan agar korban tidak membongkar rahasia itu.

“Setelah kejadian pertama itu, secara rutin 2 kali dalam seminggu tersangka menyetubuhi korban, sampai terakhir kali persetubuhan dilakukan pada Hari Rabu, 7 Juli 2021,” jelasnya.

Sementara tersangka SA, pertama kali melakukan rudapaksa kepada korban pada akhir Mei 2021.

Mulanya pelaku merayu korban untuk melakukan rudapaksa saat bertemu di suatu tempat.

Pelaku mengiming-imingi korban dengan uang, dan berjanji akan menikahi korban jika sampai korban hamil. Keinginan pelaku SA ditolak korban.

Suatu malam sekitar pukul 23.00 WIB, tanpa sepengetahuan korban tersangka masuk ke dalam kamar korban.

Dia masuk ke rumah korban melalui lubang pada dinding rumah korban, yang terbuat dari anyaman bambu.

“Setelah tersangka bertemu dengan korban, nafsu birahi tersangka tidak terbendung dan langsung menyetubuhi korban secara paksa,” jelasnya.

Setelah melakukan rudapaksa pada korban, tersangka kemudian pulang melalui lubang dinding rumah tempatnya masuk. Sebelum pulang, pelaku sempat memberi uang sebesar Rp 100 ribu pada korban.

Sejak saat itu, setidaknya seminggu sekali pelaku menyetubuhi korban.

“Tersangka juga kembali memberikan uang kepada korban setiap kali melakukan perbuatannya,” tutupnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post