2Banner GIF 2021

Indonesia Beresiko Tinggi Terhadap Kejahatan Siber

Indonesia Beresiko Tinggi Terhadap Kejahatan Siber
Ket: ilustrasi/pikiranrakyat.com

Hukum, gemasulawesi- Survey Cybersecurity Exposure Index (ICE) menyebutkan Indonesia termasuk negara beresiko tinggi terhadap kejahatan siber. Hal itu diungkapkan, Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono dalam sebuah acara diskusi di Jakarta 9 November 2021.

Baca juga: Strategi Bela Negara Siapkan Generasi Berkualitas di Era Society 5.0

“Hasil survei Cybersecurity Indeks, kalau kita lihat Indonesia sendiri termasuk negara berisiko tinggi terhadap kejahatan siber secara global,” ungkapnya.

Teguh menyampaikan, survei tersebut melaporkan indeks kejahatan siber di Indonesia saat ini mencapai 0,62. Nilai tersebut lebih tinggi dari rata-rata global yang berkisar 0,54. Artinya Indonesia di atas rata-rata. Sehingga, kejahatan siber memang berisiko tinggi di Indonesia,” tuturnya.

Baca juga: Polisi Periksa Belasan Saksi Kasus Kejahatan Pandemi di Parigi Moutong

Untuk itu, pihaknya mendesak temuan survei ini menjadi catatan khusus bagi pihak perbankan di Tanah Air untuk terus memperkuat keamanan siber (cyber security).

“Jadi, ini merupakan catatan buat perbankan itu sendiri untuk meningkatkan keamanan cyber security,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, OJK berkomitmen memitigasi risiko siber atau cyber risk di sektor jasa keuangan sebagai dampak dari transformasi digital.

Baca juga: BSSN Buat Program Paman Kami bagi Pelaku UMKM

“Terkait dengan digitalisasi di sektor keuangan, OJK akan proaktif mengambil kebijakan untuk memitigasi risiko yang muncul dari transformasi digital tersebut. Di antaranya yang menjadi fokus cyber risk,” ujarnya dalam acara OJK Virtual Innovation Day 2021 yang dihadiri Jokowi, Senin 11 Oktober.

Wimboh membocorkan sejumlah strategi regulator dalam menghadapi cyber risk atau risiko cyber di sektor jasa keuangan. Di antaranya dengan meningkatkan koordinasi bersama lembaga penegak hukum terkait untuk menjamin keamanan data pribadi konsumen.

“Risiko keamanan data pribadi dan risiko cybersecurity menjadi fokus utama OJK melalui koordinasi dengan seluruh penegak hukum, apabila terdapat penyalahgunaan atau praktik-praktik yang tidak sesuai aturan,” ungkapnya.

Selain itu, OJK juga terus berupaya meningkatkan indeks inklusi keuangan dan literasi keuangan digital. Hal ini untuk mengatasi tantangan kesenjangan pemahaman dan tingkat awareness masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan digital. (**)

Baca juga: Disita, Obat Terapi Covid19 dan Tabung Oksigen Hasil Kasus Kejahatan Medis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post