IJK Sulawesi Tengah, ‘Kupas’ Etik Jurnalis Kredibel

Melalui IJK Sulawesi Tengah, “Kupas” Etik Jurnalis Kredibel (I)
Pelatihan IJK- Ketua AJI Sulteng, Iqbalovski Muhammad memberikan materi pada Pelatihan Etika Dalam Pemberitaan yang dilaksanakan Ikatan Jurnalistik Kriminal Sulawesi Tengah (IJK) di Hotel Amazing, Palu Sulawesi Tengah, Sabtu, 7 Desember 2019. GemasulawesiFoto/Muhammad Rafii

KuTu, gemasulawesi.com- Ikatan Jurnalis Kriminal atau IJK, saya hadir mewakili media gemasulawesi.com bersama jurnalis dari media lainnya di Sulawesi Tengah (Sulteng), berkesempatan menimba ilmu dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Sulteng dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu.

Pelatihan dengan tema “Etika Dalam Mengabarkan” dilaksanakan atas inisiasi wartawan Sulawesi Tengah untuk menambah wawasan dalam sebuah pemberitaan. Dengan fasilitas ini menjadi moment belajar lebih luas lagi.

Read More

IJK Sulawesi Tengah menghadirkan pemateri dari AJI yang dibawakan langsung Ketua AJI Sulteng, Iqbalovski Muhammad dan pemateri dari PFI Palu, Basri Marzuki.

Materi yang diterima dalam pelatihan itu, umumnya pengetahuan terkait etika jurnalistik sesuai dengan kode etik jurnalistik. Baik dari segi struktur berita dalam pemberitaannya dan segi proses peliputan sebelum rampungnya sebuah berita.

Sebelum “mengunyah” ilmu etika jurnalistik, perlu dipahami apa arti jurnalis itu sendiri. Dijelaskan, jurnalis itu Voice The Voiceless (menyuarakan yang tidak disuarakan). Jurnalis itu tidak “netral”. Harus berpihak, memihak kepada fakta dan dan kebenaran.

Jurnalis yang baik itu harus memiliki attitude atau sikap. Sikap yang baik untuk mendapatkan informasi ataupun berbagai data dari seorang narasumber.

Jurnalis itu adalah pekerjaan yang paling beresiko. Beresiko dengan “teror” yang diakibatkan dari berita yang dihasilkan. Jurnalis juga rentan dengan terkena penyakit gangguan psikologi atau sakit jiwa.

Etika jurnalistik menggambarkan betapa pentingnya keprofesionalitasan seorang wartawan dalam meliput hingga menghasilkan sebuah produk berita atau artikel yang berkualitas kepada khalayak.

Kenapa harus ada kode etik jurnalistik? Pertanyaan itu muncul dalam ulasan pelatihan yang semakin mendalam. Sementara, atribusi jurnalis melekat penuh selama 24 jam penuh kepada pribadi seorang jurnalis.

Jawaban mengapa harus ada kode etik jurnalistik adalah produk jurnalis merupakan salah satu produk yang “berbahaya” memiliki sifat berdampak luas. Dampaknya bisa positif ataupun sebaliknya.

Sehingga, perlu ada “rambu-rambu” bagi pewarta. Tujuannya untuk mampu menghasilkan produk berupa artikel ataupun berita berbobot dan kredibel.

Apa saja “rambu-rambunya”? Misalnya diterangkan, informasi yang diterima seorang wartawan mesti terlebih dahulu dikonfirmasi dengan baik kepada sumber yang kredibel. Kemudian, melakukan validasi, verifikasi dan afirmasi data.

Kenapa harus ada rambu-rambunya? Jelas alasannya. Karena jurnalis itu adalah trust industri. Kepercayaan adalah modal utamanya. Terutama terpercaya dengan data dan informasi yang dimiliki seorang jurnalis, sebelum melakukan konfirmasi kepada narasumber.

Baca juga: Duet Arifin dan Rifai, Antar Dinas PUPR Parimo Makin ‘Terpuruk’

Laporan: Muhammad Rafii

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.