2Banner GIF 2021

Gempa 7,4 SR, Sulawesi Utara Dan Maluku Utara Terancam Sapuan Tsunami

Gempa 7,4 SR, Sulawesi Utara Dan Maluku Utara Terancam Sapuan Tsunami
Potensi Tsunami Sulawesi Utara dan Maluku Utara (Foto: BMKG)

Sulawesi Utara, gemasulawesi.com Gempa magnitudo 7,4 yang melanda Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) membuat BMKG mengeluarkan peringatan dini ancaman sapuan tsunami, Kamis, 14 November 2019.

Rincian gempa Sulawesi Utara dan Maluku Utara, episenter pada 1,63 LU dan 126,40 BT. Tepatnya di laut pada jarak 134 Km arah Barat Laut Jailolo, Maluku Utara pada kedalaman 10 Km. Gempa bumi terjadi sekitar pukul 23.17.41 WIB.

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami berdasarkan permodelan matematis. Dengan status ancaman waspada untuk daerah Halmahera Maluku Utara, Bitung Sulawesi Utara dan Ternate Maluku Utara.

Tetap waspada bagi masyarakat yang berada wilayah pantai untuk tiga daerah permodelan potensi tsunami.

Baca juga: Banggai Sulawesi Tengah Diguncang Gempa Magnitudo 4,1

Sampai saat ini BMKG belum mencabut status tsunami di wilayah tersebut. Terus monitor informasi resmi dari instansi yang berwenang seperti BMKG dan BPBD.

BMKG juga menjelaskan berdasarkan skala MMI berikut informasi yang dapat dipelajari:

I MMI berarti getaran gempa bumi tektonik tidak dapat dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.

II MMI, getaran atau goncangan gempa bumi tektonik dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung seperti lampu gantung bergoyang.

III MMI, getaran gempa bumi tektonik dirasakan nyata dalam rumah. Getaran terasa seakan-akan ada naik di dalam truk yang berjalan.

IV MMI, pada saat siang hari, gempa bumi dapat dirasakan orang banyak di dalam rumah, beberapa orang di luar rumah, gerabah pecah, jendela atau pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.

V MMI, getaran gempa bumi dapat dirasakan hampir semua orang, orang-orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang dan bandul lonceng dapat berhenti.

VI MMI, getaran gempa bumi dirasakan semua orang. Kebanyakan orang terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap di pabrik rusak ringan.

VII MMI, semua orang di rumah keluar. Kerusakan ringan akibat gempa pada rumah dengan bangunan dan kontruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retakan bahkan hancur, cerobong asap pecah. Dan getaran dapat dirasakan orang yang sedang naik kendaraan.

VIII MMI, kerusakan ringan akibat gempa pada bangunan dengan konstruksi kuat. Keretakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding terlepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen roboh, air berubah keruh.

X MMI, kerusakan pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak terjadi keretakan. Rumah tampak bergeser dari pondasi awal. Pipa-pipa dalam rumah putus.

X MMI, bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI, bangunan-bangunan sedikit yang masih berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah, pipa dalam tanah tidak dapat terpakai sama sekali, tanah terbelah dan rel sangat melengkung.

XII MMI, hancur total, gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan berubah gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post